Oleh : Sunarti

“Selamat jalan teman sejawatku”
Kapan kata itu akan segera berakhir. Pandemi membawa satu persatu teman sejawatku pergi. Tidak bisa berbuat apa, selain doa terbaikku buat seluruh nakes medis dan paramedis dan seluruh nakes yang berkecimpung dalam dunia kesehatan.

Sudah hampir satu tahun, Bumi Pertiwi dilanda Pandemi. Dan belum ada itikad-itikad adanya perbaikan berupa tindakan yang tegas dari pemerintah. Alih-alih angka kematian yang menurun, justru kian bertambah. Tak luput para tenaga di bidang kesehatan.

Dalam pemberitaan Kompas.com, ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Adib Khumaidi mengatakan, kematian tenaga medis dan kesehatan di Indonesia tercatat paling tinggi di Asia. Selain itu, Indonesia juga masuk ke dalam lima besar kematian tenaga medis dan kesehatan di seluruh dunia.

“Sejak Maret hingga akhir Desember 2020 terdapat total 504 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19,” ujar Adib dikutip dari siaran pers PB IDI, Sabtu (2/1/2021).

“Jumlah itu terdiri dari 237 dokter dan 15 dokter gigi, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, 10 tenaga laboratorium medis,” tuturnya.

Adib merinci, para dokter yang wafat tersebut terdiri dari 131 dokter umum, 101 dokter spesialis dan serta 5 residen yang seluruhnya berasal dari 25 IDI Wilayah (provinsi) dan 102 IDI Cabang (Kota/Kabupaten).

Adapun, keseluruhan data tersebut dirangkum dari data Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Perastuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI).

Dan Adib mengungkapkan, Jawa Timur masih menjadi provinsi dengan jumlah kematian tenaga kesehatan dan tenaga medis tertinggi. Tercatat ada 46 dokter, 2 dokter gigi, 52 perawat, 1 tenaga laboratorium medis yang wafat.

Miris memang. Tenaga kesehatan (medis dan paramedis) seolah berjuang di medan perang tanpa perlindungan. Setelah APD dengan jumlah minimal, penduduk masih bertebaran bercampur dengan para penderita dan para carier yang tak kasat mata. Tak heran, seolah perjuangan mereka akan terus berlanjut hingga tenaga mereka habis di ambang ajal.

Harus ada tindakan cepat dan tepat. Sayang semua yang dilakukan tidak bisa menghalau laju pertambahan penderita terjangkit virus ganas ini. Tak pelak lagi, semakin banyak tenaga dan pakar kesehatan berjajar, akan ikut semakin berkurang jumlahnya jumlahnya di negeri ini.

Mengatasi Pandemi yang Telah Membumi

Persoalan pandemi bukanlah persoalan individu dan kelompok saja. Akan tetapi merupakan persoalan yang harus dihadapi dengan bahu-membahu antara individu, masyarakat dan terutama negara. Sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh negara dalam melindungi, mengobati dan menyelamatkan rakyatnya. Tidak hanya untuk tim kesehatan, akan tetapi seluruh warga negara.

Karena virus sudah menyebar dan tidak tahu siapa diantara warga yang terpapar, maka negara wajib melakukan test secara merata dan menyeluruh. Memang biaya cukup mahal untuk tindakan ini. Akan tetapi efek yang didapat akan lebih baik.

Hal berikutnya yang bisa dilakukan adalah dengan tracing. Yakni, melacak orang-orang yang terpapar dari hasil tes yang sudah dilakukan. Seketika dilakukan isolasi, baik secara mandiri atau ditampung. Bagi para pasien dengan gejala, dipisahkan dengan yang tanpa gejala. Kerja keras, memang. Karena membutuhkan tenaga-tenaga ahli juga dalam pelaksanaan dan perawatan bagi yang dengan gejala atau yang mang sudah sakit.

Yang terakhir adalah treatment. Yakni, perawatan bagi yang terpapar, dengan tanpa gejala, bergejala dan yang sakit. Mereka semua membutuhkan suplemen makanan, vitamin dan juga kebutuhan lain. Semua disediakan dan ditanggung oleh pemerintah. Kalaupun dibutuhkan dukungan material kepada keluarga, sanak famili dan juga orang-orang kaya, bisa saja dimintakan donasi kepada mereka.