Oleh: Husrotul Aini, S.Si
Ibu Rumah Tangga

Ibu memang memiliki sesuatu yang istimewa di hati kita semua. Betapa tidak. Pengorbanan ibu  yang luar biasa tidak bisa di balas dengan kata-kata. Sejak beliau mengandung, melahirkan, merawat, mengasuh dan mendidik kita hingga dewasa. Semua itu dilakukan ibu demi kebahagiaan kita, anak-anaknya.

Hadiah semahal apapun tidak dapat menggantikan ketulusan kasih sayang ibu kepada anak-anaknya. Islam meninggikan derajat seorang ibu dan mengumpamakan “surga” di bawah telapak kakinya. Hal ini  membuktikan bahwa kaum ibu sangat dimuliakan dalam islam. Dunia pun menghargainya, sehingga ada hari spesial untuk memperingati hari ibu.

Namun, pada faktanya, apakah  saat ini kaum hawa sudah bahagia di atas fitrahnya sebagai ibu? Tidak dapat dipungkiri, derasnya arus kebebasan yang dianut oleh sistem Demokrasi menyeret kaum ibu ke dalam derita tiada henti.

Seperti apa yang dialami seorang ibu di Demak, Jawa Tengah. Ada seorang ibu yang dipidanakan anak kandungnya hanya karena masalah sepele,  yaitu cekcok soal baju. Dari laporan tersebut, si ibu dijerat pasal 44 ayat 1 Undang Undang Nomer 23 tahun 2004 tentang penghapusan KDRT subsider pasal 351 KUHP  tentang penganiayaan. (detik.com, 9/1/2021)

Kondisi serupa juga pernah terjadi di Lombok, NTB. Seorang anak ingin memenjarakan ibunya hanya karena masalah sepeda motor. Namun laporan tersebut langsung ditolak oleh Reskrim Polres Lombok. Penolakan laporan itu viral di media sosial Facebook dan Youtube. (tribunnews.com, Senin 29/6/ 2020)

Dari sini, tampak bahwa ide kebebasan yang diagungkan oleh sistem Demokrasi saat ini telah  menyebabkan kesengsaraan hingga menghilangkan fitrah kasih sayang pada diri seorang anak untuk mencintai dan melindungi ibu yang telah mengandung dan melahirkannya. Oleh sebab itu, ide kebebasan tersebut tidak layak untuk kita ikuti. Sudah saatnya kita beralih kepada sistem yang penuh berkah. Sistem Ilaahi yang berasal dari Rabb semesta alam. Sistem tersebut adalah sistem khilafah.

Dalam naungan khilafah, akidah Islam menjadi fondasi dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Islam telah mengangkat status ibu, memberikan ibu posisi mulia dan terhormat di tengah masyarakat, memuliakan peran ibu sebagai penjaga rumah tangga, pengasuh, pendidik dan pencetak generasi unggul di masa peradaban islam.

Khilafah akan senantiasa memperhatikan bagaimana seorang ibu diposisikan sebagaimana yang dikehendaki Allah. Syariat Islam akan  menunjukkan betapa istimewanya perlakuan yang layak diterima oleh ibu dari anak-anak mereka.

Allah Swt. berfirman,

وَوَصَّيۡنَا الۡاِنۡسٰنَ بِوَالِدَيۡهِ‌ۚ حَمَلَتۡهُ اُمُّهٗ وَهۡنًا عَلٰى وَهۡنٍ وَّفِصٰلُهٗ فِىۡ عَامَيۡنِ اَنِ اشۡكُرۡ لِىۡ وَلِـوَالِدَيۡكَؕ اِلَىَّ الۡمَصِيۡرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Islam juga mengajarkan kepada anak-anak untuk menghormati dan memperlakukan ibunya dengan sangat hati-hati.  Abdullah Ibn Abbas ra., seorang sahabat Nabi dan ilmuwan Islam yang hebat,  pernah berkata “Aku tahu tidak ada perbuatan lain yang akan membawa orang lebih dekat kepada Allah daripada perlakuan baik dan hormat terhadap ibu seseorang”.

Oleh karena itu, hanya khilafah yang menerapkan Islam secara komprehensif, yang akan mengembalikan status besar yang layak dimiliki ibu. Khilafah juga akan memberikan edukasi kepada anak-anak untuk senantiasa menghormati, menghargai dan mencintai ibunya.

Wallahu a’lam bishawwab.