Oleh: Maman El Hakiem

Setiap anak memilki mimpi untuk sukses di masa depan. Bermimpi bisa membahagiakan orang tua, dan bermimpi memiliki keluarga sakinah mawardah warrahmah adalah harapan tertinggi di dunia. Apakah itu semua satu hal yang pasti bisa diraih atau hanya sekedar angan-angan kosong belaka?

Jika kita yakin kepada Allah SWT, maka segala sesuatu menjadi mungkin bagi makhluknya. Tinggal bagaimana sang anak memiliki kesiapan untuk meraih itu semua. Kesuksesan seorang anak tak pernah lepas dari pengasuhan sang Ibu. Ibu seperti apa yang mampu membentuk karakter kuat, beriman, dan mendidik anaknya dengan pendidikan terbaik. Sang Ibu yang belajar mendidik hanya dari sumbernya yang Maha Memiliki Ilmu yaitu Allah SWT.

Bagi seorang ibu yang mengasuh empat anak dan tiga keponakan, awalnya seperti beban yang berat. Karena kehidupan mereka dalam satu rumah, tentu harus pula diperhatikan hukum syariat yang menjadi pembeda interaksi lawan jenis. Keponakan jika sudah baligh statusnya bukan mahram buat anak-anak kandungku. Karena itu harus disiapkan agar mereka kelak bisa memahami agama secara benar.

“Nabila, Fadil dan Zulaikha adalah tiga keponakan yang kelak tentu harus paham tentang urusan agama ini. Mereka yang dibesarkan dari kecil, pada saatnya harus belajar mandiri dan terpisah dari kami.

Nabila yang biasa dipanggil Abil, bercita-cita menjadi seorang pengusaha resto, begitu akrab denganku. Sering ia membantu masak di dapur, bahkan sepertinya ia sangat care padaku, serasa ibu kandungnya sendiri. Ia tidak sungkan memanggil mamah, mungkin karena dari kecil tinggal bersama.

“Mah, biar Abil saja yang menyapu halaman rumah, karena kelihatannya mamah capek sekali’” Ucap Nabila yang selalu pengertian. Karena memang benar hari itu aku cukup lelah, baru saja masak rendang yang membutuhkan waktu lama.

“Ya, Abil….oh iya, jika kamu memiliki mimpi dan cita-cita menjadi seorang pengusaha resto, selain harus berdoa, berusaha lebih rajin belajarnya, terutama menekuni bidang kuliner ya!” Karena mimpi itu awalnya gratis, tetapi untuk mewujudkannya harus dibeli dengan pengorbanan. Mimpi sekedar kunci, dirimu sendirilah yang harus berjuang mencari pintu kesuksesan dimana beradanya.” Nasihatku agak panjang.

“Ya, mah…nasihatnya selalu Abil perhatikan, mohon doakan agar menjadi pengusaha yang sukses dunia akhirat. Sebagaimana Sayidina Khadijah yang taat syariat.” Nabila selalu membuatku bangga karena ia begitu memahami maksud dari setiap nasihat.

Kehidupan adalah waktu yang berputar, usia adalah modal yang berharga untuk membeli mimpi-mimpi di masa depan. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia, jika segalanya dikaitkan dengan perintah dan larangan Allah SWT. Dari Nabila, aku belajar bagaimana mimpi seorang keponakan yang harus bisa diwujudkan dengan kehidupan di saat segalanya serba sulit, sistem kapitalisme telah membuat semuanya serba mahal, bahkan sekedar mimpi pun diintimidasi. (Bersambung).