Oleh : Nadia Fransiska Lutfiani (Aktivis Muslimah, Pegiat Literasi Islam )

Beberapa pekan lalu aksi kerusahan tidak bisa dihindari. Hal ini bermula akibat emosi yang ditengarai klaim kecurangan pemilu atas kalah telak yang sempat berulang kali disampaikan dalam pidato Donald Trump kepada para pendukungya. Kejadian ini terjadi di Gedung Capitol atau gedung parlemen Washington, AS. Bahkan mengakibatkan empat orang perusuh dalam kejadian tersebut tewas. (beritasatu.com, 7/1/2021)

Atas insiden ini Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa kerusuhan tersebut tidak bisa diterima atas alasan apapun, bahkan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyebut kejadian tersebut sebagai peristiwa memalukan dengan alasan bahwa AS sejatinya simbol demokrasi dengan kekuasaan yang damai dan tertib. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan insiden tersebut tidak mencerminkan Ameriaka. (Inet.detik.com, 7 /1 / 2021)

Lalu bagaimana harusnya konsepsi demokrasi dalam negara pengusung induk kapitalis tersebut? Adakah negara panutan yang sukses menerapkan demokrasinya hari ini ?

Melemahnya Konsep Demokrasi di Seluruh Penjuru Negeri

Kerusuhan yang meletup tersebut memberi efek luar biasa besar bagi negara pengusung demokrasi, sebagai negara panutan atas penerapan demokrasinya,kini dipertanyakan.

Karena secara tidak langsung justru mengarahkan pada legitimasi
populisme dalam konsep politik para elitnya, berusaha memperoleh akses langsung terhadap pendukung dengan pidato provokatif.

Kejadian tersebut tamparan telak bagaimana jalannya demokrasi selama ini, negara yang mengagungkan demokrasi dengan konsep pemilu sebagai jalan terang pemilihan kepemimpinan ternyata tidak lagi pada konsepsi murninya.

Negara adidaya yang berusaha mati-matian menciptakan nuansa bersahabat untuk demokrasi bagi negara lainnya menjadi zona berbahaya atas klaim yang dinyatakan.

Hal semacam ini wajar terjadi, karena dasar terbentuknya dan lahirnya suatu aturan dalam demokrasi adalah manusia. Demokrasi berlandaskan pada dua gagasan yaitu kedaulatan ditangan rakyat dan rakyat sumber kekuasaan. Padahal rakyat adalah manusia, manusia mengatur manusia sesamanya. Inilah konsepsi yang rancu.

Pada mulanya gagasan tersebut menjadi landasan perjalanan demokrasi dalam mengahncurkan ide hak ketuhanan, dengan anggapan membebaskan rakyat dari perbudakan sehingga menjadikan manusia atau rakyat sebagai tuan yang memiliki kehendak serta terterapkanya pelaksaan hukum yang dibuatnya.

Dalam buku Demokrasi sistem kufur yang ditulis oleh Syekh Abdul Qadim Zallum berkaitan dengan pemerintah dan kabinet dalam demokrasi yang tidak ada partai politik besar yang menguasai mayoritas dalam penyusunannya, sehingga yang terjadi adalah ketidakstabilan dan akan terus mendapatkan tekanan krisis politik yangakibatnya pada perubahan parlemen sewaktu-waktu.

Negara seperti Itali, Yunani dna negara penganut demokrasi lainnya banyak sekali partai politik dalam pemerintahannya, sehingga yang sering terjadi adalah tawar-menawar diantara partai dalam kepemimpinannya.

Landasan lahirnya demokrasi adalah sekulerisme yakni pemishaan agama dalam konsep kehidupan dan negara, dengan jalan kompromi mengingkari eksisitensi agama dengan memebrikan kewenangan kepada manusia dalam melahirkan aturan yang syarat akan kepentigan siapa yang berkuasa dan membuat.

Sehingga yang lahir adalah ketidaksesuaian ketika diterapkan dalam kehidupan, memuculkan problem yang tidak penah menemuka titik ujungnya karena manusia bersifat lemah terbatas dalam keberadaanya yang diciptakan atau makhluk.

