Oleh : Reni Adelina

Dengan darah yang menetes di kaki, lelaki tua itu tetap bersemangat membersihkan surau dengan sehelai kain koyak yang ada di gubuknya. Tak berselang berapa lama. Mak Datok pun datang, dalang sesepuh Kampung Sei Sekapur. Dia mematahkan tongkat lelaki pincang itu. Murka amarah karena ritualnya diobrak-abrik lelaki tua pincang dan miskin tadi.

“Apa urusanmu, ikut campur atas ritualku? ” teriak Mak Datok menghebohkan warga. Mendengar gemuruh Mak Datok, warga berbondong-bondong datang menuju surau. Lelaki tua itu hanya bisa menyudut di pojok dinding surau. Sebab lemparan batu yang menghujamnya. Sungguh malang lelaki tua itu.

Namun perjuangan belumlah usai. Dengan sedikit tenaga yang tersisa, lelaki tua itu terseret tertatih menuju gubuknya. Sesampainya di gubuk, lelaki itu membersihkan luka yang berlumur darah dengan obat seadanya. Karena letih yang mendera, ia pun tertidur pulas.

Belum selesai amarah Mak Datok, dengan segerombolan pengikutnya, sangat tega membakar rubuk reot milik lelaki di ujung surau tadi. Memang malang nasibnya, sudahlah luka mendera tempat tinggalpun ikut tiada.

Kondisi gubuk reot tadi sudah ludes terbakar. Nasib baik lelaki tua pincang itu masih bisa terselamatkan. Ia segera melompat dengan tenaga yang sangat minim menuju jurang hutan yang tepat berada di belakang gubuknya.

Bermalamlah ia, bersama penghuni hutan. Tiada harta yang ia miliki, kecuali sehelai baju di badannya. Kusam, koyak, dan bau. Dengan dahaga yang luar biasa, lelaki itu menyereput air yang terdapat di genangan hutan.

Melepas dahaga, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki secara perlahan menghampirinya. Lelaki tua itu terdiam dengan penuh ketakutan. Ternyata….
(Bersambung)