Oleh : Hervilorra Eldira, S.ST

Radikalisme masih menjadi isu strategis di negeri ini. Masih lekat dalam ingatan kejadian di Sibolga, Sumatra Utara bulan Maret 2019 silam. Polisi berhasil menangkap Abu Hamzah yang merupakan anggota jaringan terduga teroris RIN alias Putra Syuhada (PS) yang lebih dulu ditangkap di Lampung. Namun, penangkapan Abu Hamzah itu juga menyisakan cerita lebih mengkhawatirkan.

Dalam penangkapan itu, istri Abu Hamzah tewas dengan meledakkan diri. Menurut polisi, sang istri selama ini dikenal sebagai sosok yang cukup radikal. Kejadian itu juga mengingatkan akan serangan bom di Surabaya yang dilakukan Dita Oepriarto dan keluarganya. Sang ayah membagi tugas kepada istri dan anak-anaknya untuk ikut terlibat dalam peledakan bom di rumah ibadah itu. (mediaindonesia.com)

Keluarga adalah institusi penting dalam membangun masyarakat. Karena di dalam keluarga, lingkungan pertama manusia itu tumbuh. Keluarga juga menempati porsi terbesar dalam memberikan corak kepribadian anak.

Perkembangan anak merupakan suatu proses kompleks terkait dengan tumbuh kembangnya yang diisi dengan berbagai pengalaman. Ketika terlahir di dunia, seorang anak pada dasarnya seperti kertas putih yang tidak dapat ketahui baik atau buruk. Perkembangan anak pada dasarnya tergantung sepenuhnya pada bagaimana mereka dibesarkan atau pola asuh keluarga dikutip dari BKKBN (dalam Sunarti, 2001).

Hal tersebut menunjukkan bahwa keluarga sangat memberikan dampak yang besar bagi perkembangan anak. Proses pembentukan watak dan karakter anak berawal di dalamnya. Lebih spesifik lagi, bahwa perilaku moral anak dan kecenderungan psikososialnya juga terhubung dengan pengalamannya bersama keluarga.

Pengasuhan anak adalah salah satu peran strategis ibu. Namun, peran tersebut tidak akan berjalan seimbang jika tidak didukung oleh peran ayah sebagai pemimpin keluarga.

Keluarga sekular tak ubahnya yang dialami masyarakat saat ini, yang tidak menjadikan Islam sebagai aspek utama pembentuk keluarga. Memisahkan agama dari kehidupan, membuat keluarga menjadikan materi sebagai tujuan meraih kebahagiaan. Begitupun juga masyarakat, materi dijadikan sebagai asas dalam menentukan standar aturan, pemikiran dan perasaan. Ini juga merupakan hasil dari penerapan sistem kapitalisme.

Islam adalah agama yang paripurna. Membawa syariat yang lengkap beserta hukum-hukumnya. Tidak hanya mampu mengatur kehidupan individu dengan Tuhannya, individu dengan dirinya sendiri tapi juga mengatur urusan dengan sesamanya.

Definisi keluarga di dalam Islam tidak hanya berputar di dalam aspek komponen semata yaitu adanya ibu, bapak dan anak. Namun, asas pembentuk keluarga sejatinya tidak boleh diabaikan. Akidah islam harus menjadi asas pembentuk keluarga. Tujuan membentuk keluarga haruslah dalam rangka untuk beribadah kepada Allah SWT, bukan yang lain. Sehingga setiap anggota keluarga yang bertaqwa kepada Allah SWT akan selalu menyandarkan aktifitasnya agar tidak bertentangan dengan syariat Nya.

Fenomena stigma radikalisme bahkan menyasar keluarga muslim sebagai benih terrorisme adalah bagian dari rencana membendung keluarga muslim dari pemahamannya terhadap agamanya secara kaffah. Islamophobia karena stigma negatif terhadap keluarga yang mempelajari agamanya secara mendalam justru makin memburamkan pemahaman yang benar terkait bagaimana islam itu seharusnya diterapkan dan ditegakkan. Di satu sisi Negara bersikap abai terhadap pengaturan keyakinan dan penjagaan agama rakyatnya.

Khilafah Islam sebagai institusi yang pernah diterapkan selama 13 abad telah menjadi bukti hasil diterapkannya islam dalam semua aspek kehidupan. Khilafah akan menjamin keberlangsungan warga negaranya dalam memelihara agamanya. Begitupun dakwah islam menjadi salah satu metode yang diambil dalam mencapai tujuannya yaitu tersebarnya islam ke seluruh penjuru dunia. Khilafah menjamin penyediaan lapangan pekerjaan, fasilitas pendidikan, kesehatan, optimalisasi baitul mal, dll menjadi bukti peran sentral sebuah negara dalam mengatur kehidupan.

Hal ini akan meminimalisir masalah keluarga, sehingga orang tua akan bisa fokus dalam mendidik generasi. Maka keluarga muslim adalah keluarga yang mencintai syariat Allah, karena tahu bahwa hanya dengan penerapan syariat di dalam kehidupanlah, permasalahan kehidupan akan tersolusi. Selain itu tentu akan mendapatkan Ridho dariNya.
Wallahu’alam.