Oleh : Ida Yani

Sriwijaya Air (Airmagz.com), Pesawat Boeing 737-500 milik Sriwijaya Air jatuh setelah 10 menit lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno Hatta, di Cengkareng, Banten, Sabtu (9/1) kemarin. Pesawat ini telah terbang selama 26 tahun,usianya hampir 27 tahun.

Terbang saat hujan lebat. Kondisi penerbangan memang sangat riskan. Dengan kejadian ini Indonesia kembali disorot dunia, tentang keselamatan penerbangan.Menurut para ahli, dari sisi geografis adalah penyebab pasar penerbangan paling mematikan.

Bapak Jokowi menghimbau agar memperbaiki tata kelola industri penerbangan. Ironisnya, perijinan layak terbang dari tahun ke tahun makin dilonggarkan. Dengan alasan usia pesawat tidak bisa menjadi ukuran. Asalkan dirawat sesuai dengan prosedur, pesawat akan tetap layak terbang.

Dari UU Penerbangan 2009 berkala, hingga PM 27 Tahun 2020 yang ditandatangani pada 13 Mei 2020. Lebih tepatnya sejak Juli 2020 soal batas usia pesawat laik terbang telah dicabut demi memudahkan investasi. UU disesuaikan dengan layanan korporasi demi keuntungan materi.

Pelayanan transportasi publik sebagai sarana

Keselamatan nyawa rakyat dikorbankan. Tak terpikir berapa generasi yang dipertaruhkan saat besi terbang mulai melayang. Berapa nyawa yang jadi tumbal bagi keuntungan konglomerat pemilik modal. Dari al Barra’ bin Azibra, Nabi Saw bersabda : “Hilangnya Dunia lebih ringan bagi Allah, dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak”. ( HR.Nasai 3987, Turmudzi 1455 dan dishahihkan Al – Banani ).

Hadist ini jelas menentang apa yang terjadi di Negeri kita. Karena dalam sistem pemerintahan berbasis Islam, Negara punya tanggung jawab penuh terhadap pelayanan publik, dengan sistem aturan yang unik.

Pada masa Daulah Islam, saat pemerintahan Sultan Hamid kedua, abad ke 19. Beliau begitu konsisten mengembangkan infrastruktur transportasi. Ketika membangun jalur kereta Istanbul hingga Makkah melewati Damaskus, Jerusalim dan Madinah, demi kelancaran ibadah Haji, Negara mengumumkan tentang proyek besar ini. Dan rakyat berbondong- bondok berinfak untuk biaya proyek besar ini.

Dalam hal transportasi udarapun kaum Muslim sangat maju, dibandingkan Barat. Abbas Ibnu Firdaus dari spanyol, 1000 tahun lebih awal menemukan teori penerbangan dibanding Wright bersaudara dari Barat.

Islam mengelola dengan baik setiap inci kebutuhan publik

Karena pembangunan sarana pelayanan umum ini butuh biaya besar, tidaklah layak diserahkan pada investor swasta yang pasti mempertimbangkan sisi biaya kecil untung besar. Apalagi pada sektor penerbangan yang pasti lebih rumit, demi memberikan keamanan bagi penumpang pesawat.

Kondisi geografis yang ekstrim tentu bisa diatasi menggunakan peralatan yang serba modern dari masa ke masa tiap era. Dari segi biaya, Daulah Islam boleh memungut dan mengambil keuntungan. Sebagai pengganti biaya operasional dan jika perlu suku cadang yang baru.

Namun jika kas di baitul mal berlebih, tidak perlu kiranya menarik biaya (gratis ). Karena semua fasilitas umum adalah milik Negara, dan digunakan untuk memberikan kesejahteraan bagi rakyat.

Jadi bolehlah kita bercita- cita Negeri ini akan memberikan fasilitas pesawat terbang yang aman dari kematian. Nyaman dan gratis. Apalagi saat ini technologi sudah sangat maju, maka segala kendala ada solusinya.

Tentu saja hal ini sangat mungkin terjadi, dalam bingkai aturan Islam yang diterapkan secara keseluruhan. Semua hak rakyat terpenuhi, dari segala lapisan. Yang tentu saja melahirkan kesejahteraan secara keseluruhan. Aamiin.