Oleh : Isturia

Kita Pernah berbagi barang misal makanan, pakaian, sepatu, tas, kerudung, kue dll. Kita juga pernah berbagi informasi pastinya. Misal informasi tentang banjir, jalan berlubang, kasus narkotika dll. Setiap ada informasi baru kita biasanya sampaikan ke yang lain kepada saudara, teman, tetangga, orangtua atau yang lainnya. Tujuannya agar yang lain tahu. Itu sesuatu yang alami dilakukan sesama manusia. Berbagi info hal yg biasa. Walaupun tak ada imbalan materi. Secara otomatis keluar dari lisan kita.

Untuk sesuatu yg biasa saja kita mau menyampaikan. Bagaimana kalau sesuatu itu ada imbalannya, berupa pahala? Sesuatu itu benar dan diridhoi Allah? Apakah itu?

Berbagi informasi tentang Islam atau dengan kata lain menyampaikan Islam kepada yang lain. Wujud cinta dan kepedulian kita terhadap sesama. Inilah berbagi yang indah. Mengapa indah? Karena ketika kita menyampaikan Islam mendapat pahala. Ketika seseorang tersebut berubah menjadi lebih baik karena lisan kita, misal awalnya tidak ikut kajian remaja terus ikut. Dari kajian dapat ilmu Islam, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Awalnya sholat bolong-bolong terus rajin sholat maka kita akan mendapat pahala jariyah yang terus mengalir walaupun kita sudah tiada.

“Demi Allah, sungguh satu orang saja diberi petunjuk (oleh Allah) melalui perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari)

Unta merah adalah harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab kala itu (di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Akan muncul ptanyaan seperti ini? Saya ini baru ikut kajian remaja belum ada apa-apanya, Saya belum katam Al Qur’an, ilmu saya masih sedikit, saya bukan anak pondok pesantren. Itu biasanya hal-hal yang menghalangi kita untuk menyampaikan Islam.

Menyampaikan Islam tidak menunggu kita katam bertumpuk-tumpuk kitab, tidak harus lulusan pondok, bukan menunggu lamanya ikut kajian remaja. Tapi ini kewajiban yang harus dijalankan.
Dakwah Adalah Kewajiban Allah Swt berfirman dalam Alquran surat Annahl ayat 125, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Maka kepedulian terhadap dakwah merupakan ciri dari seorang mukmin. Rasulullah Saw mencontohkan satu perumpamaan masyarakat adalah bagaikan suatu rombongan yang sedang naik kapal, ada yang duduk dan berada di bagian atas, dan sebagian lainnya duduk di bagian bawah.

Jika orang-orang yang duduk di bawah hendak mengambil air, mereka harus melewati orang yang ada di atas. Orang yang di bawah lantas berkata “Seandainya aku lubangi saja tempat duduk milikku sendiri untuk mendapatkan air, tentu aku tidak akan mengganggu orang yang ada di atas.” Bayangkanlah, jika seluruh orang yang berada di kapal tersebut membiarkannya tentu yang tejadi adalah kebocoran kapal yang akan mengakibatkan kecelakaan bagi semua penumpang. Namun jika mereka berusaha mencegahnya, dan itu merupakkan wujud kepedulian juga kasih sayang, maka semua akan selamat mengarungi bahtera. Itulah perumpamaan dakwah. 

Ketika kita menyampaikan Islam pasti ada yang tidak senang, kita akan dicibir, dibully dan sebagainya. Karena memang secara alami seperti itu. Tidak semua orang suka dengan apa yang kita sampaikan. Tapi tidak semua orang juga benci terhadap apa yang kita sampaikan.

Walaupun hati ini sakit karena ejekan, bullian kita tetap saja menyampaikan Islam. Hal itu bukan perbuatan sia-sia karena berpahala.

Saat ini di tengah arus sekulerisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Maksudnya Islam hanya untuk urusan ibadah ritual saja seperti sholat, puasa dll sedangkan kehidupn sehari-hari diurus dengan hukum manusia. Tidaklah heran jika dakwah Islam kaffah, menyeru manusia untuk berislam secara totalitas mendapat pandangan sinis atau ada pihak-pihak yang tidak senang.

Wahai remaja umur masih muda, tenaga masih kuat, semangat membara, bergeraklah, bersuara lah. Lihatlah kondisi remaja saat ini. Ketika mereka dibelenggu dengan aturan selain Islam

Pergaulan tidak menggunakan hukum Islam sehingga banyak anak-anak pacaran, hamil diluar nikah, narkoba, sek bebas, anak berani sama orangtua hingga melaporkan ke polisi, minuman keras, tawuran dll. Tidakkah hati kita sedih? Tidakkah kita menangis?

Kalau remajanya saat ini rusak, bagaimana negeri ini kedepannya? Akankah kita rela negeri ini hancur? Bagaimana pertanggungjawaban kita dihadapan Allah kelak?

Belum ada kata terlambat, mulailah saat ini, semampu kalian. Teruslah menambah ilmu Islam sebagai senjata kita mengembalikan remaja ke pangkuan Islam.