Oleh: Vanny Vadhila
Aktivis Muslimah Karawang

Maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak akhir-akhir ini membuat Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 70 Tahun 2020 yang memuat tata cara pelaksanaan tindakan kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitasi dan pengumuman identitas pelaku kekerasan seksual terhadap anak. PP ini telah menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat. (viva.co.id 03/01/2021).

Komnas Perempuan menentang segala bentuk pengebirian. Salah satu alasannya dikatakan bahwa pengebirian akan mengubah manusia menjadi aseksual, mengubah identitas dan tidak ada jaminan kembali seperti sedia kala.
Sedangkan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan bahwa PP kebiri ini akan menjadi dasar yang kuat bagi aparat penegak hukum agar tidak kebingungan dalam menjalankan vonis terhadap terpidana kekerasan seksual anak. Seperti dilansir dari detiknews (04/01/21).

Apa sih kebiri itu? Apakah hukuman kebiri kimia ini mampu mengatasi kekerasan seksual terhadap anak dan memberikan efek jera seperti tujuan ditandatanganinya Peraturan Pemerintah?

Kebiri menurut KBBI adalah sudah dihilangkan (dikeluarkan) kelenjar testisnya (pada hewan jantan) atau dipotong ovariumnya (pada hewan betina); sudah dimandulkan. Dilansir dari BBC, kebiri kimia adalah penyuntikan zat anti-testosteron ke tubuh pria untuk menurunkan kadar hormon testosteron. Testosteron ini adalah hormon yang berpengaruh pada gairah seksual. Efek sampingnya memang hanya sementara seperti zat kimia lain tapi akan menyebabkan masalah baru pada tubuh seperti suasana hati yang tidak nyaman, pemarah bahkan bisa menyerang kulit, otot hingga tulang.

Menurut Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Andrologi Indonesia, tidak pernah ada laporan yang menunjukkan bahwa kebiri kimia bisa memberikan efek jera terhadap pelaku kejahatan seksual karena meskipun gairah seksual bisa ditekan, memori pengalaman seksual tidak bisa dihapus dan masih terekam dalam otak sehingga mampu membangkitkan gairah. Karena itu, langkah kebiri kimia ini masih dipertanyakan.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa manusia adalah hamba yang memang sudah fitrahnya memiliki nafsu (syahwat). Manusia diberikan gharizah nau (naluri seksual) yaitu adanya ketertarikan terhadap lawan jenis, naluri ini akan muncul jika mendapatkan rangsangan dari luar diri manusia.

Parahnya, di era liberalisme sekarang ini ketika agama dipisahkan dengan kehidupan maka yang terjadi adalah kemaksiatan yang mudah tersebar. Terang-terangan menampakkan aurat, maraknya penyebaran video porno, campur baur antara perempuan dan laki-laki, zina, pacaran dan bermesraan di tempat umum sudah menjadi tontonan publik sehingga maksiat bukan lagi menjadi hal yang tabu. Maka bukan hal yang aneh jika sekarang ini banyak sekali kejahatan seksual karena pemicu syahwatnya tersebar dengan bebas dan tanpa batas.

Berbeda sekali ketika Islam memandang masalah ini, kita terikat dengan syariat yang mengatur kehidupan manusia. Islam mengatur tentang pakaian yang menutup aurat sehingga baik perempuan maupun laki-laki mampu terjaga pandangannya dari hal-hal yang bisa memunculkan syahwat.

Islam bahkan memaparkan bahwa kehidupan perempuan dan laki-laki terpisah kecuali dalam bidang pendidikan, kesehatan dan jual beli. Islam juga melarang seks bebas, zina, pacaran, berdua-duaan antara perempuan dan laki-laki sampai pada larangan bermesraan di tempat umum.

Islam mengatur urusan manusia dimulai dari kita bangun tidur sampai kita tidur lagi. Sehingga minim sekali untuk bermaksiat karena semua aktivitas yang kita lakukan sejalan dengan langkah menggapai keridhaan Allah SWT.

Bahkan Islam memiliki sanksi yang mampu memberikan efek jera terhadap pelaku zina yang bersumber dari Al-Qur’an Surat An-Nur ayat 2 yaitu “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.”

Maka, sangat mungkin tidak akan ada lagi kejahatan seksual jika peraturan Islam diterapkan dalam kehidupan karena Islam adalah agama yang komplit dengan peraturan dan solusi atas segala permasalahan yang ada. Wallahu a’lam.