Oleh: Aulia Rahmah
Kelompok Penulis Peduli Umat

Kaget, itulah kesan pertama saat menyaksikan berita seorang anak di Demak yang melaporkan ibunya ke pihak kepolisian atas dugaan penganiayaan. Pihak kepolisian menindak lanjuti laporan ini dan akhirnya si ibu yang seorang penjual baju, dipenjara. detiknews(9/1/2021)
Juga seorang anak di Nusa Tenggara Barat yang melaporkan ibunya karena ingin memiliki motor warisan ayah yang menjadi hak ibunya. Laporan ini pun ditolak pihak kepolisian dan ibunya terbebas dari delik aduan. Inilah gambaran kehidupan hubungan seorang anak dengan ibunya. Hubungan yang dilandasi atas dasar materi. Interaksi yang dibangun hanya diukur dengan untung rugi.
Sudah menjadi kebenaran seorqng ibu meninggalkan kewajiban penyusuan secara sempurna karena tuntutan pekerjaan. Akibatnya, kedekatan antara ibu dan anak terganggu. Inilah penyebab gangguan psikis pada anak. Anak di masa yang akan datang kurang dapat berkomunikasi dan bersosialisasi dengan baik. Hilang kepercayaan diri. Kurang dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Cenderung mudah marah, emosional dan temperamen. Tumbuh kembang anak tanpa pendampingan orang tua akan bermasalah.


Apalagi saat ini, negeri kita sedang dirundung kasus banyaknya perceraian. Tentu saja anak akan menjadi korban. Hilang kasih sayang dari salah satu orang tuanya. Anak akan terpapar dengan aksi kekerasan, baik fisik maupun verbal akibat ulah orang tuanya. Seperti kasus anak durhaka di Demak dan di NTB diatas. Si anak dengan mudahnya melupakan jasa ibunya yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya. Padahal kita semua tahu bahwa “Surga ada di telapak kaki ibu”. Ridha Allah tergantung pada ridhanya. Siapakah kita dibanding dengan Allah Sang pemilik alam raya dan segala isinya ? Ibu adalah sumber kebahagiaan di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak.
Anak durhaka adalah output pendidikan di negeri ini yang mengadopsi sistem liberalisme. Sistem yang memberi kebebasan dalam berperilaku dan memiliki sesuatu, walau dengan jalan ‘merampas’ dari ibunya sendiri. Yang ada dalam benak adalah menguasai materi untuk bersenang-senang. Bodoh amat dengan agama yang mengatur kewajiban berbuat kebaikan terhadap orang tua.
Bak langit dan bumi jika dibandingkan dengan output pendidikan di masa Nabi Saw dan kekhilafahan. Penghormatan terhadap ibu sangat luar biasa besar. Masih ingatkah kita dengan kisah Uwais al Qarni ? Ya, seorang muslim di masa Rasulullah yang mendedikasikan seluruh hidupnya demi berbakti kepada ibu. ia rela menggendong ibunya saat menunaikan ibadah haji. Atas jasanya ini, Allah memberikan karomah kepada Uwais bahwa doa Uwais selalu dikabulkan. Rasulullah Saw menganjurkan kepada para sahabat agar meminta doa kepadanya.


Fungsi keluarga sangatlah komplek, ada fungsi pendidikan, perlindungan, penghormatan, keteladanan, kasih sayang dan lain sebagainya. Keharmonisan keluarga dapat menentukan prestasi seseorang di sektor publik. Jika keluarga harmonis akan berpotensi seluruh anggota keluarga dapat mencetak prestasi di sektor publik. Walau ada yang sebaliknya, namun jumlahnya sangat kecil.
Hidup untuk dunia akan berakhir sia-sia. Ibarat pepatah “Sudah jatuh tertimpa tangga”. Jika diawal pernikahan tanpa didasari untuk menyempurnakan agama dan dalam rangka mencari Ridha Allah, maka Jerih payah kita saat mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak akan berbuah kedurhakaan dan pertentangan. Dan kelak di akhirat Allah akan menanyakan kepada kita “Tidakkah engkau mendengar dakwah Islam, mengapa yang kau perbuat jauh dari Syariat?” Tentu balasan bagi orang-orang yang mengabaikan hukum-hukum Allah adalah neraka. Naudzubillah.