Oleh: Umi Fia (Aktivis Muslimah Peduli Umat).

Seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi di kabupaten Demak, Jawa Tengah. Kini sang ibu yang berinisial S (36) mendekam dalam sel tahanan Polsek Demak Kota.

” Ditahan sejak kemaren dipolsek (Demak) kota. Karena berkasnya sudah lengkap atau P21,” ujar kuasa hukum terlapor S (36), Haryanto saat dihubungi detik com, sabtu (9/1/2021).

Haryanto menjelaskan perempuan yang sehari – harinya berjualan pakaian dipasar Bintoro tersebut ditahan setelah menjalani tes swab virus Corona dirumah sakit. Setelah dinyatakan negatif virus Corona, kemudian ditahan.

Haryanto menambahkan, S dilaporkan oleh anak pertamanya yang berinisial A (19), hanya karena cekcok masalah baju. S yang telah lama berpisah dengan suaminya memiliki tiga orang anak. Setelah perceraian A ikut dengan ayahnya tinggal di jakarta. Sedangkan adiknya yang masih remaja dan balita tinggal bersama ibunya di Demak.

Saat itu A mendatangi rumah ibunya, kemudian A mencari bajunya sambil ngomel – ngomel dan sempat mendorong ibunya hingga jatuh. Menurutnya, saat sang ibu akan kembali berdiri reflek menyentuh anaknya, hingga kuku sang ibu mengenai pelipis sang anak, tapi ibunya tidak merasakan klo kena kukunya. Dari hasil visum ada luka kira – kira 2 cm di pelipis si anak. Berbekal hasil visum tersebut, lanjut Haryanto, S dilaporkan sang anak kepada polisi keesokan harinya. Dengan dugaan penganiayaan dan kekerasan dalam rumah tangga. S dijerat dengan pasal 44 ayat 1 Undang – Undang nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan KDRT subsider pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.

Inilah potret keluarga masa kini, sungguh miris, hanya karena masalah yang sepele seorang anak tega memenjarakan ibu kandungnya. Ibu yang telah mengandungnya selama 9 bulan, letih dan perih nya pengorbanan seorang ibu dibalas dengan hadiah sebuah kamar kecil, pengap, dan berpagar jeruji besi.

Kerusakan moral remaja saat ini sesungguhnya tidak lain disebabkan karena rusaknya sistem yang diterapkan di negeri ini, yaitu sistem kapitalisme sekulerisme. Sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan, gagal mencetak generasi berkepribadian Islam, hingga tercetaklah generasi bobrok yang jauh dari cinta dan kasih sayang terhadap kelurganya. Nilai liberal gagal menghadirkan penghormatan terhadap ibu, gagal menghasilkan ketenangan, justru menghasilkan generasi durhaka.

Ajaran Islam yang terlanjur dipahami sebatas ritual saja, tak berpengaruh dalam perilaku keseharian sekarang muslim. Minimnya pemahaman terhadap Islam, ketika sebuah keluarga di uji dengan suatu permasahan hidup, mereka mudah menyerah pada keadaan, bahkan mudah terjerumus kedalam kemaksiatan.

Akibat penerapan sistem kapitalisme sekularisme ini, negara telah gagal menjadi pengurus dan penjaga umat. Sehingga tidak sedikit keluarga yang jauh dari keharmonisan, sebuah keluarga tak bisa lagi menjadi benteng perlindungan dan tempat yang nyaman bagi generasi.

Tentu hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja, umat Islam harus segera tersadarkan dan bangkit dari kehidupan yang bobrok dan terpuruk. Yaitu dengan jalan kembali kepada Islam kaffah. Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan pasti bisa memberikan solusi terhadap seluruh permasalahan yang menimpa manusia, dengan terperinci, tuntas, dan jelas. Termasuk masalah keluarga. Dan aturan yang ada dalam Islam bersumber dari Allah swt pencipta manusia, bukan bersumber dari akal manusia yang lemah dan terbatas, sebagaimana sistem saat ini, sehingga aturan dalam Islam memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia dan tidak akan berubah sampai akhir zaman.

Dalam Islam negara akan menjaga tatanan keluarga dan masyarakatnya. Sehingga terbentuk sebuah keluarga yang harmonis, saling menasehati agar tetap menjaga ketaatan kepada Allah, dan interaksi antar keluarga di jaga sehingga penghormatan antara anak dan orang tua terwujud sebagaimana mestinya.

Namun penerapan Islam kaffah ditengah – tengah keluarga dan masyarakat tidak bisa dilakukan oleh individu saja, tetapi butuh peran negara. Negara menerapkan Islam secara kaffah ditengah umat. Sehingga negara akan mendidik umat berkepribadian Islam dan bertaqwa. Karena dengan ketaqwaanlah yang bisa menjadi penentu lahirnya individu – individu muslim yang hanya patuh kepada Allah SWT, ikhlas dengan Islam yang diyakininya dan hanya mau di atur oleh aturan Allah SWT. Alhasil ketenangan, kenyamanan, serta kehidupan keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang bisa diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Wallahu a’lam bi as- sawab.