Oleh : Emmy Emmalya (Pegiat Literasi)

Mukjizat adalah kemampuan atau peristiwa luar biasa yang diberikan Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya. Mukjizat biasanya berupa keajaiban-keajaiban yang sulit diterima akal sehat. Allah menganugerahkan mukjizat kepada para utusan-Nya sebagai bukti kebesaran Allah agar manusia semakin beriman. (Dalam Buku 99 Kisah Mukjizat Rasul).

Seperti halnya Nabi-Nabi yang lain, Nabi Muhammad Saw juga memiliki mukjizat, dari sekian mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw, yang paling istimewa adalah mukjizat Al qur’an.

Selain Al qur’an Rasulullah memiliki mukjizat lain, dua di antaranya: pertama, Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, An-Nasai dan Tirmidzi, yaitu tangan Rasulullah bisa memancarkan air.  Kedua, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Bukhari, Muslim dan Ahmad bahwa Rasulullah bisa membelah bulan.

Dari dua mukjizat yang dimiliki oleh Rasulullah, hanya dengan Al qur’an saja Rosulullah menantang kaum quraisy. Mengapa? Karena Rasulullah mengetahui bahwa Al qur’an adalah mukjizat yang berlaku hingga yaumul akhir. Yang apabila hukum-hukum yang termaktub di dalamnya diterapkan maka kemukjizatan Al qur’an akan bisa dirasakan oleh manusia yaitu berupa kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat.

Kemukjizatan Al qur’an juga teruji hingga hari ini, nyatanya hingga detik ini tidak ada yang bisa membuat semisalnya dan keontentikannya tetap terjaga.

Maka dengan kemukjizatan Al qur’an seperti itu mengapa sebagian kaum muslimin hari ini masih meragukan bahkan menolak penerapan hukum-hukum yang termaktub didalamnya?

Sayangnya, Umat Islam hari ini lebih menyukai beragama sesuai dengan kesenangannya saja. Ketika menikah, melahirkan, mendoakan dan memandikan orang yang meninggal mereka mau memakai hukum Islam. Tapi, ketika bernegara, berekonomi, berpolitik dan berbudaya tidak bersedia untuk mengambil Islam. Mereka berdalih Islam agama yang kompromis, fleksibel dan mampu untuk mengikuti zaman.
Padahal mereka sudah salah paham terhadap agamanya sendiri.

Islam adalah agama yang komprehensif, Islam adalah sebuah Ideologi yang mengajarkan umatnya untuk selalu menjadikan Islam sebagai rujukan dalam kehidupan.

Dalam al qur’an tidak ada perintah untuk menanggalkan hukum-hukum Allah dalam kehidupan manusia. Bahkan dalam Al qur’an tertera kewajiban untuk menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai petunjuk hidup.

Inilah hasil dari penancapan ide-ide sekularisme dalam benak-benak kaum muslimin, sehingga mereka tidak mengenal karakter agamanya sendiri.

Kaum muslimin menjadi individu-individu yang memiliki karakter yang ambigu. Rajin sholat tapi masih makan harta riba. Rajin sholat tapi masih bergaul dengan bukan mahrom alias pacaran. Rajin sholat tapi menolak penerapan syariat Islam dalam bingkai khilafah. Berislam tapi setengah-setengah seperti memilih hidangan di meja prasmanan.

Sosok seperti inilah yang sebenarnya dikehendaki oleh orang-orang kafir, muslim moderat alias toleran yang mau menerima ajaran diluar Islam untuk diterapkan dalam gaya hidupnya.

Maka memperjuangkan untuk menerapkan hukum-hukum Islam itu adalah keniscayaan karena Allah sudah memerintahkan demikian, dan Rasulullah pun sudah mencontohkan.