Kemana lagi demokrasi memperbaiki diri jika asas yang diemban serta konsepsi yang akan diterapkannya saja mengahncurkan dirinya sendiri bagaimana mampu menciptaka kehidupan yang damai dibawah tiraninya ? akankah tetap bertahan atau menunggu dentuman kehancuran yang berapakali lagi ?

Pemerintahan dalam Islam Menjamin Kekuasaan Bijaksana

Negara-negara barat sejatinya memahami kekuatan kaum muslim terletak pada ajaran yang diembannya, menjadi sebab sumber kekuatan dan kesatuan kaum muslim jika aturan terebut diterapkan dalam konsep kehidupan.

Oleh karenanya segala rancangan dan konsep terus diupayakan untuk menekan terterapkannya aturan tersebut, akrena sama saja menungu dan membuka kehancuran kekuasaan meraka atas dunia, itulah ketakutan nyata, bukan konsep islaam sebagai agama namun islam dalam aturan kehidupan.

Negara-negara eropa mulai menggunakan cara dengan merendahkan ajaran islam, menjelakkan hukum-hukumnya, membangkitkan kebencian muslim pada agamanya (islamphobia).

Sebaliknya mereka menampilkan barat sebagai sosok idola yang dibanggakan dengan terus menggemborkan kehebatan peraturan dan undang-undang demokrasi. Dan yang justru paling halus namun melepas keras persatuan umat adalah dengan menyebarkan prasangka bahwa peradaba barat tidak bertentangan sama sekali dengan peradaban islam.

Inilah bentuk nyata sebagai bukti betapa keras usahamereka dlam menyatakan permusuhan dengan Allah dan Rasul, serta para pengemban dakwah islam dengan tujuan menghalangi tegaknya kembali islam dalam naungan negara islam beserta penerapan syariatnya.

“apa saja yang diperintahkan rasulullah kepada kalian laksanakanlah dan apa saja yang dilarang maka tinggalkan (TQS al-Hasyr 57 : 7) dan “ Kami telah menurunkan al-qur’an kepadamu sebagai penjelas segala sesuatu serta sebagaipetunjuk, rahmat dan pemberi kabar gembira bagi kaum muslim (TQSan-Nahl 16 : 38)

Berdasarkan dalil al-kitab tersebut sejatinya islam tidak lahir dengan ibadah saja melainkan konsep aturan, keberadaannya sebagai agama penyempurna. Bahkan kegemilangganya sudah bertahan 13 abad lamanya hampir menguasai seluruh dunia, sejarawan dunia bahkan tidak enafikkan adanya kenyataan tersebut.

Islam memiliki sistem pemerintahan yang bersifat kesatuan atau sentralisasi, sehingga hanya ada satu pemimpin untuk seluruh dunia dengan komando yang sama dengan [pengaturan yang diterapkannya berdasarkan syara” atau aturan pencipta.

Penguasa hanya mencakup empat orang yaitu khalifah (pemimpin), Mu’awin (pembantu atau tangan kanan khalifah), wali (gubernur) dan amii. Kepemimpinan ini bertujuan mengefektifkan jalannya pemerintahan dengan aturan dan konsep pasti serta jelas tersusun detai; rapi.

Buku Nizham Islam Karya Syekh Taqiyuddin menjelaskan sistem pemerintahan islam ditegakkan atas empat fundamental : kedaulatan ditangan syara bukan rakyat, sehingga pasti sumbernya. Kekuasaan berada ditangan umat, pengangkatan khalifah adalah wajib atas seluruh kaum muslim didunia, dan khalifah mempunyai hak melegislasi hukum syara.

Konsepsi ini tidak bisa diterapkan jika kehidupan masih berlandaskan sistem jahiliyah yang menafikan agama dalam pengaturannya. Kejadian disegala penjuru dunia hari membuktikan semakin pekatnya malam maka fajar kemenangan dan sinar kebangkitan itu semakin nyata.

Kerusakan dan kerusuhan yang trejadi butuh solusi hakiki agar tidak menjadi sesuatu pemakluman yang berulang tanpa perbaikan. Saatnya melanjutkan perjuangan dengan keimanan atas kemenangan yang dijanjikan, kepemimpinan peradaban islam untuk seluruh dunia.

Wallahu’alam bishawwab **