Oleh: Maman El Hakiem

Beredarnya matahari dan bulan. Terang gelapnya bintang-bintang, adalah atraksi cakrawala. Di antara bergantinya siang dan malam ada tanda-tanda kekuasaan Allah SWT untuk mereka yang berpikir. Mengingat kekuasaan Allah tidak semata-mata memperbanyak ucapan dzikir, tetapi juga merenungkan hikmah-hikmah di balik penciptaan alam semesta.

Rumah tangga besar kami sungguh bagaikan rumah tak beratap, karena bisa melihat cakrawala kekuasaan Allah SWT. Malam dan siangnya terasa begitu bermakna, ada kisah suka duka anak manusia yang mencoba meraih mimpi-mimpinya.

Hingga suatu senja di hari pertama Bulan Ramadan, gerimis turun membasahi bumi. Mama kami tercinta yang selama ini diuji dengan sakitnya masih saja ingin menunaikan puasa.

“Defi, nanti malam bangunkan mama ya…rasanya ingin ikut makan sahur dengan kalian.” Ucap mama saat aku membantu menyuapi makannya.

“Mah, kalau lagi sakit, terlebih usia uzur tidak usah maksain puasa, biar nanti diganti dengan fidyah saja.” Jawabku, dalam hati merasakan betapa mama luar biasa ingin menjalankan hukum syariat.

“Bagi mama, justeru sakit menjadi saat terbaik untuk lebih dekat dengan Allah, rasanya waktu untuk pulang itu telah dekat.” Jawab Mama yang membuat hati ini bergetar.

“Mamah jangan terlalu berpikir seperti itu…saat sakit kita mendapatkan rukhsah atau keringanan, seperti shalat bisa sambil berbaring atau sekedar kedipan mata sebagai isyarat gerakan shalatnya.” Jawabku mencoba menjelaskan.

“Ya..nak, mama bangga, kamu paham agama, semoga keluargamu selalu bahagia dan menjadi ahli surga.” Ucap Mama sambil menggenggam erat tangganku.

“Aamiin…terima kasih mama.” Hati terasa begitu damai jika mendapatkan doa dari mama. Kulihat raut wajahnya yang menyimpan rasa penuh kasih sayang.

Mas Harun baru saja pulang dari kerjanya, biasa jalanan kota suka macet. Anak-anak dan keponakan lagi sibuk dengan keperluannya sendiri, terlebih besok adalah hari pertama berpuasa.

Kemuliaan bulan Ramadhan diawali dengan terbenamnya matahari senja di akhir Syaban. Cuaca mendung membuat hilal terhalang awan, biasanya perhitungan Bulan Syaban digenapkan. Inilah pentingnya umat Islam paham tentang ilmu astronomi agar mampu melakukan perhitungan hisab secara tepat. Namun, penentuan awal dan akhir Ramadan harus negara yang menetapkannya berdasarkan hasil rukyatul hilal secara global. Tidak boleh dijadikan alasan politis, apalagi karena nasionalisme yang menjadikan umat Islam terpecah belah dalam penentuan awal dan akhir Ramadan. Karena itu pentingnya khilafah, kepemimpinan umum bagi umat Islam di seluruh dunia.
(Bersambung).