Oleh: Maman El Hakiem

Vaksin bukan akhir dari pandemi. Terlebih negara dari awal memang begitu gagap dalam menangani Covid-19, bahkan terkesan mengabaikan. Negeri dengan ribuan tanaman herbal ini telah melakukan blunder dalam penanganan wabah. Semula merasa jumawa dengan virus yang mematikan ini, dengan tetap melakukan kebijakan ekonomi secara normal. Di awal masa pandemi, masih saja membuka pintu masuknya orang asing di sektor pariwisata dan tenaga kerja, bahkan dianggap mereka bukan ancaman bagi tersebarnya virus secara luas.

Fakta dan data berbicara seiring waktu korban terus berjatuhan, grafiknya terus menaik, penerapan “karantina wilayah” yang setengah hati dinilai tidak efektif, yang ada malah menjadi komersialisasi surat izin perjalanan dan terabaikannya kebutuhan pokok rakyat miskin. Upaya mencegah penularan virus dengan konsep 3M, dianggap hanya gerakan formalitas, tidak memberikan efek kesadaran bagi rakyat.

Hal tersebut semakin menguatkan betapa rakyat mengalami krisis kepercayaan (distrust) terhadap negara. Imunitas negara yang rapuh akibat sistem kapitalisme, inilah akar masalah dari hilangnya kepercayaan rakyat terhadap pemimpin negaranya. Seperti saat ini, kurangnya edukasi kepada masyarakat tentang vaksin dan pelayanan publik oleh negara, telah membuat polemik vaksinasi di masyarakat yang sarat dengan kepentingan politis, bukan lagi medis. Persoalan bansos yang dikorup adalah cermin ketidakamanahan penguasa. Apalagi jika vaksinasi yang berbiaya triliunan rupiah ini begitu dipaksakan sebelum ada rekomendasi keamanan pemakaiannya.

Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, fihaknya akan segera menandatangani kontrak untuk pembelian vaksin Covid-19 dari AstraZeneca dan Pfizer/BionTech masing-masing 100 juta dosis, setelah sebelumnya Indonesia membeli vaksin dari Sinovac 125 juta dosis dan Novavak 100 juta dosis. (Media Umat, Edisi No. 282/ 2021).

Menjadi bumerang bagi negara jika ada indikasi anggaran vaksinasi juga sampai dikorupsi. Bicara vaksin sebenarnya bukanlah “dewa penolong”, melainkan ikhtiar manusia untuk pencegahan. Vaksinasi adalah memasukan virus yang telah dilemahkan (unactivated) sehingga membentuk pertahanan (antibodi) bagi imunitas atau kekebalan tubuh. Karena itu vaksinasi sifatnya bukan pengobatan (kuratif), melainkan tindakan pencegahan (preventif) dengan memperkuat sistem kekebalan tubuh (imunitas).

Maka, langkah yang paling ampuh yang harusnya dilakukan oleh negara, yaitu dengan menerapkan langkah 3T (testing, tracing dan treatment) secara konsisten. Sedangkan rakyat juga harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya agar tidak mudah tertular dengan terbiasa 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak/menghindari kerumunan).

Semua upaya pencegahan tersebut dalam konsep Islam merupakan cara agar tidak menjadikan kemudharatan buat dirinya dan juga orang lain. “Tidak boleh berbuat dharar dan tidak boleh pula berbuat dhirar” (HR. Al Hakim , Al Baihaqi dan al Daruquthni). Wallahu’alam bish Shawwab.