Oleh: Nurmianti Sulis (Mahasiswi Halu Oleo)

Aksi unjuk rasa para pendukung Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berujung kerusuhan di Gedung Kongres, Capitol Hill, Washington, AS, mengundang berbagai reaksi netizen di media sosial. Peristiwa ini menjadi bahasan netizen seluruh dunia, ditandai dengan ‘Trump’ bertengger di deretan trending topic Twitter dunia. Selain Trump, topik lain yang juga ramai di-tweet terkait peristiwa ini adalah America dan Capitol.


Sebelumnya diberitakan, ratusan pendukung Trump menyerbu dan menyerang Gedung Capitol Hill dalam upaya membalikkan kekalahan Trump dalam Pilpres AS. Para pendukung Trump yang awalnya berunjuk rasa di luar gedung tiba-tiba menerobos masuk ke dalam dan memicu kekacauan serta melakukan aksi perusakan seperti memecahkan kaca jendela, menduduki kantor dan ruangan di dalamnya. (Detiknet/07/01/2021).


Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo mengatakan kerusuhan di Gedung Capitol tidak dapat diterima atas alasan apapun. “Ketidakpatuhan hukum dan kerusuhan di sini dan di seluruh dunia akan selalu tidak diterima,” kata Pompeo dalam akun Twitternya, Kamis (7/1/2021).
Para anggota Kongres AS pun terpaksa dievakuasi kelokasi aman. BahkanWakilPresiden AS, Mike Pence, yang memimpin jalannya sidang sebagai Presiden Senat AS, juga ikut dievakuasi ketempat aman. Para pendukung Trump itu menggulingkan barikade yang dipasang dan bentrok dengan polisi yang berjaga di lokasi.
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan kerusuhan di Washington sebagai insiden yang “memalukan”.AS adalah simbol demokrasi di seluruh dunia dan sangat penting bagi AS untuk melakukan transisi kekuasaan dengan damai dan tertib, cuit Johnson dalam akun Twitternya. (Beritasatu.com/07/01/2021).


Ganti Demokrasi dengan Islam
Demokrasi adalah sebuah sistem negara yang menjadikan kedaulatan dan kekuasaan di tangan rakyat. Rakyatlah yang di percayakan untuk membuat undang-undang. Berbeda dengan sistem Islam, yang mana kedaulatan di tangan syariat dan dilakukan sepenuhnya oleh Khalifah.
Teori pada sistem Demokrasi berbeda dengan fakta yang terjadi, sehingga membuat masyarakat banyak yang tidak puas alias kecewa. Seperti kerusuhan yang terjadi akibat Pemilu Demokrasi di AS, menunjukkan ada yang salah dalam Demokrasi, salah satunya karena hukum dan kebijakan atas dasar kepentingan penguasa semata.
Seperti yang di jelaskan dalam salah satu buku How Demokracies Die yang di tulis oleh Profesor Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, bagaimana demokrasi mati secara perlahan di tengah pejabat atau presiden diktator yang terpilih, dan dapat di katakan kemunduran demokrasi hari ini di mulai dari kotak suara alias sebuah pemilihan umum.
Bandingkan dengan Sistem Islam, pemerintahan dibangun atas landasan akidah Islamiah, sehingga bukan kekuasaan / materi yang menjadi tujuan utama kehidupan manusia, tetapi mencari ridha Allah swt, sesuai standar halal-haram.
Allah SWT berfirman “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu Muhammad hakim pemutus terhadap perkara yang mereka perselisihkan”. (QS An Nissa 4:65)
Karena itu, jika umat Islam masih menggunakan sistem Demokrasi, jangan harap syariat Islam dapat di terapkan secara keseluruhan (kaffah). Yang harus di lakukan kaum muslimin saat ini hanya satu, ganti Demokrasi, perjuangakan penerapan syariat Islam secara kaffah, sehingga rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam) kembali terwujud. Wallahu’aalam bishshowab[].