Oleh: Daryunah, Pemalang, Jawa Tengah

Setiap peradaban generasi muda tentu sangat menentukan. Negara yang berhasil membangun manusia unggul maka dia sedang menyiapkan masa depan cerah. Dibalik gemilang dan hancurnya peradaban, selalu ada peran pemuda disana. Sebab disitulah rahasia bagaimana sebuah peradaban itu dibangun.

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi ( Ditjen Vokasi ) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud ) telah melakukan penyesuaian kurikulum SMK dalam rangka mendukung program link and match. (Detiknews 9/1)
Dengan alasan inilah kurikulum SMK diarahkan untuk mengisi sektor industri dan dunia kerja.

Generasi muda di usia produktif yang menjadi modal besar dalam membangun sebuah peradaban. Namun ada perbedaan makna kata ” Produktif ” Menurut Kapitalis dan Islam. Bagi kapitalis, produktif adalah kreatif menghasilkan uang, totalitas dalam bekerja dan mandiri dalam berwirausaha. Sedangkan menurut islam produktif adalah totalitas mengambil peran dunia dan akhirat. Disini generasi muda bukan sekedar kerja dan mengumpulkan harta. Namun ia menyadari betul perannya sebagai hamba Allah. Kewajiban dunia dan akhirat harus berjalan seimbang.

Dalam islam generasi muda dibekali ilmu yang tinggi dan diiringi dengan ketakwaan. Sehingga diharapkan dapat menjadi aset bangsa penggerak ke arah perubahan lebih baik.
Imam syafi’i pernah berkata ” Hayaatu al-faa bil ilmi wa at-tuqa. “( hidupnya seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa).