Oleh: Maman El Hakiem

Wafatnya ulama adalah musibah. Hal itu ditegaskan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aalihi sallam dalam sabdanya :
مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ
“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

Kehadiran ulama, adalah kemunculan bintang di malam hari. Seorang ulama lahir tidak secara instan, melainkan butuh proses penempaan ilmu dan pengalaman hidup. Ulama pun bukan titel atau gelar yang bisa diperoleh dari bangku sekolahan. Karena itu sertifikasi ulama atau dai sudah hampir dipastikan sarat dengan kepentingan politik pragmatisme kekuasaan.

Seorang ulama yang menjadi penerus cahaya para nabi, tidak akan membutuhkan pengakuan penguasa, karena fungsinya adalah menuntun umat pada jalan lurus kehidupan dan muhasabah (mengoreksi) kekuasaan. Menurut Imam Al Ghazali, agama yang menjadi ilmunya ulama adalah pondasi,sedangkan kekuasaan adalah penjaganya.

Rasa duka yang mendalam jika kita mendengar ada seorang ulama yang berpulang ke rahmatullah. Karena itu adalah musibah yang tak tergantikan, dunia dan seisinya tidak lebih berharga dari meninggalnya seorang ulama yang benar-benar berjuang menegakkan agama Allah di muka bumi. Malam terasa pekat, langit kelam tanpa kehadiran cahaya bintang gemintang.

Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang sahabat yang semasa jahiliyah begitu keras hatinya, namun semenjak masuk Islam hatinya lunak, bahkan ketika tahu Rasulullah Saw. meninggal dunia ia tidak bisa menerimanya. “Siapa saja yang mengatakan baginda Nabi telah wafat, akan kupenggal lehernya.” Saking besarnya rasa cinta dan tingginya penghargaan beliau kepada Rasul sebagai sosok yang mendakwahkan Islam.

Ulama yang menjadi pewaris nabi adalah mereka yang gigih berdakwah, tidak pernah mau menukar akidahnya dengan rayuan dunia, tidak mau “menjual” pemahaman agamanya dengan tawaran kekuasaan. Boleh jadi kehidupan mereka penuh dengan fitnah dan intimidasi, bahkan dipersekusi. Tetapi, ulama yang lurus tidak akan ;pernah takut dengan kematiannya. Dunia hanyalah persinggahan, sekedar berteduh sejenak, setelah rehat perjalanan harus segera dilanjutkan. Bagi ulama yang teguh memegang tali agama Allah, kematiannya dihadapi dengan senyuman, sementara dunia yang ditinggalkannya senantiasa bersedih. Karena langit menjadi kelam ditinggal cahaya bintangnya.

Wallahu’alam bish Shawwab.***