Oleh: Linda Kamil

Cerita rakyat dari daerah Sumatera Barat sepertinya lagi naik daun yakni cerita mengenai “Malin Kundang Anak Durhaka”. Cerita ini berkisah tentang seorang anak yang telah berhasil dan kaya, namun tidak mengakui ibunya yang miskin sebagai ibu kandung.
Anak di zaman dulu durhaka karena sudah kaya tidak mengakui ibu kandungnya yang miskin.

Namun, anak durhaka di zaman ini beda lagi masalahnya, kadang masalah sepele tega membunuh, menyiksa, memukul dan melaporkan ibu kandungnya ke polisi.

Seperti yang terjadi di Demak, Jawa Tengah, seorang anak melaporkan ibu kandungnya ke polisi. Sumiyatun (36) harus berurusan dengan hukum karena dilaporkan anak kandungnya, Agesti (19) dalam kasus KDRT. (kumparan, 12/1/2021).

Kasus di atas hanya sebagai contoh kecil karena masih banyak lagi kasus-kasus anak durhaka yang terjadi di zaman sekarang ini. Tidak sepantasnya seorang anak memenjarakan ibu kandung sendiri.
Ibu yang telah melahirkan, menyusui, merawat, mengasuh, mendidik dan membesarkan kita. Apakah pantas kita durhaka kepadanya?

Namun baik zaman dulu maupun zaman sekarang, Malin Kundang itu tetap ada. Sehingga kita pun bertanya, kenapa ini bisa terjadi?

Hal ini terjadi karena tidak diterapkannya aturan yang berasal dari Sang Pencipta manusia yaitu aturan Allah Swt.
Oleh karena tidak diaturnya kehidupan ini dengan aturan yang shahih (Islam) maka terjadilah permasalahan.

Sistem yang dipakai saat ini adalah sistem yang diadopsi dari peradaban Barat dengan nilai-nilai liberal dan materialistik. Peradaban Barat yang liberal ini menyebabkan kerusakan masyarakat yang ditandai dengan merebaknya krisis sosial, keruntuhan institusi keluarga, meluasnya kriminalitas serta mewabahnya kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Betapa para ibu kita saat ini sebagaimana gambaran masyarakat kaum muslimin pada umumnya, lebih suka mengadopsi pemikiran yang bersumber dari paham kapitalis sekuler daripada menjadikan Islam sebagai standar berpikir dan berperilaku.
Dan hal ini diperparah oleh fakta, bahwa sistem hidup yang mengungkung kaum muslimin saat ini adalah hidup kapitalistik yang sama sekali tidak Islami, yang bersandarkan peraturan hidupnya pada akal manusia yang serba lemah dan terbatas.

Kehidupan sekuler kapitalistik membawa tantangan/chalenge tersendiri dalam proses mendidik anak. Era digital pun begitu cepat mempengaruhi pola pikir anak.
Kondisi yang dihadapi anak menjadi sangat kompleks dan berat.

Menghadapi kondisi anak di era digital ini, tak jarang orang tua terjebak pada perselisihan perkara sepele dengan anak, hingga membuat hubungan keduanya merenggang.

Tak ada orang tua yang menghendaki anaknya jatuh pada kehinaan.
Semua orang tua pun menghendaki masa depan anaknya lebih baik, baik secara kepribadian (syakhsiyah) maupun materi (madiyah).
Semua itu adalah perkara yang lumrah bahkan harus dipelihara agar orang tua senantiasa bertanggung jawab atas amanah mendidik anak.

Anak harus didik untuk mempunyai standar yang benar dalam berbuat, diantaranya:

Pertama, menyelamatkan akidah.
Anak harus didik untuk hanya berbuat sesuai dengan ajaran Islam.

Kedua, menjaga ketaatan kepada Allah Swt dan RasulNya.
Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, yang selayaknya tertanam dalam benak anak,

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada”. (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

Ketiga, memantapkan diri menjadi manusia mulia di sisi Allah SWT.
Orang tua harus senantiasa mengarahkan anak agar tidak melalaikan kewajiban ini.

Selain mempersiapkan/mendidik anak, orang tua/para ibu harus menyiapkan diri menjadi pendidik yang baik.
Ini adalah faktor pendukung dalam mendidik anak, diantaranya,

Pertama, komunikasi yang baik.
Keberhasilan berkomunikasi yang baik akan menghasilkan kecenderungan yang sama dan terhindar dari berbagai konflik.

Kedua, keteladanan orang tua.
Orang tu harus memberikan teladan sebaik mungkin dalam mendidik anak.

Ketiga, bersabar dalam mendidik anak.
Karena proses dalam mendidik anak kadang memakan waktu yang lama.

Keempat, mendoakan anak.
Dalam mendidik anak harus diiringi dengan doa. Menyerahkan urusan kepada Allah Swt dan berbaik sangka kepada Allah Swt bahwa Allah lah yang akan memberikan kebaikan untuk anak kita dengan cara Nya.

Sedungguhnya Islam telah banyak mengajarkan kepada kita untuk menjalankan fungsi dan peran sebagai ummu wa rabbat al-bayt (ibu dan pengelola rumah).

Semoga para ibu kembali menyadari akan besarnya tanggung jawab mereka terhadap masa depan Islam dan kaum muslimi, sehingga mereka akan terpacu berlomba meraih kembali kemuliaan sebagaimana ibu di masa Islam terdahulu, yakni dengan membina diri mereka dengan pemikiran Islam dan membentuk pola sikap mereka dengan aturan Islam.

Dengan demikian mereka akan siap menjadi pendidik dan pencetak generasi yang mumpuni yang akan membawa umat ini kepada kebangkitan hakiki seperti yang diinginkan.
Insya Allah.
Wallahu’alam bi showab.