Episode 4: ‘The Real Miracle”
Oleh: Maman El Hakiem

Keajaiban itu ada. Bukan pada sesuatu yang di luar kemampuan manusia, melainkan keajaiban orang-orang yang bersabar. Manusia dalam kehidupannya dihadapkan pada keadaan yang mampu dikuasainya dan apa yang justeru menguasainya. Saat Allah SWT memberikan karunia anak laki-laki atau perempuan, itulah keadaan yang di luar kemampuan manusia. Menerima qada artinya menyerahkan segala baik dan buruknya pada penilaian Allah SWT.

Pada kehamilan anak ketiga kami, dianugerahi seorang bayi perempuan. Rasanya bahagia setelah dua anak sebelumnya adalah laki-lak. Kebahagian tersebut bagi seorang ibu tidak terkira, karena anak perempuan setidaknya bisa menjadi teman yang memiliki karakter jiwa kewanitaan seperti ibu. Anak pertama Zaidan, lalu Fathan lebih dominan gen ayahnya, Mas Harun.
Persalinan anak ketiga kami di sebuah rumah sakit, meskipun lahir secara normal, namun prosesnya harus mengalami induksi.

Nama bayi cantik tersebut adalah Hafizah, harapan kami kelak ia menjadi penghapal Al Quran. Namun, kesabaran kami diuji karena Hafizah divonis dokter terkena sepsis neonatorum, yaitu infeksi darah yang terjadi pada bayi yang baru lahir. Infeksi ini bisa menyebabkan kerusakan di berbagai organ tubuh bayi.

WHO memperkirakan terdapat sekitar 3 juta bayi di seluruh dunia meninggal karena sepsis neonatorum setiap tahunnya. Astagfirullah, ternyata puteri kecil kami harus segera ditangani dengan serius. Karena jika terlambat, hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi. Sambil berurai air mata, aku terus beristighfar kepada Allah, mencoba memahami cobaan yang Allah berikan bagi kami.

“Sabar ya Defi, semua ini pasti ada hikmahnya.” Ucap beberapa kerabat yang menjenguk Hafizah.

“Terima kasih atas doanya, semoga Hafizah bisa normal sebagaimana kakak-kakaknya.” Aku hanya bisa menjawab dengan tatapan yang berkaca-kaca, terlebih melihat Hafizah di ruang instalasi khusus. Beberapa dokter spesial berupaya semaksimal mungkin menyelamatkan jiwanya.

Ruang tunggu rumah sakit serasa penjara karena detik jam serasa lama sekali. Setiap menatap Hafizah berbaring, air mata berderai karena ujian berat ternyata harus diterima bayi mungil yang baru saja lahir ke alam dunia. Beruntung suami selalu mensuport agar jiwaku bisa bertahan dalam kesabaran.

“Keajaiban di dunia itu sebenarnya bukanlah bangunan-bangunan kuno atau peninggalan sejarah, melainkan jiwa-jiwa kuat yang mampu bersabar.” Ucap Mas Harun yang senantiasa memberi semangat. Hafizah akhirnya bisa melewati masa-masa kritisnya, dokter spesialis menyatakan Hafizah sembuh dari infeksi yang cukup mematikan tersebut.

Di balik setiap kesulitan atau ujian hidup, sebenarnya Allah SWT telah menyiapkan pahala kesabaran dan hikmah yang luar biasa.

Tak terasa Hafizah, kini usianya menginjak usia 9 tahun, namun kemampuan hafalan Al Qurannya sungguh luar biasa. Nama adalah harapan dan doa terbaik orang tua itulah keajaiban bagi anak yang sesungguhnya. The real miracle. (Bersambung)