Oleh: Endah Husna

Sakinah Mawadah Warahmah, adalah doa yang tiap keluarga pasti panjatkan kepada Allah SWT pemilik segalanya. Namun terkadang utamanya para suami lupa, bahwa ketentraman dalam keluarga harus diupayakan, tentu selain wajib untuk terus berdoa meminta kepada Allah SWT tadi. Upaya itu adalah salah satunya mengetahui apa yang mendatangkan ketentraman itu, yakni mengikuti apa-apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi semua apa yang dilarang oleh Allah SWT, agar seluruh anggota keluarga tidak terjerumus kedalam neraka jahanam.

Inilah kewajiban yang turun langsung dari Allah SWT untuk para suami pendamba Surga, yakni yang terdapat dalam Firman Allah SWT, dalam QS. At-Tahrim ayat 6 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ayat ini turun kepada Rasulullah SAW, Imam Ja’far As-Shadiq menceritakan, seorang sahabat menangis dan berkata, “Aku tidak mampu menguasai diriku dan kini diberi beban dengan keluargaku.” Mendengar keluhan itu, Nabi SAW bersabda, “Perintahkan keluargamu sebagaimana engkau diperintahkan. Ikuti dan cegah keluargamu sebagaimana engkau dilarang mengerjakan.” Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna ayat itu, “Didiklah diri dan keluargamu dengan perbuatan baik dan saleh.” Allah Ta’ala secara tegas memerintahkan kita untuk mendidik diri sendiri dan keluarga dengan ajaran-ajaran agama. Dengan begitu, terbentuklah suatu keluarga Muslimin yang bertakwa, keluarga muslim yang cinta Allah dan cinta syariatNya.

Dampaknya bisa menjalar secara luas. Sebab, bila institusi keluarga baik, maka negara pun baik. Keluarga merupakan “negara kecil.” Dalam arti, bila ingin mewujudkan negara yang baldatun thoyyibatun wa Rabbun ghafur, maka kita harus mulai dari keluarga. Perintah ini menjadi lebih jelas bagi pihak laki-laki, yakni kepala keluarga. Pihak ini adalah pemimpin. Dan, tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.

Ingatlah sabda Rasulullah SAW: “Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin” (Muttafaqun alaihi).

Tanggung jawab juga meliputi hubungan antara orang tua dan anak. Tugas orang tua tak sekadar memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan untuk para buah hatinya. Lebih dari itu, anak-anak juga perlu kasih sayang dan didikan yang mantap, terutama dalam bidang agama. Janganlah menjadi orang tua yang terlampau sibuk dalam mengejar karier di luar rumah sehingga lalai dari mendidik anak-anak.

Jadilah orangtua yang yang rajin mengaji, belajar Agama Islam hingga tidak lalai dari mendidik anak-anak. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menasihati, “Siapa yang tidak memperhatikan pendidikan anak-anaknya, dan meninggalkannya begitu saja, maka ia sungguh telah melakukan kejelekan yang paling besar kepada mereka.” Setiap pilihan ada konsekuensinya, wahai para suami apa yang Anda pilih untuk keluarga Anda, jika memang Anda mencintai mereka? Wallahu A’lam