Oleh : Dwi Maria

Meski masih menuai pro & kontra, vaksinasi covid-19 akan segera dilaksanakan secara serentak, tak terkecuali di Kabupaten Ponorogo. Dengan prioritas utama tenaga kesehatan sebanyak 7.000 orang, vaksinasi ini akan dilakukan di 41 fasilitas Kesehatan dengan 93 orang vaksinator yang telah mengikuti pelatihan.

Rahayu Kusdarini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo mengatakan, terkait sarana dan prasarana menyambut vaksinasi ini, Dinkes sudah menyiapkan 41 faskes yang telah dilengkapi dengan sarana penunjang vaksin sinovac. Dinkes juga memberikan pelatihan secara berlaka kepada 93 vaksinator yang di ambil dari tiap-tiap faskes yang ada di Ponorogo.

“Untuk vaksinator kita ambil dari Faskes, tiap faskes kami ambil 3 orang untuk menjadi vaksinator,” jelasnya. (Kominfo,5 Januari 2021)

.Bagi masyarakat yang pro terhadap program vaksinasi ini, tentu mereka akan menyambutnya dengan sukacita. Namun bagi masyarakat yang kontra, mereka akan berusaha mencari cara untuk menghindarinya.

Sebenarnya tidaklah mengherankan ketika ada masyarakat yang kontra terhadap vaksin covid-19, hal ini lebih disebabkan karena rendahnya tingkat kepercayaan rakyat pada pengusa akibat berbagai upaya yang diterapkan pemerintah dalam menangani wabah tidak menunjukkan hasil yang baik. Dibuktikan dengan masih tingginya angka penyebaran hingga saat ini.

Ditambah lagi belum tuntasnya penelitian efektifitas vaksin covid-19 sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Tim Peneliti Uji Klinis Vaksin Covid-19 Kusnandi bahwa tim belum mengetahui tentang efektivitas vaksin tersebut. Sebab poin itu belum selesai diamati. “Tapi kalau untuk efektivitas dan imunogenitas itu sedang dalam penelitian. Itu belum selesai,” ungkap Kusnandi yang dilansir dari Kompas TV sebagaimana dikutip dari Youtube IKA Unpad, Selasa (5/1/2021).
.
Pandangan islam terhadap vaksin
Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin (bakteri/virus yang telah dilemahkan) ke dalam tubuh manusia untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.

Hukum vaksinasi secara syar’i adalah sunah (mandub) karena termasuk dalam aktivitas berobat yang hukum asalnya sunah, dalilnya adalah perintah berobat sebagaimana dalam sabda Rasulullah Saw.,”Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan obat bagi setiap penyakit. Maka berobatlah kamu dan janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR Abu Dawud, no. 3376)

Tetapi perintah berobat ini bukan perintah wajib. Melainkan perintah sunah karena terdapat beberapa qarinah (petunjuk) dalam beberapa hadis yang menunjukkan berobat itu adalah anjuran (sunah), bukan kewajiban.

Di antaranya hadis Ibnu Abbas ra, ia berkata,“Seorang wanita berkulit hitam pernah menemui Nabi Saw. sambil berkata, ‘Sesungguhnya aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap [ketika sedang kambuh], maka berdoalah kepada Allah untukku. Nabi Saw. bersabda,“Jika kamu mau, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu mau, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu.” Wanita itu berkata, “Baiklah aku akan bersabar.” Wanita itu berkata lagi, “Namun berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap.” Maka Nabi Saw. mendoakan untuknya.” (HR Bukhari)

Hadis ini menunjukkan boleh tidaknya berobat, sebagaimana taqrir (persetujuan) Nabi Saw. terhadap wanita tersebut yang memilih bersabar.

Jika perintah berobat di atas digabungkan dengan qarinah tersebut, diperoleh kesimpulan perintah berobat yang ada bukanlah perintah tegas (jazim), yaitu wajib. Melainkan perintah anjuran (ghairu jazim), yaitu sunah.

Berdasarkan hukum sunahnya berobat inilah, maka vaksinasi dihukumi sunah. Karena vaksinasi termasuk dalam aktivitas berobat, khususnya pengobatan preventif (al thibb al wiqaa`iy) yaitu pengobatan sebagai pencegahan sebelum munculnya penyakit.

Hukum asal berobat yang sunah tadi, terdapat dua syarat:
Pertama, bahan vaksinnya tidak mengandung zat najis. Karena telah terdapat larangan syariat untuk berobat dengan zat yang haram/najis. Sabda Nabi Saw., “Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan obat bagi setiap penyakit. Maka berobatlah kamu dan janganlah kamu berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR Abu Dawud, no 3376).

Kedua, vaksinasi yang dilakukan tidak boleh menimbulkan bahaya (dharar) bagi orang yang divaksinasi, sesuai hadis Nabi Saw., “Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun bahaya bagi orang lain.” (HR Ahmad). 

Hukum Membeli Vaksin dari Negara yang Memusuhi Islam

Firman Allah SWT,
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al Mumtahanah: 8)

Maka dari itu, haram hukumnya melakukan muamalat dengan nonmuslim yang memusuhi atau memerangi umat Islam. Karena muamalat ini adalah bentuk tolong menolong (ta’awun) dalam dosa dan pelanggaran syariat yang telah dilarang oleh Allah SWT.

Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS Al Maidah: 2).

Wallahu a’lam bishshawab.