Oleh : Esti Cahyani

Ditengah persaingan kerja yang semakin ketat saat ini, Kemendikbud meluncurkan program pembinaan mahasiswa. Melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), program Bangun Kualitas Manusia Indonesia (Bangkit) 2021 ditawarkan untuk mahasiswa di seluruh Indonesia.

Merangkum Instagram Ditjen Dikti (7/1/2021), program ini merupakan program pembinaan 300 talenta digital terampil untuk menyiapkan sembilan juta talenta digital terampil tahun 2030. Program Bangkit menawarkan tiga pembelajaran digital yaitu machine learning, mobile development, dan cloud computing.

Dalam menyelenggarakan program ini, Ditje Dikti menggandeng Google, Gojek, Tokopedia, dan Traveloka untuk memberikan pelatihan digital pada mahasiswa. Diharapkan program ini mampu menjawab persoalan pencari kerja karena telah neniliki kemampian teknis yang dibutuhkan.

Visi pendidikan Salah Arah?

Sepintas, program ini sangat bagus dan membantu para generasi muda untuk mendapatkan pekerjaan. Perubahan teknologi dalam dunia usaha mewajibkan para pencari kerja memiliki kriteria yang dibutuhkan. Namun benarkah hal ini benar-benar mewujudkan generasi cemerlang yang berguna untuk membangun negri?

Sungguh bila kita mencermati lebih dalam, program yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan raksasa ini, merupakan sebuah program yang membekali generasi kita dengan ketrampilan teknis, agar siap masuk di dunia kerja nantinya. Generasi kita dibentuk untuk memenuhi kebutuhan pekerja yang dibutuhkan oleh korporat.

Yang lebih mengenaskan lagi, generasi unggul tersebut hanyalah dimanfaatkan sebagai tenaga teknis. Tentunya korporat hanya membayar rendah SDM yang ada. Terasa sekali tujuan pendidikan untuk mencetak generasi pekerja.

Visi pendidikan untuk mencetak agen perubahan dalam masyarakat telah terpinggirkan. Inilah wajah pendidikan ketika melibatkan pihak korporat. Mereka akan berupaya untuk mencetak generasi pekerja siap pakai yang terampil dalam dunia kerja dengan upah yang minimal serta meminggirkan daya kritis dan kreativitas anak didik sehingga akan lebih mudah untuk diatur.

Kapitalisme memiskinkan manusia secara sistemik

Sungguh malang negeri ini. Negeri yang diberikan kekayaan SDA dan SDM yang melimpah tapi tidak bisa digunakan untuk memajukan bangsa karena kesalahan pengelolaan. SDA dan SDM yang ada hanya untuk memenuhi nafsu segelintir manusia yang tak pernah merasa puas.

Inilah watak asli sistem kapitalisme, sistem yang memandang kebahagiaan, derajat, dan tujuan hidup hanya untuk mengejar materi. Sistem ini tidak pernah puas mengeruk sumber kekayaan alam sebuah negeri, ia juga berusaha memeras sebesar mungkin SDM yang ada dengan segala cara, salah satunya melalui pendidikan. Masihkah bisa diharapkan memberikan perbaikan yang hakiki ?

Islam Membentuk Generasi Khairu Ummah

Dalam Islam, satu-satunya dasar yang digunakan sebagai kurikulum pendidikan adalah aqidah Islam. Artinya seluruh mata pelajaran dan metodologi penyampaiannya harus bertumpu pada pola yang tidak mengeluarkan pendidikan dari akidah islam.

Sedangkan tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk kepribadian Islam, yaitu terbentuknya generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan Islam. Selain itu pendidikan juga bertujuan untuk mempersiapkan generasi kaum muslim menjadi ahli ilmu pengetahuan yang memiliki kompetensi dalam setiap medan kehidupan.

Dengan pola pendidikan di atas, negara memiliki generasi tangguh, beriman, dan mampu menjadi mercusuar dunia. Negara Islam menjadi negara yang disegani dan berpengaruh dalam dunia global, bukan negara pengekor yang selalu bergantung kepada negara lain.