Episode 3: “Cinta dan Hijrah”
Oleh: Maman El Hakiem

Awal pertemuan dengan Mas Harun, yang kini menjadi suamiku, sangatlah berkesan. Tetapi, juga menjadi catatan betapa jodoh itu datang tak terduga. Karena itu, memilih pacaran bukanlah solusi dalam Islam.

“Mbak Defi, ya? Sebenarnya setiap berpapasan ingin sekali kenalan.” Sosok pria yang sama-sama satu tempat kerja, berusaha memulai pembicaraan.

Saat itu jam istirahat, kami mencari tempat makan di sekitaran kantor. Awalnya tak menyangka, pria yang selalu berpenampilan sok alim itu mau juga pedekate. Entahlah apa namanya, usiaku yang di atas 20 tahun, bagi seorang gadis memang sudah matang untuk menikah. Banyak yang ingin mengajak kencan, tetapi hati ini rasanya begitu peka mendeteksi antara pria yang pura-pura baik, pria baik dan pria yang memang berniat buruk.

“Loh…kan kita satu kantor, cuma beda bagian saja. Masa tanya nama juga hehe.” Aku berusaha agar tidak gugup, dengan mencandainya. Padahal, jujur saja saat melihat tatapan matanya hati ini merasa gemetar “ Ya Allah…inikah yang namanya jatuh cinta.” Gumamku dalam hati.

“Cuma menegaskan kok, barangkali salah orang, karena banyak karyawati yang wajahnya mirip-mirip.” Jawabnya. “Mbak mau makan apa, biar saya pesankan?” Tanyanya, kemudian sambil menunjukan daftar menu makanan yang ada di atas meja.

Wah, baik banget, tahu aja jika perutku sudah nagih, klop ada yang nawarin.“ Gak usah repot-repot mas.” Jawabku, meskipun perut ini lapar, mencoba jaga citra biar gak disangka gadis traktiran.

“Gak usah sungkan, mbak…yang repot bukan saya, tetapi karyawan kantin dan juru masak hehe.” Gak menyangka dia humoris juga, bisikku dalam hati.

Pertemuan di kantin tersebut menjadi tempat ngobrol bertukar pikiran, dari soal kerja sampai kehidupan.. Namun, karena tidak ingin terjebak dengan pacaran. Mas Harun selang tiga bulan kemudian memberanikan datang melamar ke rumah orang tua. Ada rasa bersyukur, namun juga penuh perjuangan, terutama pemikiran orang tua yang menyangka kami ada masalah, karena tanpa ada kabar sebelumnya, seseorang langsung melamar. Di sini kami menyadari, masih ada anggapan yang tak wajar jika seorang gadis dilamar tiba-tiba tanpa terlihat lama akrab sebelumnya. Maka, kami pun bersabar sampai orang tua memberikan restunya, hampir setahun pernikahan tertunda.

Mas Harun, seperti doa yang lama tersimpan. Tentang keinginan untuk hijrah dari kehidupan kota yang membuatku awam dalam masalah agama. Tentang bagaimana jilbab yang syari baru tahu setelah menikah. Hijrah ternyata bukan hanya niat, tetapi harus diupayakan dengan ikhtiar yang maksimal. Kehidupan Kota Jakarta dengan suasana kerjanya yang semata-mata untuk tujuan materi, telah menghabiskan waktu hampir sepuluh tahun usiaku di dunia kantoran, sampai suatu saat memberanikan diri resain sebagai wanita karir. Dari titik inilah seorang Defi mulai menapaki langkah hijrahnya, fokus menanamkan aturan Islam dalam kehidupan keluarga. (Bersambung).