Oleh: Titik Musrifatun Tsaniyah

Wahana Lingkungan Hidup Indomesia ( WALHI) menegaskan bahwa banjir besar di Kalimantan Selatan yang terjadi beberapa hari terakhir ini diakibatkan rusaknya ekologi tanah Borneo.

Banyaknya penambangan batu bara yang ditinggal tanpa reklamasi dan perkebunan sawit yang mengurangi resapan tanah. Sehingga dampaknya banjir awal tahun ini merupakan banjir yang terparah. Tercatat ada 67.842 jiwa yang terdampak banjir, bangunan rumah warga sebanyak 19.458 unit.

Pembukaan lahan atau perubahan penutupan lahan juga menambah laju perubahan iklim global. Kalimantan yang dulunya bangga dengan hutan kini berubah menjadi perkebunan monokultur sawit dan tambang batubara.

Musibah yang terjadi di negeri ini harusnya menjadi muhasabah (instropeksi) bersama. Sebab kerusakan yang dilakukan manusia bisa menurunkan musibah besar. Kembali bertaubat dan mentaati aturan Allah adalah langkah awal yang harus kita lakukan. Mencari penyebab banjir dan upaya pencegahannya agar banjir tidak terulang kembali.