Episode: Tujuh Malaikat Kecil
Oleh: Maman El Hakiem

“Ayo nak…cepat makan! Jangan lupa ganti seragammu! Jangan main dulu ya!” Seorang nenek begitu cerewet saat melihat cucu-cucunya yang baru pulang dari sekolah. Empat anak, tiga keponakan dalam satu rumah. Ibu mertua dan tentunya suamiku, Mas Harun. Jadi, sepuluh orang menjadi kehidupan yang seru di rumah kami. Ibu mertua, selalu dipanggil mamah adalah sosok yang sangat memberi arti dalam kehidupan.

Bagiku, merasakan betapa sosok ibu mertua tidak ada bedanya dengan ibu kandung sendiri. Maka, kehadirannya tinggal bersama kami adalah anugerah. Empat anak kandung dan tiga anak dari kakak ipar yang dititipkan oleh Allah SWT karena mereka yatim, adalah kemuliaan. Sungguh semuanya adalah amanah yang harus dijalankan dengan baik.

Ibu mertua, awalnya merasa takut membebani tinggal di rumah kami, terlebih kehidupanku bersama suami belum begitu mapan. Tetapi, aku sebagai seorang mantunya, adalah wanita juga yang tentu akan mengalami masa usia senja saat kehidupan membutuhkan perhatian anak dan cucunya.

“Defi, maafkan ibu ya tentu banyak merepotkan tinggal bersama di rumahmu?” Tanya mamah seperti merasa bersalah atas kehadirannya.

“Mamah jangan berpikiran begitu, kami merasa bahagia bisa merawat mamah, Mas Harun tentu juga amat senang tinggalnya mamah, ya kan Mas?” Aku melirik kepada Mas Harun, suamiku.

“Benar Mah, aku dan Defi justru seperti memiliki pintu untuk memasuki surganya Allah dengan kehadiran mamah di sini.” Jawab Mas Harun.

Defi dan Harun adalah pasangan suami istri yang berbeda suku, Padang dan Sunda. Kadang ada adat kebiasaan yang berbeda mengenai kehidupan berumah tangga. Tetapi, seiring waktu mereka mampu mengatasinya, sehingga kehadiran mertua tinggal bersama serumah telah membuat hangatnya tali persaudaraan. Begitupun kehadiran tujuh malaikat kecil mampu menjadi warna kehidupan tersendiri.

Betapa serunya mereka, saat rebutan mainan, saling ledek-ledekan, musuhan sebentar lalu baikan kembali. Begitulah cermin kehidupan harusnya saat ada perselisihan harus segera saling memaafkan. Rumus bahagia anak kecil, sering marahan, tetapi segera baikan kembali. Jika ada makanan saling berbagi dan saat main lari-lari terjatuh, nangis sebentar lalu bangkit kembali. Sungguh bagaikan malaikat yang tiada dendan dan rasa putus asa.

Jika mamah tampak kesal dengan tingkah polah mereka, aku segera mendekatinya. Menasihati tujuh malaikat kecil itu untuk menurut perintah mamah. “Eh…siapa yang mau ke surga?” Tanyaku. “Kami semua mau bunda,” Jawab mereka. “Kalau begitu menuruti nasihat ibu ya…karena surga di bawah telapak kaki ibu.” Begitulah cara aku menasihati para malaikat kecil tersebut.
(Bersambung).