Oleh : Fenti

Beberapa hari ini produksi tahu dan tempe sempat menghilang dari pasaran, dimana tahu dan tempe ini adalah makanan yang banyak diminati oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Bagi mereka tahu dan tempe adalah makanan dengan harga yang terjangkau untuk memenuhi kebutuhan protein sebagai pendukung tumbuh kembangnya anak. Dan hal ini pun berpengaruh besar bagi para penjual tempe dan tahu, sehingga perekonomian mereka pun menjadi menurun drastis.

Menghilangnya kedua makanan itu, dikarenakan adanya kenaikan bahan pokoknya yaitu kedelai yang di impor dari luar negeri. Ada lonjakan permintaan kedelai negara Tiongkok ke AS sebagai pengekspor terbesar dunia, sehingga ke negara lain termasuk Indonesia mengalami kendala, tentunya selain kendala distribusi karena Pandemi.

Kedelai impor tidak bisa diganti dengan kedelai lokal, karena para petani kedelai tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tingginya biaya produksi sehingga para petani kedelai hanya mampu 10% saja dalam mencukupi kebutuhan, sisanya yang 90% berasal dari import. Dengan demikian naiknya harga barang yang diimpor menjadi masalah yang tidak bisa dicari solusinya oleh pemerintah terhadap kemandirian bangsa ini dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan suatu barang.

Kalau melihat dari luas tanah, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan akan pangan secara mandiri, namun sayang lahan tanah banyak dimiliki oleh korporasi. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menyatakan 82 persen lahan di Indonesia dikuasai oleh korporasi besar (22/3). Wajar kalau akhirnya negara tidak bisa mengoptimalkan penanaman kedelai. Sehingga solusi cepat yang diambil adalah impor.

Lantas bagaimana Islam menyelesaikan pemenuhan pangan bagi masyarakat?

Islam sebagai agama paripurna, mempunyai visi mewujudkan kemandirian pangan. Bagaimanapun, pangan adalah kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi oleh negara, sehingga negara harus melakukan segala upaya untuk merealisasikannya. Salah satunya adalah dengan menghidupkan tanah-tanah mati. Negara akan memberikan tanah mati kepada orang yang mampu mengelolanya.
Rasulullah Saw bersabda ” Siapa saja yang menghidupkan tanah mati maka tanah itu menjadi miliknya” ( HR Tirmidzi, Abu Dawud)

Negara pun akan memberikan modal yang diperlukan bagi yang tidak mampu, sebagai hibah bukan hutang, supaya mereka bisa membeli semua kebutuhan untuk meningkatkan produksi. Negara pun akan menetapkan mekanisme pasar yang selaras,bukan dengan pematokan harga.

Eksport import pun negara mengaturnya. Dimana ekspor dilakukan apabila pasokan pangan negara terpenuhi dan surplus. Dan import dilakukan sesuai kebutuhan dan aturannya. Demikianlah Islam mengatur pemenuhan kebutuhan pangan termasuk kedelai di masyarakat. Seperangkat aturan ini hanya akan bisa terwujud jika Islam dijadikan sebagai sebuah sistem dalam kehidupan. Sehingga menjadi kewajiban bagi umat Islam seluruhnya segera mewujudkan sistem Islam dalam kehidupan.