Oleh : Esti Cahyani

Lagi, lagi dan lagi! Kasus anak memenjarakan ibu kembali terulang. Kali ini datang dari Demak Jawa Tengah. Mengutip dari Liputan6.com, 11 Januari 2021, seorang ibu ditahan di kantor polisi resort Demak karena dilaporkan anak kandungnya. Adalah S (36), seorang ibu setengah baya warga Sayung Kabupaten Demak Jawa Tengah yang harus tidur dalam sel tahanan kantor polisi. Ia harus mendekam di ruang tahanan karena dilaporkan oleh A (19), seorang remaja yang tak lain anak kandungnya.

Sebelumnya kasus-kasus seperti ini juga sempat menghiasi kolom berita diantaranya kasus yang terjadi di

  • Tapanuli Utara, sumatra Utara. Seorang perempuan renta berusia 74 tahun bernama Mariamsyah Siahaan itu dituntut oleh tiga dari lima anaknya lantaran menjual sebidang tanah warisan. Miris, Tiga Anak Kompak Gugat Ibu Kandung Hanya Karena Warisan.
  • Lombok tengah, seorang anak bernisial M (40) tega melaporkan ibu kandungnya sendiri, K (60), ke Mapolres Lombok Tengah, karena dituduh menggelapkan uang warisan sang ayah senilai Rp 15 juta.
  • Probolinggo, Pada 2019 lalu, seorang anak juga menggugat ibunya sendiri karena tidak diberi warisan. Kasus ini pun disidangkan di Pengadilan Negeri Kota Probolinggo, Rabu (7/8/2019).

Dunia keluar dari fitrahnya

Sungguh miris mendengar berita seperti ini berulang kali terjadi. perjuangan ibu yang telah mengandung, melahirkan dan menyusui anak sejak bayi yang tentunya tak ternilai harganya dibalas dengan perlakuan yang sangat memilukan. Seperti ungkapan pepatah air susu dibalas air tuba.

Alih-alih anak berbakti dan menjadi penyejuk mata orang tua, namun yang terjadi sebaliknya anak malah melawan dan menyengsarakan orang tua. Inilah yang terjadi saat ini. Fitrah manusia untuk berkasih sayang telah hilang hanya karena hal-hal sepele.

Sistem sekuler liberal sumber petaka kehidupan

Jika kita mengamati banyaknya kasus anak durhaka terhadap orang tua ataupun murid melawan guru, tentulah hal ini bukan hanya kesalahan individu saja. Hal ini juga disebabkan karena kerusakan sistem yang diterapkan sehingga menghasilkan kerusakan yang terstruktur dan masif.

Seperti yang kita ketahui dunia saat ini sedang menerapkan sistem sekuler termasuk didalamnya nilai-nilai kapitalisme dan liberalisme tak terkecuali dengan Indonesia. Sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan telah mencetak manusia-manusia yang jauh dari adab dan nilai-nilai agama.

Interaksi antar manusia hanya dinilai dari materi yang saling menguntungkan tak terkecuali hubungan antara orang tua dan anak. Ditambah liberalisme yang semakin menancap dikalangan generasi muda. Sehingga sangat wajar kebebasan mereka terasa dibatasi, mereka akan berontak dan melawan.

Walaupun aturan yang membatasi tersebut ditujukan untuk mengatur dan mengarahkan mereka menjadi lebih baik. Bahkan aturan yang memerintakan orang tua untuk “memukul” anak-anak mereka yang telah berusia diatas 10th karena tidak melaksanakan sholat fardhu bisa dikenai sanksi hukum. Nauzubillah….

Penjagaan Islam menghasilkan generasi khairu ummah

Bagaimana pandangan Islam terkait peristiwa diatas? Secara individu, jelas, Islam melarang melakukan perbuatan buruk kepada orang tua, bahkan untuk berkata”ah” saja tidak dibenarkan. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 23 yang artinya “ Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia“.

Islam juga memerintahkan untuk taat kepada orang tua selama perintah tersebut tidak melaggar aturan Allah. “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan “(QS: Luqman:15).

Jadi sangat jelas Islam memerintahkan berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua. Selain itu Islam juga memiliki seperangkat sistem yang mampu menjaga dan mendukung agar hal tersebut bisa benar-benar dapat terlaksana. Dalam Islam visi dan misi pendidikan generasi adalah untuk membentuk generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami.

Sehingga anak dididik untuk taat syariah kaffah bukan hanya mampu untuk mencari materi semata. Hubungan antara anak dan ibu Yang terbentuk karena saling menyayangi dan merupakan perintah Allah bukan sekedar hubungan materi yang hanya dihitung dengan untung rugi. Kebahagiaan diukur dari ketaatan kepada Allah tidak sekedar terpenuhinya materi yang diinginkan.

Negara menjaga pilar-pilar keluarga berjalan dengan optimal dengan dukungan sistem serta penjagaan terhadap pandangan hidup asing yang akan merusak tatanan kehidupan