Oleh : Ummu Aqeela

Manusia merupakan salah satu makhluk sosial yang diciptakan oleh Allah . Manusia diberikan hati dan naluri sebagai pangkal perbedaan dari makhluk-makhluk yang lainnya. Pada dasarnya semua ciptaan Allah  itu akan binasa. Misalnya, alam semesta ini. Dia akan mengalami kebinasaan pada waktu yang telah ditetapkan oleh Allah dan itu menjadi rahasia besar Ilahi. Sama halnya dengan kita, kita sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah pada hakikatnya juga akan menemui masa perpisahan kita dengan alam dunia ini. Oleh karena itu, kita sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah yang paling tinggi derajatnya diwajibkan untuk selalu bersiap-siap untuk menyongsong hari berpisahnya dengan alam dunia ini. Karena semua manusia di bumi ini tidak ada yang tahu persis kapan dan dimana kita akan mengalami perpisahan dengan alam dunia ini.

Kematian itu sendiri bukan merupakan batas paling akhir dari kehidupan manusia. Kematian hanya menjadi batas akhir persentuhan antara manusia dengan alam dunia. Setelahnya, kematian menjadi titik awal yang menandai dimulainya kehidupan hakiki, yaitu di alam akhirat. Begitu banyak kejadian yang mengingatkan kita akan kematian itu sendiri, bahwa kiamat terdekat itu datang secara tiba-tiba, tanpa rencana, dan hanya Allah lah yang tahu waktunya. Semisal kejadian yang menghentakkan diawal tahun ini, Pesawat komersial Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak dikabarkan hilang kontak, pada Sabtu (9/1). Manager of Branch Communication PT Angkasa Pura II Haerul Anwar membenarkan hilang kontak pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Dikutip dari flightradar24, pesawat Sriwijaya Air rute Jakarta-Pontianak itu bertolak dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pukul 14.36 WIB. Sementara estimasi kedatangannya dijadwalkan pukul 15.15 WIB.

Kepala Seksi Pemerintahan dan Transit Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Surachman mengatakan, nelayan Pulau Lancang mendengar ledakan di sekitar lokasi jatuhnya Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 182, Sabtu (9/1). Nelayan Pulau Pancang juga melihat pesawat Sriwijaya Air jatuh ketika hujan deras mengguyur lokasi kejadian. “(Nelayan) sempat mendengar ledakan dua kali di bawah laut dan dia melihat pesawat jatuh, lagi hujan lebat. Menurut mereka sekitar pukul 2 siang (pesawat jatuh),” kata Surachman dikutip dari siaran langsung Kompas TV. Nelayan yang melihat jatuhnya pesawat Sriwijaya Air langsung melapor ke Pemkab Kepulauan Seribu.
( https://amp.kontan.co.id/news/nelayan-melihat-pesawat-jatuh-saat-hujan-deras-di-sekitar-lokasi-jatuhnya-sriwijaya-a )

Terbayangkah jika saat itu kita ada diposisi mereka? Siapkah?. Merenung dari peristiwa diatas, bahwa kematian merupakan sebuah peristiwa yang pasti akan terjadi kepada setiap yang hidup.
“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan“.
(QS. Al-Jumu’ah: 8).
Sedemikian pentingnya pembicaraan tentang konsep kematian, maka tidak heran jika para shahabat dan ulama’ setelahnya senantiasa mengingatkan agar manusia selalu mempersiapakan diri dalam menghadapi kematian. Sebab manusia tidak mengetahui kapan waktu itu akan tiba sementara syahwat manusia seringkali membawanya pada kelalaian. Kematian  menyimpan sebuah bahaya yang setiap saat mengintai manusia yang lalai dari mengingat mati. Bencana besar akan mendatangi seorang hamba apabila kematian bertandang dalam keadaaan mengalami sû’ul khatimah.

Oleh karena itu setiap orang yang beriman akan membutuhkan persiapan tersendiri untuk menghadapi kematian. Persiapan semacam ini seharusnya bersifat kontinu dan tanpa henti, mengingat datangnya kematian tidak dapat diduga atau diramalkan oleh manusia. Keta’atan pada syari’at islam adalah syarat mutlak menyambut kematian. Seseorang yang mengakui dirinya muslim, dan bersyahadah bahwa hanya Allah SWT yang dia sembah dan hanya Muhammad SAW Rasul yang diikuti, maka konsekuensinya adalah menerapkan apa yang telah dia akui dan dia yakini dalam hatinya, juga yang telah dia ucapkan dengan lidahnya, dalam kehidupan sehari-hari secara kaffah dan sempurna tanpa terkecuali.

Keyakinan kuat inilah yang akan melahirkan perasaan ketundukan dan ketaatan kepada Allah SWT. Ketundukan dan ketaatan kepada Allah SWT meringankan seorang hamba dalam melaksanaan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Yang harus disadari bahwa perintah dan larangan Allah SWT diciptakan demi kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Rasa tunduk dan taat inilah yang membuat perilaku serta sikap hidup manusia menjadi mulia, jauh dari sikap tercela. Karena di dalam hati dan pikirannya selalu ada Allah SWT.

Ketaatan itu harus dibuktikan dengan amal sholeh yang sesuai dengan keimanan seorang muslim. Banyak yang mengaku muslim tetapi perilakunya tidak sesuai dengan Islam. Banyak yang mengaku muslim tapi banyak yang tidak mau diatur oleh aturan Allah. Renungilah kebesaran Alloh setiap saat, saat hendak tidur, duduk, berdiri, kapanpun, sehingga kita yakin dan paham , kita hidup ada Pencipta dan Pengatur, sehingga hidup tidak semaunya sendiri tapi selalu tergantung pada aturan-aturan yang Allaah ridhoi. Karena Iman tidak cukup dalam lisan tapi juga dibuktikan dengan perbuatan. Bukti keimanan adalah sami’na wa Atho’na, kami mendengar dan kami patuh, tidak ada tawar menawar dengan Allah SWT.
Surat Al-Jatsiyah Ayat 18
 ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ 
Artinya : Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.


Belum dikatakan beriman jika kita masih memilih-milih hukum Allah mana yang akan ditaati. Mudah-mudahan kita termasuk diantara hamba Allah yang dilimpahi akal yang sehat dan keimanan yang kuat sehingga senantiasa berjuang akan tegaknya Syari’at secara kaffah untuk mempersiapkan akan datangnya pemutus kenikmatan dunia yaitu kematian.


“Tidaklah aku melihat orang berakal melainkan aku mendapati ia waspada terhadap kematian dan bersedih atasnya”. ( Imam Hasan al-Bashri )
Wallahu’alam bishowab