Oleh : Leni Setiani
Aktivis Muslimah Karawang

Indonesia mendapat ranking se Asia. Ranking ini bukanlah ranking yang dapat membanggakan negara. Namun, ranking yang diraih adalah ranking kematian tenaga medis dan kesehatan tertinggi se Asia. Bahkan Indonesia masuk dalam 5 besar kematian nakes di seluruh dunia seperti yang dituturkan oleh Adib Khumaidi selaku ketua tim mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI). (Kompas.com 2/1/2021)

Sebanyak 504 tenaga medis yang meninggal akibat terpapar virus covid-19. Diantaranya 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medis. Angka yang sangat fantastis.

Mengingat begitu besarnya peran mereka, kehilangan satu nyawa saja sudahlah sangat berharga. Dalam Islam sampai memperumpamakan bagai membunuh semua manusia seperti firman Allah dalam Q S Al-Maidah ayat 32 yang artinya : “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia”.

Tentu hal ini tidak bisa dianggap biasa. Karena jika diibaratkan sebuah medan perang, para nakes inilah prajuritnya. Perang dengan minim prajurit, besar kemungkinan akan kalah. Ditambah mendapatkan satu orang yang ahli di bidang kesehatan amatlah sulit. Biaya belajar yang mahal dan kemampuan individu yang mumpuni menjadikan nakes ini terbatas.

Jika terus dibiarkan tanpa penanganan yang bisa mengentaskan semua ini, besar kemungkinan kehancuran akan datang. Bukan hanya dari segi kesehatan, namun semua lini kehidupan. Sektor ekonomi lumpuh, pendidikan ambruk dan berbagai kekacauan lainnya.

Jika kita berkaca pada sejarah, Islam amat pesat dalam menangani suatu penyakit. Tidak sampai kepada wabah yang menjadi pandemi, penyakit sudah bisa ditangani. Karena pada masa Islam diterapkan ilmu dan fasilitas kesehatan sangat memadai.

Di masa khilafah Islam, membagi pelayanan kesehatan dalam 3 aspek yaitu pembudayaan hidup sehat, pemajuan ilmu dan teknologi kesehatan, dan penyediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan. Tentu ketiga aspek ini sangat mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat.

Kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat amatlah penting. Karena secanggih apa pun teknologi kesehatan apabila kesadaran masyarakatnya rendah tidak akan efektif. Fasilitas yang memadai dan bebas biaya pun haruslah terpenuhi karena sudah menjadi kewajiban negara meriayah (mengurusi) rakyatnya.

Banyak ilmuan lahir dari sistem Islam. Seperti Jabir al-Hayan yang menemukan destilasi, pemurnian alkohol untuk disinfektan, dan mendirikan apotik pertama di dunia. Banu Musa dengan masker gasnya, dan masih banyak lagi ilmuan muslim yang dunia sangat berjasa padanya.

Itulah sekilas gambaran sejarah kejayaan Islam yang rakyatnya sehat sejahtera. Inilah yang terjadi jika hukum Islam diterapkan. Keberadaan negara akan mengedepankan kesehatan rakyatnya sebagai suatu kebutuhan primer yang wajib dipenuhi.

Fungsi negara dalam Islam adalah sebagai pelayan rakyat. Dimana fasilitas kesehatan adalah hak publik yang harus dipenuhi. Negara harus memberikan fasilitas kesehatan secara gratis / cuma-cuma seperti yang Rasulullah lakukan dahulu. Tak memandang dari kalangan mana, miskin atau pun kaya semua digratiskan negara. Jika negara lalai melaksanakan tugasnya, maka dihadapan Allah semua akan dimintai pertanggung jawaban. Maka dari itu, alangkah gentingnya penerapan hukum Islam ditegakkan. Karena hanya dengan Islam semua persoalan dapat terselesaikan. Begitupun dengan korban yang semakin banyak berjatuhan karena terpapar virus corona. Sudah saatnya kita menanggalkan sistem ini dan menggantikannya dengan Islam.

Wallahu’alam.