Oleh : Emmy Emmalya (Pegiat Literasi)

Akhir-akhir ini viral diberitakan, seorang anak yang melaporkan ibunya ke kantor polisi karena penganiayaan yang dialami oleh dirinya.

Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah karena simpang siurnya pemberitaan, maka fokus perhatian kita hendaknya mengarah kepada; mengapa belakangan ini fenomena anak durhaka pada orangtua semakin sering kita dengar? Mungkinkah ini akibat orangtua juga berbuat durhaka kepada anaknya?

Hidup di zaman serba hedonis dan liberal ini merupakan fenomena yang sangat wajar bila menghasilkan sebuah masyarakat yang rusak, baik dari segi ekonomi, politik, budaya dan sosial.

Banyaknya keganjilan sosial yang kita saksikan hari ini. Seperti hilangnya ikatan kasih sayang antara anak dan orangtua seperti anak membunuh orangtuanya atau sebaliknya, semua itu merupakan tanda rapuhnya sistem ketahanan keluarga.

Hidup dalam sistem dimana gempuran budaya asing dan sistem sekularisme yang meniadakan peranan agama dalam kehidupan meniscayakan setiap anggota dari keluarga jauh dari tuntunan agama. Walhasil agama tidak lagi menjadi rujukan dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan. Semua berpatokan pada hawa nafsu manusia semata.

Fenomena anak durhaka pada orangtua merupakan buah dari ketidakpahaman mereka terhadap ajaran agama. Banyaknya orangtua yang sibuk dengan urusan mencari materi baik dengan alasan karena keterpaksaan untuk memenuhi kebutuhan hidup ataupun memang untuk menambah kekayaan, menjadi salahsatu sebab anak tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang cukup dari kedua orangtuanya.

Sehingga anak mencari kasih sayang diluar rumah dan mencari seseorang yang mau mengakui eksitensinya. Ditambah lagi apabila kedua orangtuanya disibukkan dengan konflik di antara mereka bisa karena pertengkaran masalah keuangan keluarga, perselingkuhan yang berakibat pada perceraian. Sungguh fenomena ini sedang marak saat ini, dan yang akan mendapatkan imbas terbesar adalah anak.

Wajar apabila banyak anak yang berperilaku durhaka kepada orangtuanya karena sedari kecil mereka tidak pernah mendapatkan pemahaman agama dengan benar. Anak lebih banyak dibiarkan tanpa pengontrolan dari kedua orangtuanya.

Durhaka Pada Orangtua Termasuk Dosa Besar

Anak berbuat durhaka kepada orangtua merupakan perbuatan yang termasuk dosa besar, karena Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik dan memperlakukan mereka dengan baik, sebagaimana firman Allah Swt dalam Qur’an surat Al Israa ayat 23 yang artinya :

“ Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Bahkan salah satu perbuatan yang disegerakan balasannya oleh Allah di dunia yaitu durhaka terhadap kedua orangtua.

Namun demikian, Islam juga tidak hanya memerintahkan agar anak saja yang harus menghormati dan menghargai orangtua tapi orangtuapun punya tanggung jawab untuk mendidik dan memberikan kasih sayang dan penghargaan terhadap anaknya. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran surat At Tahrim ayat 6, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia diperintahkan oleh Allah Swt untuk menjaga dirinya sendiri dan keluarganya dari siksa api neraka.

Menjaga keluarganya berarti menjaga anak-anaknya dari perilaku buruk sehingga terhindar dari api neraka. Oleh karena itu orangtua memiliki kewajiban untuk mendidik dan memberi kasih sayang kepada anak-anaknya.

Pernah ada sebuah riwayat yang menceritakan tentang orangtua yang durhaka pada anaknya. Ketika itu di kisahkan ada seorang yang menemui Umar bin Khathab untuk menceritakan sikap anaknya yang durhaka kepadanya, kemudian Umar memanggil anak tersebut lalu menegur anak tersebut atas apa yang sudah dilakukan anak itu terhadap orangtuanya.

Anak itu kemudian bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak memiliki hak atas orangtuanya?” dan Umar membenarkan perkataan anak tersebut sembari menjelaskan bahwa haknya adalah memilihkan calon ibu yang baik untuknya, memberi nama baik dan mengajari tentang Al Quran.

Kemudian anak tersebut berkata, “Wahai Amirul Mukminin, ayahku tidak melakukan satu pun dari apa yang tuan sebutkan itu. Ibuku wanita berkulit hitam bekas budak beragama Majusi. Ia menamaiku Ju’lan (tikus atau curut), dan dia tidak mengajariku satu huruf pun dari Alquran.

Umar lalu memandangi orangtua tersebut sembari berkata, “Engkau datang mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.” (https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-ibu-menyakiti-hati-anak).

Orangtua yang menyakiti hati anak ditambah dengan menelantarkannya maka orangtua baik ayah atau ibu sudah berdosa pada anaknya.

Rasulullah SAW bersabda;

“seseorang dikatakan telah cukup berbuat dosa bilamana menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya. (H.R. Abu Daud dan Nasa’i).

Sebagai orangtua, tidak boleh memperlakukan anaknya sekehendaknya, sebab orangtua memiliki tanggung jawab tidak hanya dalam urusan melahirkan, namun berbagai kebutuhan dan hak seorang anak juga harus terpenuhi mulai dari kasih sayang, makanan, pakaian, tempat bernaung dan juga pendidikan anak yang menjadi kewajiban orangtua terhadap anaknya.

Nabi Muhammad Saw, selalu mencontohkan pada para orangtua untuk mengajarkan ilmu agama dan kebaikan pada anak-anaknya. Beliau melarang keras orangtua berbuat kasar pada anak. Hal ini karena baik buruknya anak sangat bergantung pada pola asuh orangtuanya.

Pada saat ini yang terjadi adalah fenomena penghancuran benteng terakhir kaum muslimin yaitu keluarga. Maka marak pemberitaan anak yang durhaka pada orangtuanya tidak bisa disalahkan dari salahsatu pihak tapi juga harus melihat bentukan dari sebuah sistem yang melingkupinya.

Dengan uraian yang telah dipaparkan di atas maka menjadi jelas bahwa hanya Islam yang memiliki aturan yang sangat paripurna dalam mengatur kehidupan termasuk peraturan hubungan antara orangtua dan anak. Dan hal itu bisa terlaksana apabila ada institusi yang bisa mengawasi terlaksananya tanggungjawab orangtua terhadap anaknya dan sistem pendidikan yang mendidik dan mengarahkan anak-anak agar terbentuk kepribadian Islam. Institusi itu tak lain adalah sistem Khilafah Islamiyah. Wallahu’alam bishowab.