Oleh : Alifiah Nabila (Aktivis Muslimah Malang Raya)


Kasus mengenai pelaporan anak terhadap ibu kandungnya sendiri kepada pihak kepolisian bukan hanya baru-baru ini terjadi. Alih-alih mereka mencari keadilan kepada pihak berwajib atas tindakan yang dilakukan oleh sang ibu, atas tuduhan tindakan penganiayaan bahkan kriminal. Seperti yang terjadi pada bulan Juni lalu, dimana warga asal Lombok Tengah, Nusa Tengara Barat (NTB) yang berinisal M (40) datang ke Mapolres Lombok Tengah hendak melaporkan ibu kandungnya K (60), ke polisi. Kepada polisi, M hendak melaporkan ibu kandungnya karena masalah motor. Namun, laporan M malah ditolak langsung oleh Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah Ajun Komisaris Polisi (AKP) Priyo Suhartono. Penolakan laporan itu pun viral di media sosial Facebook dan Youtube. Priyo meminta permasalahan ini untuk diselesaikan secara kekerluargaan. Diceritakan Priyo, perseteruan itu berawal dari harta warisan peninggalan ayah M yang dijual seharga Rp 200 juta. Setelah terjual, sang ibu mendapatkan bagian Rp 15 juta. Oleh ibunya, uang itu kemudian dipakai untuk membeli motor. Sambung Priyo, motor tersebut kemudian ditaruh di rumah keluarga, M yang tahu tidak terima dan dianggap menggelapkan. “Si anak (pelapor) menjual tanah bapaknya Rp 200 juta, ibunya dikasih Rp 15 juta, kemudian belilah motor ibunya. Kemudian motor itu dia pakai sama saudaranya, si anak keberatan,” kata Priyo. (tribunnews.com)
Tidak hanya berhenti pada kasus M dengan sang ibu kandungnya K di bulan Juni lalu. Baru-baru ini juga tengah ramai diperbincangkan mengenai laporan pengajuan tindak pidana anak terhadap ibu kandungnya sendiri. Seorang gadis berinisial A (19) yang melaporkan ibu kandungnya, S (36) ke polisi. Meski enggan mengungkap terang-terangan, namun A menyebut dirinya hanya ingin mencari keadilan atas tindakan sang ibu terhadap dirinya. (tribunnews.com) Orang tua A, S yang telah berpisah dengan suaminya ini memiliki tiga anak. Setelah perceraian itu, A ikut dengan ayahnya tinggal di Jakarta. Sedangkan adiknya yang masih remaja dan balita tinggal bersama ibunya di Demak.
Konflik pertama muncul, kata Haryanto, saat mantan suami S mengambil anak balita mereka tanpa sepengetahuannya. Hingga akhirnya mantan suami dan anak pertama S datang ke Demak pada 21 Agustus 2020. Kedua orang itu, kata Haryanto, lebih dulu ke rumah Lurah dan RT setempat sebelum mendatangi rumah S. Lalu ayah dan anak itu mendatangi rumah S bersama perangkat desa. “Terus dia (A) masuk, terus nyari bajunya. Ibunya jengkel, bilang ke anaknya, suruh minta belikan ayahnya, ‘karena sudah ikut ayahmu yang katanya uangnya banyak’,” cerita Haryanto. Kemudian A tetap mencari bajunya. Hingga akhirnya sang ibu berkata bahwa baju-baju A telah dibuangnya. “Kemudian anak tersebut mencari di lemari nggak ada, sambil ngomel-ngomel. Ibunya bilang, wes (sudah) tak buang,” terang Haryanto. Haryanto mengungkap, A sempat mendorong ibunya hingga jatuh. Menurutnya, saat sang ibu akan kembali berdiri reflek menyentuh anaknya. “Itu kena kukunya, tapi ibunya juga tidak merasakan kalau kena kukunya, sampai divisum itu muncul dua cm di pelipis anak. Setelah itu ya sudah, karena masih banyak orang, dilerai dan setelah itu pak lurah dan pak RT pulang dan sudah selesai,” urainya. Berbekal hasil visum luka tersebut, lanjut Haryanto, S dilaporkan sang anak kepada polisi keesokan harinya yakni 22 Oktober 2020 dengan dugaan penganiayaan dan kekerasan dalam rumah tangga. S dijerat dengan Pasal 44 ayat 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT subsider Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan. (detiknews.com)
Sangat miris bila mendengar berita mengenai anak yang tega melaporkan ibu kandungnya sendiri yang telah mengandungnya 9 bulan lamanya, melahirkannya, merawatnya hingga besar, hanya dengan ego belaka dengan tuduhan-tuduhan kriminal alih-alih untuk mencari keadilan. Rasa hormat terhadap orang tua telah hilang, anak tidak menyadari bahwa suatu pengabaian terhadap orang tua adalah susatu dosa atau kesalahan, sehingga anak menjadi keras kepala, egoisnya mendominasi. Dalam hal ini sebenarnya juga tidak bisa sepenuhnya menyalakan anak. Sebab orang tua juga punya andil dalam membesarkan dan mendidik anak dengan baik.
