Oleh:Anggraeni Rahman
Aktivis Muslimah Karawang

Ketika kita berbicara sosok ibu yang terlintas adalah seorang perempuan yang mengandung, melahirkan, menyusui dan dalam pengasuhan tangannya selama 24 jam bersamanya. Namun tidak untuk seorang ibu yang hidup di zaman sekarang, faktanya bisa kita lihat keadaan seorang perempuan termasuk seorang ibu di zaman sekarang banyak yang beraktivitas di luar rumah salah satunya mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Berdasarkan data BPS dari tahun ke tahun semakin tinggi perempuan yang menjadi kepala rumah tangga, dimana Ia harus mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga dan kelangsungan hidupnya. Semua itu bukan tanpa sebab, ada yang disebabkan oleh perceraian, hamil di luar nikah dan ditinggal pasangannya entah ditinggal dalam kondisi masih hidup atau meninggal dunia (Kompas. Com 3/8/20)

Banyak seorang ibu yang meninggalkan anaknya yang masih dalam asuhannya dan memilih untuk diasuh orang lain atau dititipkan kepada orangtua si ibu (Nenek). Hal itu dilakukan demi mencari nafkah di luar. Sehingga banyak anak yang tumbuh dewasa tanpa asuhan seorang ibu

Apalagi disaat pandemi seperti ini banyak seorang ibu yang hampir stres, tak dipungkiri terkadang anak yang menjadi luapan stresnya. Sudahlah lelah bekerja pulang ke rumah harus mengurus anak. Mengajari anak belajar menambah kelelahan seoramg ibu karena kondisi sekolah anak yang daring. Padahal disitulah seharusnya peran ibu sangat perlukan.

Dalam sistem kapitalis-sekulerisma dimana memisahkan kehidupan dunia dan agama, tidak memungkiri banyak seorang ibu lebih memilih menjadi wanita karir dibandingkan mengasuh atau mendidik anak bahkan tidak sedikit para pegiat feminisme yang berkoar-koar kesetaraan gander, seolah-olah perempuan sama haknya seperti laki-laki. Lantas apakah dengan menyamakan perempuan dengan laki-laki kehidupan akan lebih membaik?

Bagaimana bisa perempuan ingin disamakan haknya dengn laki-laki dalam hal materi (karier/mencari nafkah) sedangkan dalam Islam perempuan sangat dimuliakan. Fitrah seorang ibu adalah mendidik anak madrasatul ula (madarasah pertama dan utama). Ibu juga sabagai manejer di rumahnya dan sebagai pengurus keluarganya.

Sedangkan kewajiban mencari nafkah adalah tugasnya seorang suami. Bagaimana jika suami tidak ada (cerai) atau sudah meninggal dunia. Maka kewajiban dalam nafkah berpindah kepada walinya, namun jika wali juga tidak mampu untuk menafkahi beralihlah kewajiban menafkahi kepada pemerintah maka pemerintahlah yang harus menanggung segala kebutuhanya.

Pemerintah akan membantu membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya untuk para suami agar para suami bisa menjalankan kewajibannya sebagai pencari nafkah. Tidak hanya itu pemerintah juga akan memberikan pendidikan agama kepada para suami dengan tujuan agar lebih bertanggungjabaw lagi terhadap keluarga dan sebagai bentukketaatan kepadaNya.

Namun mustahil di dalam sistem demokrasi-kapitalisme ini karena disistem kufur ini hanya keuntungan yang diitamakan termasuk membuka lapangan pekerjaan kepada perempuan termasuk didalamnya seorang ibu

Hanya sistem Islamlah yang bisa menuntaskan dilema seorang ibu, aturan yang lahir dari Sang Pencipta akan memposisikan seorang ibu hanya menjalankan fitrahnya menjadi Ummu madrasatul ula (ibu madrasah pertama dan utama). Wallohuallaha’lam.