Oleh: Tati Sunarti, S.S (Aktivis Muslimah Karawang)


Dilansir dari harian online kompas.com, Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Adib Khumaidi menyampaikan bahwa kematian tenaga kesehatan dan medis di Indonesia mencapai angka tertinggi se-Asia. Kondisi ini seharusya menjadi sinyal peringatan bagi para pemangku negeri, sudah maksimal ataukah tidak penanganan wabah yang selama ini dilaksanakan.
Tenaga kesehatan yang telah gugur dalam menghadapi wabah corona sejak Maret 2020 lalu sebanyak 504 orang. Adib menuturkan jumlah tersebut terdiri dari 237 dokter, 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, dan 10 tenaga laboratorium medis (kompas.com). Ini angka yang cukup mengerikan selama pandemi corona melanda Indonesia.


Di lain pihak, Firdza Radiany, Inisiator Pandemic Talks, menyebutkan jumlah tenaga kesehatan dan paramedis Indonesia yang meninggal karena terpapar covid-19 lebih tinggi dari 6 negara di Asia (tempo.com). Kondisi ini menggambarkan tidak ada upaya serius dalam menekan lonjakan angka kematian akibat covid-19, terutama kepada para nakes yang menjadi pasukan tempur terdepan.
Tentu saja membutuhkan perhatian dan penangan yang serius dari semua pihak terutama pemerintah. Jangan sampai lebih banyak lagi tenaga medis menjadi tumbal atas kebijakan penanganan wabah bak alu pencukil duri.
Satu Nyawa Sangat Berharga
“Kullu nafsin dzaaiqotul mauut…”
Setiap yang bernyawa pasti akan mati, begitulah kutipan firman Allah dalam quran surat Al-Ankabut ayat 57 memberikan khabar kepada kita bahwa ajal merupakan keniscayaan dan akan menimpa setiap manusia. Tak ada yang mampu memajukan atau memundurkan ajal. Inilah yang disebut dengan ketetapan Sang Maha Pencipta. Tak ada kuasa manusia atasnya.
Begitu pun dengan pandemi yang melanda dunia saat ini. Adalah juga ketetapan Sang Maha Kuasa. Kondisi yang bisa menjadi ujian atau teguran. Namun sebagai manusia yang Allah karuniakan akal tentu harus menempuh jalan (solusi) yang tepat untuk menghadapi persoalan ini. Solusi yang menjadi jembatan atas pertolongan Allah.


Islam memandang bahwa satu nyawa adalah lebih berharga dari dunia dan seiinya. Sehingga Islam membuka jalan bagi para penguasa yang menjadikannya tuntunan hidup untuk menanggulangi musibah yang terjadi.
Solusi Efektif Atasi Pandemi
Covid-19 yang mewabah ke banyak negara, bahkan baru-baru ini muncul virus jenis baru tentu melumpuhkan sebagian besar dunia dari segala aktivitasnya. Virus ini menjadi momok mengerikan dan bisa membinasakan siapa saja (atas ijin Allah). Solusi yang tepat tentu saja sangat diperlukan dan untuk melaksanakanya membutuhkan sinergi semua pihak baik masyarakat ataupun pemerintah bahkan dunia. Dan semua solusi efektif ini hanya bisa ditemukan dalam Islam.
Pertama, Islam memperkenalkan seperangkat aturan mengenai thaharoh (kesbersihan). Islam memerintahkan untuk menjaga kesucian baik jiwa seperti disiplin atas kebersihan badan sehingga senantiasa suci dari kotoran (hadats) besar dan kecil dan menutup celah sekecil-kecilnya terinfeksi penyakit.
Kemudian Islam pun memerintahkan untuk menjaga kesucian jiwa, berupa tunduk pada Allah, Al-khaliq Al-Mudzabbir. Kesucian jiwa akan menghantarkan manusia pada ketenangan hati. Tentu ini sangat berpengaruh. Sehingga hati yang tenang tidak akan mudah stress dan menutup pula celah yang dapat menurunkan imunitas tubuh.


Kedua, penguasa (pemerintah) yang menjadikan Islam sebagai tuntunan hidup akan mendapati solusi mutakhir dari Quran dan sunnah Rosulullah saw. Solusi ini akan dituangkan dalam sebuah kebijakan, dilaksanakan oleh segenap masyarakat. Solusi-solusi Islam yang dapat ditempuh oleh penguasa adalah terlebih dahulu mengajak semua masyarakat untuk bertaubat pada Allah. Semua merenungi jika wabah ini sebagai ujian maka harus bersabar, jika wabah ini sebagai teguran maka harus memohon ampunan.
Langkah berikutnya adalah menetapkan status setiap wilayah ke dalam beberapa kategori, zona merah, zona kuning ataukah zona hijau. Ini akan menentukan tindakan yang tepat terhadap wilayah-wilayah tersebut. Jadi, pemerintah dapat menetapkan kebijakan karantina terhadap wilayah yang terkategori merah dan kuning.
Setelah itu menetapkan status warga yang terinfeksi dan tidak. Langkah ini menentukan tindakan yang harus dilakukan dalam pengobatannya. Selain itu dua hal yang penting lainnya adalah memberikan fasilitas yang baik untuk para tenaga kesehatan dan mendorong para ilmuwan untuk sesegera mungkin menemukan obat.
Dua hal ini tidak boleh terabaikan. Karena fasilitas baik dan memadai bagi tenaga kesehatan merupakan senjata tempur mereka. Sedangkan obat yang ditemukan oleh para ilmuwan merupakan amunisinya. Wabah ini nyata, jadi menuntut tindakann solutif yang nyata pula. Wallahu’alam