Oleh : Nur Salamah

Referensi : Kitab Al-Adab Al-Mufrad

“Bundaa… Kapan lah Mbak diajarin nyetrika? Nanti gak bisa-bisa aku”, rengekan anakku yang nomor dua.

“Nanti lah! Bunda lagi sibuk. Mau masak dulu. Bentar lagi ayah pulang”, jawabku dengan sedikit gregetan.
“Lagi pula adik masih main, ntar dia kena setrika lagi. Nanti lah kalo adik sudah bobok”, tambahku lagi. Karena ada sedikit trauma, beberapa waktu lalu ada tragedi pegang setrika panas.

Setelah urusan dapur selesai, adik-adiknya juga sudah pada bobok siang, dia menagih janji yang tadinya aku sampaikan. Sebenarnya aku masih ada keengganan untuk memulai. Karena aku pikir masih kelas tiga SD, nanti bukannya bantuin tapi malah menambah pekerjaan baru, lagi. Apalagi emak dengan segudang pekerjaan. Waducchhhh… Ada yang ngerasa begitu gak, Mak???

Dengan rasa berat hati, sambil aku berfikir. Bukankah memang seharusnya aku mengajarkan dan mendidiknya sedini mungkin, bagaimana mengurus rumah tangga, bagaimana melatih kepekaan dan bagaimana menanamkan adab sebelum keimanan. Karena sebaik-baik bekal bagi anak adalah ilmu, adab dan akhlaq serta doa.

Akhirnya aku mulai pembelajaran pertama, bagaimana cara menyetrika baju. Menata alasnya, menyiapkan kisprainya dan cara melipatnya.

“Sudah Bunda, Mbak Hana bisa kok. Bunda ngeloni adik saja”. Katanya dengan penuh optimis.
“Yo wes Bunda tinggal ya!”, dengan perasaan sedikit ragu-ragu, aku coba lepaskan. “Hati-hati ya!”, Kata ku lagi. “Oke Bunda!”

Memang anak saya yang nomor dua ini agak berbeda dengan kakaknya. Kakaknya pendiam, seneng membaca, seneng belajar. Secara kemampuan akademik tidak diragukan lagi. Begitu juga dengan prestasi yang diraihnya. Kalo yang ini sedikit berbeda. Agak lebih rame, kurang suka dengan sesuatu pekerjaan yang mikir. Tak bisa diam. Senang dengan pekerjaan yang banyak bergerak. Untuk kemampuan akademiknya juga biasa saja. Tak ada sesuatu yang menonjol. Tapi lebih peka terhadap urusan rumah, senang bermain dengan anak-anak kecil, meski terkadang juga membuat Emaknya auto spaneng gegara ribut dengan adiknya.

Tapi begitulah anak-anak, dengan segala keunikannya. Tidak bisa kita samakan satu dengan yang lain. Dan jangan pernah membandingkan ya Mak! Baik dengan kakaknya maupun dengan adiknya. Karena masing-masing kita pasti ada sisi positif dan negatif nya. Yakinlah Allah SWT sangatlah adil. Apapun yang diciptakan tentu yang terbaik.

Yang namanya mendidik itu merupakan amanah yang sangat berat. Menuntut kesabaran yang luar biasa. Sebagai manusia dengan segala kealpaan dan kelemahan, terkadang ada juga emosi, godaan setan pun terkadang datang menghampiri. Segera istighfar, meluruskan niat dan hati. Memohon pertolongan kepada Allah SWT, agar diberi kekuatan, kesabaran dan keikhlasan dalam memikul amanah yang ada di pundak ini. Termasuk mendidik anak-anak perempuan kita.

Sebagaimana hadits dari Uqbah bin Amir, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan dan ia bersabar terhadap mereka serta memberi mereka pakaian dan hartanya, maka mereka akan menjadi tirai baginya dari api neraka.”

Semoga kita termasuk di dalam hadits tersebut. Senantiasa berusaha menahan kesabaran, ikhlas dalam mengarahkan dan mendidik anak-anak kita untuk menjadi Sholih/ah, cerdas dan Faqih Fiddin.

Aamiin ya Rabbal alamin.