Oleh: Sunaini, S.Pd (Aktivis Muslimah Kota Batam)

Fakta dan Faktor Penyebabnya
Sudah kesekian kalinya peristiwa kekerasan seksual terjadi. Mulai dari kalangan anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa. Motif kekerasan seksual inipun beragam dan masih banyak kasus yang tidak terekspos di jagad maya, seperti halnya gunung es.

Seperti halnya diberitakan, Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nahar mengatakan, sejak Januari hingga 31 Juli 2020 tercatat ada 4.116 kasus kekerasan pada anak di Indonesia. Menurut dia, dari angka tersebut yang paling banyak dialami oleh anak adalah kekerasan seksual, Kompas.com. (24/08/20).

Sebagaimana juga dikutip dari laman VIVA, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) tentang hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. PP itu tertuang dalam Nomor 70 Tahun 2020 yang ditetapkan per 7 Desember 2020. Viva.co.id (03/01/21).

Berdasarkan fakta di atas, kita pahami dulu makna kebiri, merupakan sebuah tindakan yang dilakukan secara kimiawi atau memutus kelenjar kelamin seksual sehingga hormon seksual nya tidak muncul lagi. Sedangkan predator seksual adalah perbuatan yang secara sadar atau tidak melakukan pemerkosaan untuk memuaskan nafsu birahinya. Hukuman kebiri ini sudah pernah diterapkan oleh beberapa negara seperti Ukraina, Inggris, Amerika Serikat, Polandia, Kazakhstan, Rusia dan Indonesia.
Meskipun aturan kebiri ini sudah diterapkan oleh beberapa negara tersebut dan dianggap sebagai sanksi tertinggi, tetapi sampai sekarang perilaku kekerasan seksual masih banyak terjadi. Hal ini membuktikan bahwa hukuman kebiri yang dibuat tidak efektif untuk memberantas perilaku predator seksual.

Beberapa faktor yang menyebabkan perbuatan zina pada umumnya masih saja terjadi.

Pertama, kurangnya iman dan pemahaman islam dari lingkungan keluarga terutama peran ibu dalam menjelaskan cara menjaga diri kepada anak-anak nya.

Kedua, lifestyle sekuler yang diadopsi dari tayangan Televisi maupun tontonan dari media sosial.

Ketiga, pemikiran liberal yang menjadikan segala aktivitas bebas dilakukan.

Keempat, ekonomi kapitalis dengan mudahnya menjadikan uang sebagai alat untuk membeli kepuasan seksual dari penyedia jasa massage plus-plus atau semacamnya.

Kelima, himpitan kehidupan ekonomi yang memprihatinkan sehingga sebagian perempuan menjual harga dirinya untuk mendapatkan uang demi memenuhi kebutuhan hidup. Keenam, sanksi ringan yang belum memberikan efek jera kepada pelaku.

Dalil Larangan Perbuatan Zina

Islam sudah memberikan batasan-batasan bagaimana menjaga pandangan dan kemaluan serta aturan pergaulan untuk laki-laki dan perempuan. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wata’ala:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”(QS. An-Nur [24] : 30)

Serta juga telah Allah berikan peringatan akan larangan zina, ayat alquran tentang zina yang pertama yaitu alquran surat Al Isra’ ayat 32. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kita dilarang mendekati zina dengan melakukan hal-hal yang mengarah kepadanya apalagi pemerkosaan. Sebab zina adalah perbuatan keji yang sangat jelas keburukannya.

Jalan itu adalah merupakan jalan yang paling buruk. وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا


Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. Adapun hukuman yang mengatur bagi pelaku zina baik laki-laki maupun perempuan yang belum menikah, yakni bahwa keduanya didera seratus kali. Sedangkan yang sudah menikah, adalah dengan dirajam yakni memukul atau dicambuk kulitnya. (Q.S An Nuur:2).

Sedangkan hukuman bagi orang yang memerkosa dengan menggunakan senjata, serta mengancam, dihukumi sebagaimana perampok. Sementara, hukuman bagi perampok telah disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya


, إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَاداً أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الأَرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya, hukuman terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, adalah mereka dibunuh atau disalib, dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang (keluar daerah). Yang demikian itu, (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 33)

Islam sebagai Solusi Tunggal Maka dari beberapa dalil di atas, jelaslah Islam sudah sangat tegas mengenai hukuman bagi perilaku zina, predator seksual sekaligus perampok. Sudah seharusnya penguasa negeri serta aparat hukum kembali pada aturan Islam yang sempurna dan paripurna. Bukan dengan saksi yang rendah termasuk kebiri yang bisa dimanipulasi dan ditutupi dengan sejumlah uang.

Faktanya hingga saat ini perilaku kekerasan seksual masih terjadi belum menimbulkan efek jera. Hanya Islam satu-satunya solusi untuk menuntaskan permasalahan zina, pemerkosaan, pencabulan atau predator seksual. Tentu hal ini tidak akan bisa diterapkan tanpa adanya institusi yang menegakkan dan menerapkan aturan Islam itu sendiri. Wallahu a’lam Bisshowabb.