Semua ini terjadi tak lain karena hukum-hukum Allah yang telah Allah tetapkan untuk keluarga terabaikan atau tidak lagi diberlakukan dan digunakan oleh mayoritas keluarga muslim. Ini semua merupakan bukti nyata akibat dari naungan peradaban materialis sekuler, sehingga kondisi keluarga saat ini itu menilai segala sesuatunya dari untung rugi. Jadi rumah yang semestinya menjadi tempat kedamaian, kestabilan, mengikat hubungan diantara keluarga dengan dasar cinta, kemurah hati, yang didasarkan ibadah kepada Allah, yang dimana nantinya masing-masing akan berbuat kebaikan, mendapatkan pahala, saat ini semakin tidak dirasakan di peradaban sekuler ini.


Sementara Islam telah menetapkan bahwa setiap anggota keluarga harus memenuhi dan memahami perannya masing-masing, dimana usaha memenuhinya hanya dalam rangka menggapai ridho Allah. Keberhasilan, kedamaian, dan kesuksesanlah yang nntinya akan didapat ketika setiap anggota keluarga memenuhi dan memahami setiap dari perannya dengan baik sesuai dengan syariatNya. Sehingga memang sebuah hal yang begitu penting dalam mengurusi sebuah keluarga untuk menjaga kelestarian suatu bangsa, kemuliaan peradabannya. Maka dari itu, untuk menjadikan keluarga yang harmonis harus mengikuti segala yang telah Allah tetapkan dengan syariat-syariatNya, seperti dalam firman Allah dalam surat An-Nisa pada ayat pertama,
يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوۡا رَبَّكُمُ الَّذِىۡ خَلَقَكُمۡ مِّنۡ نَّفۡسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالًا كَثِيۡرًا وَّنِسَآءً‌ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِىۡ تَسَآءَلُوۡنَ بِهٖ وَالۡاَرۡحَامَ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيۡبًا
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
Hanya hukum-hukum Islamlah yang bisa menjaga nilai-nilai naluri, nilai-nilai alamiah pada setiap dari manusia, bisa menjaga hubungan orang tua dengan anak sebagaimana mestinya. Sebab paradigma Islam itu telah membentuk mentalitas para orang tua dalam bertanggung jawab mendidik generasi mereka. Selebihnya tentu ini merupakan tanggung jawab para pemerintah negara terhadap setiap keluarga di negeri mereka, karena satu bagian dari tanggung jawab negara adalah memastikan bahwa keluarga itu menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Sehingga, saat ini sangat diperlukan peran negara yang bisa menjaga setiap keluarga muslim, dimana hanya pada sistem negara yang berlandaskan Islam Kaffah lah akan terwujud keluarga-keluarga yang dapat menjalankan setiap perannya dengan baik. [Wallahua’alm bishawwab]