Suatu dosa besar apabila sebuah kewajiban dianggap tidak penting atau malah dianggap tidak ada. Sudah saatnya kaum muslimin memperjuangkan penegakan hukum-hukum Allah, agar mukjizat yang terkandung dalam Al qur’an bisa dirasakan oleh semua umat manusia baik muslim maupun non muslim.
Bahkan hewan dan seluruh alam semesta pun akan merasakan keberkahannya karena penerapan Al qur’an.

Oleh karena itu, apabila kita semua menginginkan keluar lagi pandemi yang tengah melanda saat ini, dan keluar dari semua kesengsaraan yang kita rasakan maka bersegeralah menuju seruan Allah dan Rosul-Nya untuk segera menerapkan syariatnya agar mukjizat Al qur’an bisa kita rasakan.

Sebagaimana janji Allah dalam Qur’an surat Al A’raf ayat : 96,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Ketika hukum syariat diterapkan maka akan dirasakan mashlahatnya oleh semua manusia sebagaimana yang disebutkan dalam kaidah ushul fiqih :

“Haitsu maa yakuunu asy-syar’u takuunu al-mashlahatu”

(Apabila hukum syara’dilaksanakan, maka pasti akan ada kemaslahatan).

Dalam hal ini, Ulama ushul telah merincikan bentuk kemashlahatan yang dapat dicapai oleh manusia, apabila hukum Islam dilaksanakan secara total.

Bentuk kemashlahatan yang dimaksud adalah Mashlahat Dharuriyat, yaitu kemashlahatan yang diperoleh manusia untuk mempertahankan (melestarikan) masyarakat. Apabila kemashlahatan itu tersebut tidak dapat diperoleh maka hidup manusia akan mengalami kerusakan.

Kemashlahatan yang dimaksud adalah sebagai berikut : pertama, terjaganya Aqidah. Mashlahat ini tercapai jika hukuman kepada orang murtad diterapkan, yaitu dibunuh. Termasuk hukuman terhadap orang-orang yang menyebarkan ide kufur dilaksanakan.

Kedua, terjaganya Daulah. Mashlahat ini akan tercapai jika hukuman kepada pelaku makar dilaksanakan, yaitu diperangi dengan tujuan untuk mendidik.

Ketiga, terjaganya keamanan. Mashlahat ini akan tercapai jika hukuman atas pembegal dilaksanakan, yakni dibunuh dan disalib ataupun diasingkan dari negeri.

Keempat, terjaganya harta. Mashlahat ini akan tercapai jika hukuman kepada pencuri diterapkan, yakni dipotong tangannya apabila telah memenuhi syarat dipotong. Juga apabila hukuman ta’zir atas pelaku risywah (sogok-menyogok), korupsi dan sejenisnya dilaksanakan.

Kelima, terjaganya keturunan. Mashalat ini tercapai jika hukuman pada pelaku pezina dilaksanakan, yaitu dijilid 80 kali dan dirajam hingga mati. Termasuk disyariatkannya menikah sebagai jalan untuk menyalurkan naluri seksual, serta diharamkannya zina, liwath (homosex, lesbiandan sejenisnya) dan sebagainya.

Keenam, terjaganya kemuliaan. Mashlahat ini tercapai apabila hukuman penuduh zina dilaksanakan, yaitu dijilid 80 kali, apabila tuduhannya tidak terbukti.

Ketujuh, terjaga akal. Mashlahat ini tercapai bila hukuman peminum khamr dilaksanakan, yaitu dijilid 40 kali. Terjaganya nyawa. Mashlahat ini tercapai apabila hukuman atas pembunuh dilaksanakan, yaitu dibunuh atau dikenakan diyat dan lain-lain. (Abdul Qodim Zallum, Nidzamul Hukmi fil Islam).

Dengan demikian, pelaksanaan pemeliharaan tujuan-tujuan ini wajib adanya, karena merupakan perintah dan larangan dari Allah Swt, bukan karena ia memghasilkan nilai-nilai maslahat materi semata. Wallahu’alam bishowab.