Oleh: Maman El Hakiem

Di balik penciptaan alam semesta, Allah SWT telah memberikan “qadar” nya, yang sifatnya sunnatul wujud (peraturan alam yang ditetapkan Allah SWT). Bagaimana hujan diciptakan dari proses penguapan, pembentukan awan hingga angin membawanya pada titik jenuh dan turunlah hujan di belahan bumi yang dikehendaki-Nya. Cuaca dan iklim adalah tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang berpikir.

Saat hujan itu turun, maka tanah harus mampu menyerapnya, karena air hujan menjadikan tumbuhnya benih-benih kehidupan baru bagi tanaman, mengisi ceruk persedian air untuk makhluk hidup. Sungai dan lautan adalah wadah penampungan alami air hujan yang memberi kehidupan sebagai mata pencaharian manusia, ikan dan kekayaan di lautan menjadi nikmat dari Allah yang tidak boleh didustakan.

Salahkah hujan, jika tiba-tiba manusia berkeluh dengan bencana banjir dan longsor? Semua memang bisa datang tak terduga di luar kendali manusia. Tetapi, bencana harusnya menjadi muhasabah diri, juga muhasabah rakyat pada penguasanya. Karena bencana bisa datang karena diundang. “Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya). (QS ar Rum:41).

Bencana banjir baru-baru ini di Kalsel, misalnya bisa jadi karena banyak manusia melakukan kemaksiatan dan pelanggaran. Salah satunya degradasi ekologi, akibat menggunduli hutan secara semena-mena. Begitupun banjir di beberapa kota yang seakan berlangganan tiap tahun, tentu karena diundang oleh pengurusan negara yang tidak memperhatikan resapan air dan pembangunan yang menyalahi keramahan lingkungan. Semua itu adalah qadarullah, namun sebenarnya manusia masih bisa menghindarinya, jika mau melakukan perbaikan dengan menerapkan aturan kehidupan yang tidak mendzalimi alam lingkungan.

Namun, ada perbuatan maksiat lain yang menjadi faktor pengundang bencana yang lebih besar lagi, yaitu maraknya riba dan zina, yang pelaku utamanya adalah negara yang tidak menerapkan konsep hukum Islam dalam muamalahnya. Dosa riba dan zina bahkan seiring dan sejalan, maka azab Allah yang besar atasnya. “Jika zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR Al Hakim, Al Mustadrak, 2/42).

Karena itu, segala bencana yang telah membuat manusia rasa takut dan lapar, berkurangnya harta dan jiwa sesungguhnya adalah ujian bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Dan kabar gembira bagi mereka yang mampu bersabar, artinya mampu menerima kebenaran hukum Allah SWT sebagai solusi atas segala persoalan hidupnya. Sabarnya orang yang beriman adalah dengan menerima segala ketetapan hukum Allah. Lalu, beramal shalih dengan menyerukan penerapan hukum syariah secara kaffah.
Wallahu’alam bish Shawwab.***