Oleh: Siti Kuraesin

Sebagai salah satu konsumen tahu tempe yang kemudian saya jual kembali menjadi lauk pauk, langkanya ke dua pangan ini lumayan membuat saya keteteran karena penghasilan sehari-hari saya dari situ. Setelah bertanya-tanya ke penjual sayur di pasar pasca tahun baru kemarin, ternyata bahan baku ke dua pangan ini sedang susah.
Beberapa berita juga mengutip kelangkaan bahan baku pangan,
“Sejak tahun baru ini, saya nggak ketemu lagi sama tahu tempe di pasar. Saya juga baru tau kalau ada mogok kerja dari yang bikin (produsen) “, kata salah satu konsumen, minggu (03/01/21) Merdeka.com

Handoko Mulyo sebagai Sekretaris Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe ndonesia (PUSKOPTI) DKI Jakarta mengabarkan ketiadaan 2 pangan ini di pasaran merupakan imbas dari bentuk protes terhadap kenaikan harga kedelai dari Rp. 7.200 menjadi Rp. 9.200 per kilogram (kg).
Indonesia merupakan negara agraris dengan konsumsi kedelai terbesar di dunia setelah China. Sebagian besar kedelai terserap untuk kebutuhan produksi tahu dan tempe. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor kedelai Indonesia sepanjang semester-1 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai dengan 510,2 juta dollar AS atau sekitar Rp. 7,24 triliun (kurs Rp. 14.200), sebanyak 1,14 ton di antaranya berasal dari Amerika. Produktivitas kedelai di Indonesia berkisar ½ dari produktivitas kedelai di AS.

Keadaan demikian cukup miris dan berdampak pada pedagang juga rakyat Indonesia, dimana seharusnya negeri kita ini berkecukupan dalam hal pangan, ternyata bisa mengalami kelangkaan bahan pangan setiap terjadinya inflasi.

“Selain itu, keuntungan perhektar ditingkat petani masih lebih kecil di bandingkan dengan jagung atau padi. Akibatnya, petani lebih memprioritaskan lahannya untuk menanam jagung dan padi”. Ucap Made, sabtu (03/01/2021) w.w.w.kompas.tv

Kedelai lokal unggul dari impor dalam hal bahan baku pembuatan tahu. Rasa lebih lezat dan resiko terhadap kesehatan cukup rendah karena bukan bahan transgenik. Sementara kedelai impor sebaliknya. Jadi sekalipun unggul sebagai bahan baku tahu, kedelai lokal punya kelemahan untuk bahan baku tempe.
“Ya, petanikan rasional, daripada menanam kedelai ya lebih baik menanam padi dan jagung. Kecuali, ada intervensi khusus dari pemerintah. Nah, itu lain lagi ceritanya”. Ucap Made lagi

Berkuasanya rezim neoliberal di negeri ini berhasil mengoyak kedaulatan pangan. Yang sebenarnya jika dengan keseriusan, pemerintah bisa menghentikan ketergantungan impor, serta menstabilkan naik turunnya harga pangan. Tapi, faktanya saya pikir pemerintah acuh terhadap hal demikian. Inilah pengaturan Kapitalisme yang berorientasi profit, bukan kemaslahatan rakyat, sehingga kemandirian pangan negara tidak akan terealisasi.

Dan ini yang terjadi ketika peran pemerintah hanya sebatas pembuat dan pemutus Undang-Undang, pemerintah dan rakyat layaknya penjual dan pembeli bukan sebagai pengurus dan pelindung.

Islam punya solusi tersendiri untuk memakmurkan kedaulatan rakyat. Dalam khilafah, negara hadir sebagai penanggung jawab hajat rakyat, termasuk dalam pemenuhan pangan yang merupakan kebutuhan asasi. Islam memiliki konsep yang terstruktur dalam pengolahan pangan, yaitu visi mewujudkan kemandirian pangan dan jaminan pasokan pangan untuk rakyat.

Islam memandang pangan sebagai salah satu kebutuhan dasar yang wajib di penuhi oleh negara, maka negara dalam khilafah akan melakukan beragam cara untuk merealisasikannya.
Seperti peningkatan produktivitas lahan dan produksi pertanian sehingga tidak akan ada lahan kosong dalam Islam, setiap lahan yang kosong akan menjadi milik orang yang menghidupakannya.

Rasulullah SAW bersabda,
“Siapa saja yang menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya”. (HR Tirmidzi, Abu Dawud). Wallahu’alam