Oleh: Indriyatul Munawaroh, S.Pd

(Aktivis Muslimah)

Tak dapat dipungkiri kejahatan seksual kini memang sedang merajalela. Tentu saja hal ini membawa pertanyaan yang harus diselesaikan oleh pemerintah.

Penantian penanggulangan kejahatan seksual pada anak akhirnya dijawab oleh pemerintah. Jawaban tersebut tampak pada penandatanganan Peraturan Pemerintah (PP), tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak (PP Kebiri Kimia). PP tersebut ditetapkan Jokowi per 7 Desember yang tertuang dalam PP Nomor 70 Tahun 2020 (Viva.com, 3/1/2021).

Selain bertujuan untuk menekan dan mengatasi kekerasan seksual terhadap anak, PP ini diharapkan dapat memberi efek jera terhadap predator seksual anak.

Wacana suntik kebiri bukanlah hal baru, tapi telah menuai pro dan kontra sejak tahun 2014. Kementerian dan Perlindungan Anak (PPPA), Nahar, menyampaikan bahwa kekerasan seksual pada anak harus ditangani luar biasa. Salah satunya dengan kebiri kimia terhadap pelaku yang dinilai telah merusak masa depan bangsa Indonesia (Kompas.com, 4/1/2021)

Sedangkan menurut Komnas Perempuan, Siti, pengebirian melanggar UU Nomor 5 Tahun 1998 tentang Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia (detiknews.com, 4/1/2021)

Dari pro-kontra dan ditandatanganinya PP Kebiri Kimia, benarkah suntik kebiri menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi kejahatan seksual terhadap anak? Akankah dapat menghentikan kasus serupa pada orang lain?.

Tentu hal ini menjadi tanda tanya besar kenapa pemerintah memilih solusi ini. Padahal efek dari suntik kebiri ini tidaklah ringan. Don Grubin, profesor psikiatri forensik di Universitas Newcastle, Inggris, menyatakan terdapat efek samping yang berisiko bagi pelaku (penerima obat) yang digunakan pada hukuman ini, yaitu pengapuran tulang atau osteoporosis, perubahan pada kesehatan jantung, kadar lemak darah, tekanan darah, dan gejala yang menyerupai menopause pada perempuan.

Beberapa negara pun telah mencabut hukuman tersebut. Jerman adalah salah satu yang menghentikan hukuman kebiri melalui operasi pada 2017 lalu. Amnesti International pun menyatakan praktik hukuman kebiri kimiawi dianggap sebagai “perlakuan yang tidak manusiawi”. Oleh lembaga pegiat HAM tersebut bahkan dinyatakan tidak sesuai dengan masyarakat demokratis yang beradab. (Amnesty International, Maret 2012)

Efektifkah Suntik Kebiri?

Kebiri dianggap sanksi tertinggi dan pemberian sanksi dianggap efektif untuk hentikan predator seksual. Suntik kebiri yang dilakukan kepada pelaku mungkin akan menghentikan si pelaku dengan risiko kesehatan yang tak manusiawi, tetapi tidak akan bisa membuat efek jera kepada orang lain. Dengan kata lain masih sangat memungkinkan orang lain melakukan kejahatan yang serupa.

Aksi predator dipicu oleh beberapa faktor yang menjadikan seorang bisa melakukan kejahatan tersebut. Pertama, minimnya iman individu. Iman menjadi benteng seseorang untuk menghalau tindakan-tindakan yang bertentangan dengan agama. Terutama dalam Islam, perilaku kejahatan seksual ini dilarang dan akan mendapatkan sanksi bagi pelakunya. Tentu seseorang yang takut akan dosa tidak akan berani melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam.

Faktor kedua, pola hidup sekuler yang ada dalam masyarakat. Sebut saja yang paling berperan saat ini adalah media informasi yang mengandung konten yang merangsang naluri seksual. Konten-konten pornografi dan porno aksi yang tidak tersaring dan merebak di dunia maya dapat diakses oleh siapa saja. Sehingga dapat membangkitkan naluri orang yang melihatnya. Selain itu kondisi di masyarakat yang mempertontonkan aurat, campur baur antar lawan jenis dapat pula merangsang hal-hal yang tidak diinginkan.

Faktor ketiga adalah negara gagal memberikan rasa aman dan sanksi yang memberikan efek jera. Wajar jika predator-predator anak terus bermunculan. Karena pelakunya sering kali pemain lama, sudah masuk penjara tapi malah makin “terampil” kejahatannya.

Solusi Solutif dari Islam. Syariat Islam telah menetapkan hukuman untuk predator anak berdasarkan fakta perbuatannya. Jika yang dilakukan adalah perbuatan zina, hukumannya adalah hukuman untuk penzina, yaitu dirajam jika sudah muhshan (menikah) atau dicambuk seratus kali jika bukan muhshan.

Jika yang dilakukan adalah sodomi (liwath), hukumannya adalah hukuman mati. Jika yang dilakukan adalah pelecehan seksual (at taharusy al jinsi) yang tidak sampai pada perbuatan zina atau homoseksual, hukumannya ta’zir.

Tidak hanya solusi kuratif seperti disebutkan di atas, akan tetapi langkah preventif juga perlu dilakukan. Tentunya ini tidak bisa dilakukan oleh individu, keluarga, atau masyarakat saja, tapi harus ada peran negara dalam penyelesaian secara komprehensif.

Negara bertugas menyaring konten-konten yang akan dikonsumsi masyarakat dan melarang hal-hal yang berbau porno dan merangsang syahwat. Negara akan melarang bisnis-bisnis yang mendukung perusakan akhlak dan iman seseorang. Negara juga mewajibkan menutup aurat ditempat-tempat umum baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Tak lupa negara juga harus menyediakan pendidikan yang memadukan iman dan takwa. Sehingga akan tercipta insan yang mempunyai iman sekuat baja.

Tentu aturan-aturan preventif dan kuratif ala Islam tidak bisa diterapkan dalam sistem saat ini yang memuja kebebasan dan materi. Aturan tersebut harus diterapkan tidak hanya satu aspek, pendidikan atau sosial saja tapi seluruh aspek kehidupan harus bersumber dari aturan Illahi.