Oleh : Reni Adelina

Melepas dahaga, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki secara perlahan menghampirinya. Lelaki tua itu terdiam dengan penuh ketakutan. Ternyata muncul sosok harimau besar yang menakutkan. Namun sayangnya, kaki harimau itu telah pincang berlumur darah di tembak sang pemburu hutan.

Kondisi nyaris sama. Harimau tadi merintih kesakitan. Matanya berkaca berharap ada keajaiban yang menyembuhkan lukanya.

Lelaki tua itu menggigil ketakutan. Namun rasa iba menghantuinya. Perlahan, setapak demi setapak mendekati sang harimau, lalu mengoyakan baju kusamnya untuk membalut luka harimau. Degub jantung terus meningkat. Lelaki tua itu sangat takut kalau dirinya akan menjadi mangsa harimau tersebut. Sungguh nasib malang bertubi-tubi menimpa lelaki tua itu. Namun siapa sangka, harimau tadi justru menundukan kepala dengan mata berkaca berbinar, mengisyaratkan bahwa ia berterima kasih karena pertolongan lelaki tua itu.
Kendati demikian, lelaki tua itu perlahan meninggalkan sang harimau, mencari jalan keluar agar bebas dari hutan belantara. Namun sang harimau turut mengikutinya dari belakang. Sebagai tanda bakti dan berhutang jasa kepada lelaki tua itu.

Dengan penuh kewaspadaan, lelaki tua itu membawa kayu, sebagai tamengnya, jika sewaktu-waktu harimau itu akan memangsanya.
Karena kebaikan dan ketulusan lelaki tua itu merawat sang harimau. Akhirnya mereka menjalin persahabatan, dan tinggal bersama dalam beberapa hari. Untuk persediaan makanan, sang harimau bertugas mencari mangsa lalu lelaki tua itu mengolah makanan sebisa dan sedapatnya.

Tak berselang lama, lelaki tua itu ingin segara kembali ke kampungnya. Dengan tekad menyadarkan masyarakat sekitar. Berusaha, dan berupayalah dia untuk mencari jalan keluarnya bersama sahabat barunya. Sebuah solusi pun didapat. Dengan….
(Bersambung)