Oleh: Maman El Hakiem

Dengarlah suara hati anak, karena ia begitu tajam untuk mengenali orangtuanya. Sering kali orang tua tidak paham, bahasa hati anak hanya bisa diterjemahkan dengan pelukan. Begitulah Zaidan yang sedari masih kecil harus ditinggal jauh oleh ayahnya. Karena Mas Harun harus kerja di Dubai saat Zaidan satu tahun. Wajar saat yang lain ada kehangatan sosok ayah di rumah, ia hanya bisa merasakan kehadiran ayah hanya lewat suara dan vidio.

“Mah, bener nih papa besok mau pulang?” Tanyanya seperti kurang yakin. Sebuah berita gembira bagi Zaidan, saat Mas Harun mengabari kami besok akan terbang dari Dubai pulang ke Jakarta.

“Ya nak, in syaa Allah semoga jadwal penerbangannya tepat waktu, Kita doakan papa bisa kembali di rumah ini dengan selamat.” Aku menatap Zaidan dengan penuh kasih sayang.

Zaidan hanya mengenal ayahnya hanya melalui skype, itupun sering bertanya, “Kok papa hanya kelihatan wajahnya saja?” Inginnya dia papa bisa mengajaknya bermain dan memeluknya.

Bagi seorang anak, terlebih anak laki-laki sosok ayah merupakan idolanya. “Mah, papa naik pesawat besar atau helikopter?” Keluguannya membuatku senyum-senyum.

“Pesawatnya besar….nah itu di lemari mainan Zaidan, kemarin beli pesawatnya.” Jawabku, lalu mengambilkan mainan pesawat dan memberikan kepadanya.

“Oh iya mah…kira-kira papa duduknya dekat pak pilot gak ya?” Tanyanya lagi, “pesawat tidak seperti angkot nak…hihi.” Aku tak tahan untuk menahan tertawa.

Esok harinya, pagi-pagi sekali kami sudah siap berangkat ke bandara untuk menjemput kedatangan Mas Harun. Maklum, baru pertama itu Zaidan akan bertemu ayahnya kembali, terlebih bandara adalah tempat yang belum pernah dilihatnya pula. Ia sangat antusias, terlihat dari semangatnya yang tinggi. “Ayo mah…cepetan, nanti pesawatnya keburu penuh.” Wah dalam pikiran Zaidan dikiranya mau naik pesawat juga menjemput papanya.

“Nak, ke bandara bukan akan naik pesawat, tapi kita menunggu saja, nanti papamu keluar dari pintu kedatangan. “ Jawabku sesampainya di bandara.

Melihat jadwal kedatangan pesawat tigapuluh menitan lagi. Zaidan sangat tidak sabar menunggunya, maka terpaksa kualihkan perhatiannya dengan menikmati suasana bandara sambil jalan-jalan dan jajan makanan kesukaannya.

Tidak lama kemudian, terdengar suara dari pusat informasi bandara, bahwa pesawat dari Dubai sudah tiba. Hatiku berdebar-debar mengenali setiap orang yang keluar dari pintu kedatangan.

“Papaaaa..” Teriakku. “Nak…itu papa!” Seruku yang membuat Zaidan tampak sangat kegirangan. Ia berlari menuju papanya. Sementara bagi seorang ibu, hanya mampu membaca suara hati Mas Harun yang begitu rindu terhadap buah hati dan istrinya yang telah lama ditinggalnya.(Bersambung).