Oleh Nirwana Sadili
( Aktivis Muslimah Magetan)

Setiap pergantian tahun, semua mempunyai harapan baru di tahun selanjutnya begitu juga perempuan. Harapannya ditahun mendatang kondisi perempuan akan semakin sejahterah, dan mulia. Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengungkapkan harapannya ditahun mendatang pemerintah menekan kasus kekerasan terhadap perempuan.

Dilazir Antara – Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan Komisi Nasional (Komnas) Perempuan perlu menggunakan strategi baru dengan melibatkan pemerintah daerah untuk mengatasi dan menekan kasus kekerasan terhadap perempuan.

Pemerintah berkomitmen dalam mencegah kekerasan dan tindak diskriminatif terhadap perempuan, sehingga kerja sama dengan berbagai pihak terkait harus ditingkatkan, pesan Wapres.

Salah satu perwujudan komitmen Pemerintah tersebut juga dituangkan dalam Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) ke dalam Inventarisasi 37 RUU Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas di tahun 2021.(18/11/2020)

Sayangnya harapan tersebut tinggallah harapan, bahkan dapat diibaratkan jauh panggang dari api, salah satu buktinya, kemiskinaan , eksploitasi, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih sering dialami para perempuan. Mengharapkan perempuan menjadi sejaterah hanyalah mimpi bila masih tetap memakai sistem demokrasi kapitalis.

Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Meningkat

Komnas Perempuan mengatakan sejak awal 2020 sampai Oktober lalu menerima laporan kasus KDRT sebanyak 960, meningkat dari tahun sebelumnya, 944.

“Jenis kekerasan KDRT atau ranah personal yang menempati urutan pertama adalah kekerasan terhadap istri,” kata Komisioner Komnas Perempuan Siti Aminah Tardi kepada reporter Tirto, Senin (21/12/2020).

Kekerasan terhadap perempuan di ranah KDRT dalam bentuk ekonomi sebanyak 204; fisik 378; psikis 621; dan seksual 483. Sementara kekerasan dalam bentuk ekonomi tahun 2019 sebanyak 363; fisik 349; psikis 823; dan seksual 349.(tirto.id,22/12/2020)

Kompas.id melaporkan, Sepanjang 2020, terdapat 1.178 laporan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan pada 2019 yang tercatat 794 kasus dan 2018 sebanyak 837 kasus.(07/01/2020)

Fakta tersebut menunjukkan betapa perempuan masih jauh dari kondisi sejahterah. Padahal perempuan adalah tumpuan harapan lahirnya generasi tangguh dan berkualitas.

Penyebab Utamanya adalah Kesalahan Sistem Yang Diterapkan

Tidak bisa dipungkiri bahwa sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan saat ini adalah penyebab semua permasalahan. Penerapan sistem ini telah membawa seluruh manusia ke dalam jurang kesengsaraan, termasuk perempuan. Kapitalisme hanya mensejahterahkan segelintir orang, sebaliknya menyengsarakan mayoritas.

Penerapan sistem kapitalis-sekuler ini membua banyak keluarga mengalami kemiskinan. Ditambah lagi dimasa pandemi banyak kepala keluarga yang terkena PHK , sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Hal ini memaksa wanita bekerja untuk bisa bertahan hidup. Akibatnya, wanita lalai menjalankan tugas pokoknya kepada anak-anak dan keluarganya. Tidak berfungsi lagi sebagai ummu warabbatul bait. Lebih memprihatinkan lagi, ketika wanita bekerja di tengah-tengah masyarakat, mereka mengalami pelecehan atas kehormatannya, akibatnya perempuan rentan stress atas ketidakberdayaannya.

Selama sistem demokrasi kapitalis diterapkan dinegeri perempuan mustahil mendapatkan kesejahteraan dan kemuliaannya, sebab pandangan kapitalisme tidak bersikap manusiawi pada perempuan. Negara yang mengadopsi sistem kapitalisme ini tidak pernah memposisikan perempuan sebagai kehormatan yang wajib dijaga

Perempuan dianggap sebagai komoditas ekonomi yang membawa keuntungan pada Negara. Itulah mengapa Negara selalu mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan, karena anggapan mereka perempuan itu harus menjadi berdaya dan menjadi mesin penghasil uang.

Islam Mensejahtrerahkan Perempuan

Islam sungguh memuliakan perempuan. Perempuan sama seperti laki-laki di hadapan Allah, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 13, yang artinya “Sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa”. Kesadaran akan adanya pertanggungjawaban di akhirat menjadi pengikat bagi setiap Muslim untuk selalu taat pada aturan-Nya.

Islam hadir memberikan keadilan dengan memuliakan perempuan, dan memiliki pandangan yang luhur terhadap perempuan. Di dalam Islam kewajiban mencari nafkah terletak pada laki-laki, sedang wanita tidak dibebani kewajiban mencari nafkah. Kebutuhan pangan, sandang, dan papan adalah tanggung jawab laki-laki sebagai kepala rumah tangga.

Negara akan menjamin penyediaan lapangan kerja. Bagi rakyat yang tidak mampu, diperintahkan pada kerabat atau tetangganya untuk membantu. Jika tidak ada kerabat dan tetangga yang mampu, negara akan memenuhi kebutuhannya. Bagi rakyat yang tidak mempunyai modal untuk usaha, negara akan memberikannya. Sehingga, dalam sistem Khilafah tidak dijumpai kemiskinan ekstrem dan permanen.

Dengan demikian perempuan hanya akan sejahterah dan kembali kemuliaannya ketika diterapkan sistem Islam dalam naungan khilafah. Kholifah akan menjadi perisai bagi kaum muslimin termasuk perempuan.

Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai; orang-orang akan berperang di belakang dia (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad). Wallahu A’lam Bi shawab