Oleh: Ulul Ilmi

Hidup nyaman dengan fasilitas dan sarana dan prasarana yang memadai tentu menjadi harapan semua masyarakat. Impian yang tentu sangat diharapkan terutama warga di daerah yang belum layak sarana dan prasarananya baik sarana pendidikan, kesehatan, transportasi dan lain sebagainya.

Diberitakan dilaman Ponorogo, KOMPAS.com- Sebuah jembatan bambu di Kabupaten Ponorogo disebut menghabiskan dana Rp 200 juta. Jembatan tersebut menghubungkan Desa Pandak dan Desa Bulak.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Ponorogo, Jamus Kunto menjelaskan tentang jembatan anyaman bambu senilai Rp 200 juta yang viral di media sosial.

Menurut Jamus anggaran Rp 200 juta itu kemudian digunakan untuk pembangunan pondasi jembatan bagian kanan dan kiri. Pembangunan pondasi tersebut sudah diselesaikan ditahun 2020. Pembangunan selanjunya akan dilakukan secara bertahap di tahun berikutnya. Benarkah pembangunan akan berlanjut?

Muncul tanda tanya besar benarkah dana sebesar Rp 200 juta itu hanya dipakai untuk pembangunan pondasi jembatan? Atau dana itu justru disunat dan dijadikan ajang bancakan oleh segelintir orang?

Pertanyaan tersebut muncul seiring dengan viralnya jembatan bambu dengan biaya Rp 200 juta ramai di medsos. Yang kemudian disikapi dengan berbagai macam dugaan.

Kepercayaan Rakyat Luntur Mendapatkan pelayanan adalah hak bagi rakyat atas penguasa. Pelayanan terbaik tanpa pamrih. Namun, ketika pelayanan diberikan secara minimalis bahkan diiringi adanya praktek-praktek kecurangan, inilah yang akhirnya menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap penguasa.

Kita melihat saat ini kepercayaan masyarakat terhadap penguasa makin menurun. Hal ini disebabkan karena sering kali terjadi korupsi, janji palsu, serta adanya pencitraan serta hal-hal lainnya dikalangan penguasa.

Korupsi baru-baru ini terkait lobster dan dana bansos Corona misalnya, dan masih banyak lagi kasus korupsi lainnya, adalah hal-hal yang memunculkan rasa ketidakpercayaan dan pada akhirnya muncul dugaan-dugaan buruk terhadap penguasa dan pejabat pemerintahan.

Jika demikian wajar kalau adanya dana 200 juta untuk jembatan bambu juga menimbulkan tanda tanya.

Sistem Kapitalis Bikin Hidup Makin Miris

Beginilah hidup dalam sistem Kapitalis, semua serba minimalis. Bahkan kehidupan makin sulit, betul-betul miris. Karena memang dalam sistem kapitalis yang memiliki asas sekuler yakni memisahkan agama dari kehidupan menjadikan semua serba boleh alias bebas berbuat apapun, termasuk menzalimi rakyat dengan menipu, korupsi dan lain sebagainya tanpa takut dosa.

Dalam sistem kapitalis negara tidak lagi menjadi pelayan dan pelindung rakyat. Kondisi terbalik rakyatlah yang justru menjadi pelayan dan pelindung bagi negara. Membiayai berbagai kebutuhan negara dengan pembayaran pajak yang kian hari kian mencekik, termasuk untuk membayar utang negara yang makin membengkak.

Namun apa yang kemudian diperoleh rakyat adalah kehidupan yang makin sempit. Kesulitan hidup masih terus menghimpit rakyat. Sulitnya mendapatkan pendidikan yang layak, sulitnya memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, sarana transportasi yang tidak layak disebagian wilayah masih banyak ditemui. Termasuk masih banyak sebagian masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan primer berupa sandang, pangan dan papan. Inilah kehidupan dalam sistem Kapitalis yang terajadi saat ini.

Kepemimpinan Dalam Islam Itu Melayani

Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya kepemimpinan merupakan sebuah amanah, dimana kelak di hari kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan. Kecuali mereka yang melaksanakan dengan cara yang baik, serta dapat menjalankan amanahnya sebagai pemimpin.” (Riwayat Muslim)

Begitu besar perhatian Islam terhadap persoalan kepemimpinan, bahkan persoalannya tidak terbatas didunia saja namun pertanggungjawabnnya hingga diakherat, yakni dihadapan Allah SWT. Begitu besar sayang dan cintanya Rasulullah kepada umatnya, beliaupun mengingatkan hal tersebut. Bahkan beliau Rasulullah SAW menjelaskan dengan gamblang dalam hadits tersebut.

Bahwa kepemimpinan itu bukan sekedar jabatan duniawi, profesi atau ajang bisnis untuk mengeruk keuntungan bersama keluarga dan koleganya. Namun kepemimpinan harus dijalankan sebagaimana mestinya yakni melayani rakyat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bersabda,”pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Ibnu Asakir, Abu Nu’aim).

Didalam Al Ahkam as -Sulthoniyah, juz I, hlm 3 disebutkan bahwa tugas utama penguasa sebagai pelayan rakyat terfokus pada dua hal, yaitu hirosatudin dan siyasatuddunya (melindungi agama mereka dan mengatur urusan dunia).

Pelayanan bidang pertama dengan menjamin setiap warganegara agar memahami ajaran agamanya, mampu mengamalkannya dengan baik, dan melindungi agama mereka dari berbagai bentuk kesesatan. Sedangkan, siyasatuddunya berupa pelayanan terhadap rakyat agar bisa hidup layak.

Tuntunan dari hadits-hadits tersebut yang mendorong Umar bin Khattab RA sering berkeliling dimalam hari untuk melihat kondisi rakyatnya. Saat ada yang mengeluh kekurangan pangan, maka ia menolongnya dan memanggul karung gandum sendiri.

Dalam kesempatan lain Umar pernah berkata,”Seandainya seekor keledai terperosok di Baghdad, niscaya Umar akan ditanya, mengapa tidak kau ratakan jalannya?” MasyaAllah, begitulah kepemimpinan dalam Islam.

Bila penguasa menjalankan tugasnya yakni menjadi pelayan rakyat sebagaimana contoh Rasulullah SAW, akan tegaklah keadilan dan umat manusia pun berada dalam kesejahteraan dan Ridho Allah SWT.

Namun, tidaklah semua itu akan terwujud kecuali hanya dengan tegaknya Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah. Khilafah yang merupakan negara berdaulat tanpa intervensi negara lain, sehingga betul-betul bisa mengatur rakyatnya berdasarkan ketetapan Allah dan RasulNya. Karena hanya hukum Allah SWT yang layak diterapkan, tidak ada hukum lain.

Allah SWT berfirman:“ Apakah hukum jahiliyah yang mereka cari? Dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada [hukum] Allah bagi orang-orang yang yakin.”(QS. Al-M’aidah: 50).

Wallahu’alam Bishawab