Oleh: Rindoe Arrayah

Remaja merupakan generasi penerus yang akan menerima tongkat estafet perjuangan di masa mendatang. Di tangan merekalah masa depan umat manusia ditentukan. Akankah menuju kegemilangan atau sebaliknya justru menuju kehancuran.

Sederet potret buram generasi millenial ini membuat kita bertanya, lantas siapa yang akan membangun bangsa kedepannya kalau generasinya saja sudah hancur di usia belia? Jangankan memikirkan nasib masa depan bangsa, nasib mereka sendiri pun belum tentu mereka pikirkan.

Tren kekerasan yang melibatkan anak-anak usia muda seolah menjadi hal yang biasa, manakala menyelesaikan permasalahan yang terjadi di antara pertemanan mereka. Tragedi semacam ini seringkali terjadi. Miris tentunya, jika kita melihat fakta kerusakan moral yang menimpa para generasi muda bangsa.

Belum lama ini, tepatnya tanggal 6 Januari 2021 yang lalu telah terjadi penganiayaan yang dilakukan oleh beberapa remaja putri terhadap seorang remaja putri lainnya.

Video pendek penganiayaan oleh tujuh remaja putri membuat heboh media sosial di Gresik. Lokasinya terlihat di kawasan alun-alun kota. Tim siber Polres Gresik pun bergerak cepat. Sejumlah terduga pelaku perundungan itu diamankan untuk dimintai keterangan. Mereka semua masih pelajar SMP.

Setelah mendapat laporan, tim siber dan tim Opsnal Polres Gresik langsung melakukan penelusuran. Jumat (7/1) pukul 09.30, petugas berhasil mengamankan terduga pelaku perundungan tersebut. ’’Kami datangi rumahnya masing-masing. Mereka semua masih di bawah umur, masih pelajar,’’ ucap Kanitpidum Polres Gresik Ipda Djoko Suprianto.

Semua terduga pelaku itu pelajar putri. Duduk di bangku SMP. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (6/1) sekitar pukul 15.00. Dalam video berdurasi 24 detik itu, terlihat beberapa anak belia bergantian melakukan perundungan. Korbannya juga remaja putri. Mereka bergantian menendang dan memukul korban. Lalu, tampak ada yang merekam dengan menggunakan smartphone (jawapos.com, 11/1/2021).

Kapolres Gresik mengatakan, bahwa dari hasil pemeriksaan kasus penganiyaan ini bermotif rasa cemburu kepada korban.

Sedih, tragis, miris. Kita disuguhi berbagai potret buram rusaknya generasi. Utamanya kenakalan remaja yang semakin merajalela. Terkait potret buram kenakalan remaja saat ini yang masih saja ada ialah: kasus narkoba, pornoaksi/pornografi, seks bebas, tawuran, geng motor (klithih), prostitusi, aborsi, dan lainnya masih mewarnai tahun demi tahun hingga awal tahun ini.

Buramnya potret generasi bangsa tak luput dari diterapkannya sistem kapitalis-sekular dalam kehidupan ini. Sudah nyata adanya, bahwa sistem yang rusak sejak awal kelahirannya ini tidak akan pernah bisa mengantarkan pada keberkahan dalam kehidupan.

Kondisi potret buram generasi di atas harus segera diatasi. Keluarga, masyarakat, dan negara memiliki peranan penting dalam mengubah potret buram tersebut.

Peran keluarga, terutama orang tua harus mampu menjadi benteng/pelindung bagi anak dari kerusakan sosial di masyarakat. Orang tua diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh (kaffah) kepada anak. Selain menyampaikan pemahaman anak sesuai dengan usia anak, kontrol orang tua pada anak sangatlah penting. Diimbangi dengan mencurahkan perhatian dan kasih sayang pada anak.

Peran masyarakat, mempunyai peranan yang besar dalam mempengaruhi baik buruknya kondisi generasi. Perkara yang sekiranya memiliki pengaruh negatif tentu akan segera dicegah bersama-sama oleh masyarakat. Masyarakat menciptakan kondisi lingkungan yang positif secara bersama-sama. Disinilah peran penting masyarakat sebagai kontrol sosial.

Peran negara, memiliki peran yang paling penting dan strategis. Yaitu, membentuk kepribadian generasi (anak) melalui pemberlakuan sistem pendidikan berbasis aqidah Islam. Paradigma pendidikan harus dikembalikan pada asas aqidah secara berkesinambungan dari TK sampai perguruan tinggi. Sehingga melahirkan generasi yang cemerlang dan berkualitas. Generasi yang takut kepada Alloh dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Sayangnya peran negara tidak akan terwujud dalam sistem kapitaslis-sekular saat ini. Berharap pada sistem ini untuk bisa mengubah potret buram generasi bak pungguk merindukan bulan, bagaikan mimpi di siang bolong. Mustahil!

Hanya negara yang menerapkan Islam secara kaffah sajalah yang mampu melaksanakan peran srategis tersebut. Untuk itulah sudah saatnya menghapus potret buram generasi. Menggantinya dengan potret generasi cemerlang dengan tatanan terbaik dari sang Maha Pencipta, yaitu Allah SWT. Dengan menerapkan syariat-Nya dalam naungan Khilafah.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36)

Wallahu a’lam bishshowab.