Oleh: Yuyun Rimiwati

2021 awal menjadi tahun muram umat Islam. Betapa tidak, Pandemi yang masih belum tahu ujung akhirnya. Ditambah dengan kabar duka kembalinya hamba-hamba pilihan Allah (ulama’) terus memenuhi berita di media masa. Di antaranya yang cukup fenomenal adalah kepergian Suaik Ali Jabeer, pada tgl 14 Januari 2021.

Beliau adalah ulama’ karismatik yang cukup menginspirasi generasi untuk giat cinta Qur’an dan bercita melahirkan sejuta penghafal Al-Qur’an di Indonesia. Antusiasme umat untuk memiliki anak-anak yang hafidz Qur’an tentu tidak lepas salah satunya dari perjuangan beliau.

Di samping Syaikh Ali,masih banyak puluhan ulama’ terkemuka dengan keilmuan dan perjuangan nya mencintai Islam dan umat pun kembali keharibaan-Nya di era Pandemi.

Memang kita sadar virus Covid-19 bukanlah sebab kematian. Karena sebab kematian karena datangnya ajal. Namun, karena kuantitasnya memang cukup banyak di banding era non Pandemi Tentu ini yang membuat umat juga sangat sedih.

Betapa, di saat umat butuh penuntun dan pemotivasi dalam mengarungi ujian ini. Allah ambil. Sebagai orang mukmin tentu umat akan menerima ini sebagai Qodha Allah. Dan lebih dari itu kepergiab para ulama. Seakan mengingatkan kembali bagaimana kesedihan sahabat setelah wafatnya Rasulullah. Meski tidak bisa dibandingkan secara utuh. Tapi begitulah berharganya ulama sebagai warasatul ambiya’ (pewaris para nabi).

Dari kisah kesedihan sahabat pasca meninggalnya Rasulullah kita bisa mengbil ibrah dari perkataan Abu Bakar As-Sidiq saat menenangkan para sahabat di antaranya Umar yang amat terpukul dengan kepergian Rasulullah.
“Wahai manusia, jika Engkau menyembah Muhammad hari ini Muhammad telah meninggal, Namun jika Engkau menyembah Allah Dialah yang kekal. Kuramg lebih itulah yang disampaikan Abu Bakar. Dengan itu akhirnya sahabat bisa menerima kenyataan itu, meski dengan kesedihan yang mendalam.

Pernyataan di atas menegaskan kembali bagi kita, generasi umat ini yang masih diberi kesempatan hidup. Perjuangan belum berakhir. Justru wafatnya para ulama’ tercinta kita harus memacu daya juang kita. Inilah bukti cinta kita atas perjuangan beliau-beliau. Kita harus siap memegang estafet perjuangan mereka. Jika hari ini kita masih banyak kekurangan-kekurangan di sana sini tak layak menjadikan alsan kita berhenti untuk mengambil bagian.

Betapa Allah maha tahu dan maha terbaik atas rencana dan ketetapan-Nya. Betapa Allah dengan kemaha kasih sayangnya telah memberikan panduan Al-Qur’an dan hadist sebagai pegangan. Dan Allah pun tentu masih menyiapkan para kekasih-Nya (ulama’ akhirat) yang siap membimbing umat.

Sungguh dunia yang kian penat dengan kedzaliman dimana mana. Umat akan lebih mudah melihat ulama: akhirat (yang tidak terbeli Dengan dunia). Maka di situlah sehari umat mendekat. Keilmuwan dan kewara’an serta takutnya mereka kepada Allah dan rasul-Nya yang meniscayakan mereka tetap teguh bersama umat dan agama-Nya. Dan akan tetap lantang menyampaikan kebenaran dan nahi Munkar meski harus berhadapan dengan sanksi dari penguasa dzalim.

Semoga kepergian ulama’ akhir-akhir ini menjadi wasilah lahirnya calon-calon ulama’ generasi berikutnya yang siap menyongsong kemenangan Islam dengan kembali-Nya Khilafah ‘ala min hajji Nubuwah. Aamiin