Ditulis : Nunik Umma Fayha

Mush’ab bin Umair. Di masa jahiliyah Makkah, siapa tak kenal dirinya, sang lelaki perlente. Gagah, tampan, anak orang kaya yang selalu tampil trendy. Pintar dan menarik perhatian di mana pun berada. Mungkin bila diandaikan kondisi saat ini mirip dengan mas Al. Aldebaran-nya Andin yang sedang viral itu lo. Wah!!! Mas Al lagi???? Hehehe…..

Memang seperti itulah yang digambarkan tentang penampilan Mush’ab sebelum hijrah kepada Islam. Segala yang diidamkan para pemuda, dia miliki. Perhatian para gadis, orangtua kaya raya yang sangat mencintainya, yang melimpahi dengan semua kemewahan. Aroma wangi parfumnya saja bisa dikenali sebelum dia sampai dan masih menguar setelah dia berlalu. MasyaaAllah.

Sebagai pemuda cerdas dengan pemikiran terbuka, tidak sulit bagi Mush’ab menerima kebenaran. Rusman H. Siregar (kalam.sindonews.com) menggambarkan dengan sangat indah bagaimana Mush’ab saat pertama mendengar Rasulullah menyampaikan Islam. Dikisahkan, ketika Mush’ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Al-Qur’an mulai bergema dari lisan Rasulullah yang mulia.

Di senja itu Mush’ab pun terpesona oleh untaian kalimat indah Rasulullah yang tepat mengenai kalbunya. Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkah dan kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak. Hingga tiba-tiba menjadi sebuah lubuk hati yang tenang dan damai, tak ubah bagai lautan yang teduh dan dalam. MasyaaAllah.

Demikian indahnya Iman Islam masuk ke dalam kalbu suci Mush’ab, dan dia termasuk salah satu sahabat yang pertama dalam memeluk Islam setelah Nabi Muhammad diangkat sebagai Nabi dan menyebarkan agama Islam.

Mush’ab bin Umair berasal dari keturunan bangsawan dari suku Quraisy. Ibu Mush’ab bernama Khunas binti Malik, wanita berpendirian teguh, cukup disegani dan ditakuti hingga diriwayatkan tiada kekhawatiran di hati Mush’ab ketika memeluk Islam selain ibunya sendiri.

Saat ibunya mengetahui keislamannya, maka berdirilah Mush’ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Makkah di rumahnya. Dengan hati yang yakin, Mush’ab membacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan Rasulullah SAW. Ketika sang ibu hendak membungkam mulut puteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur itu jatuh terkulai.

Karena jiwa keibuannya, ibunda Mush’ab terhindar dari memukul dan menyakiti puteranya, tetapi tak dapat menahan diri dari tuntutan bela berhalanya. Akhirnya Mush’ab dikurung dan dipenjarakan di dalam rumahnya. Mush’ab menjalani hukumannya hingga ketika mendengar tentang perintah hijrah ke Habasya, dia berhasil melarikan diri dan ikut berhijrah. Hijrah untuk menyelamatkan akidahnya.

Mush’ab, sang lelaki perlente, telah melepas dunia untuk menjemput keindahan jannah dengan keimanan. Tak ada lagi fasilitas mewah, pun parfum mahal. Hidup dengan kesederhanaan yang berbanding terbalik dengan kesehariannya sebelum berIslam. Pakaiannya lusuh bertambal, kulitnya kering tak terawat, membuat iba para sahabat.

Tapi jangan tanya bagaimana semerbak iman di taman hatinya. Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh cinta dan rasa syukur dalam hati. Pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda: “Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Akhir pertemuan Mush’ab dengan ibunya yaitu ketika ibunya hendak mencoba mengurungnya lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Namun akhirnya sang ibu mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan. Tak ada jalan lain baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush’ab mengucapkan selamat berpisah dengan deraian air mata.

Perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa ibunya dalam kekafiran, sebaliknya keteguhan hati sang anak mempertahankan keimanannya. Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata: “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi”. Maka Mush’ab pun menghampiri ibunya sambil berujar lembut: “Wahai bunda! Aku telah sampaikan nasihat kepada ibu, dan aku menaruh kasihan kepada ibu. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Illah melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”.

Dan Mush’ab memilih meninggalkan semua kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, memilih hidup miskin dan sengsara demi mempertahankan Iman.

Diutus Menyampaikan

Ketika Rasulullah menerima rombongan haji sejumlah 12 orang dalam baiat Aqabah I, Beliau memilih Mush’ab untuk menyertai rombongan Muslimin yang akan kembali ke Yatsrib tersebut. Tugas berat disandangkan pada pundaknya. Tugas mulia mempersiapkan peradaban hebat menanti.

Mush’ab dengan kecerdasan dan kepandaiannya menyampaikan dan membawa diri, menjadi duta yang tepat bagi masyarakat Yatsrib yang sedang membutuhkan oase bagi sejumlah permasalahan yang terus mendera ketenangan hidup mereka.

Kehidupan mereka selama ini yang penuh dendam dan permusuhan akibat tiupan bara dari kaum Yahudi yang mengail di air keruh, membuat sesak dada mereka. Lelah dalam permusuhan dan ketidaktenangan jiwa karena selalu sibuk memikirkan bagaimana mempertahankan diri dari serangan musuh, bagaimana pula agar mampu mengalahkan musuh. Sungguh kehidupan yang melelahkan lahir batin.

Mush’ab dengan didampingi As’ad bin Zurarah mendatangi seluruh majlis yang ada, rumah-rumah dan di mana pun orang berkumpul. Dengan kefasihan lisan, kepandaian dan kelembutan, dakwahnya terus bergulir mengajak manusia pada kebenaran.

Sampailah dakwah Mush’ab pada Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Muadz yang merupakan pemimpin kaumnya. Dengan kekuasaan dan kepemimpinan Sa’ad, seluruh kaumnya menerima Islam dan sejak itu hampir seluruh rumah di Yatsrib bisa dipastikan ada muslim di dalamnya. Semua ini berjalan hanya dalam masa satu tahun. Subhanallah.

Menjelang musim haji berikutnya, Mush’ab menyampaikan pada Rasul perihal kesiapan penduduk Yatsrib mendukung Rasulullah. Bagaimana mereka menerima Islam dengan sepenuh hati. Bagaimana kekuatan dan kekuasaan mereka yang tidak dimiliki muslim di Makkah.

Berita yang tentunya sangat menggembirakan Rasulullah laksana melihat fajar hendak merekah. 75 orang hadir saat baiat dengan 2 orang di antaranya perempuan. Saat baiat Aqabah kedua mereka menyatakan kesanggupan untuk berdiri di belakang Rasul apa pun yang terjadi.

Kebulatan tekad yang kelak mereka buktikan dengan menjadi hamba penolong (Anshar) agama Allah dengan segenap jiwa, raga dan harta. Kaum Anshar tidak banyak tercatat dalam riwayat tapi peran penting mereka menopang dakwah hingga Islam menyebar ke seantero dunia diawali dengan keikhlasan mereka menyerahkan kepemimpinan Madinah pada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

Tidak banyak riwayat Mush’ab setelah diutusnya beliau ke Yatsrib. Akan tetapi Abdurrahman bin Auf, salah seorang sahabat semenjak di Makkah, seringkali menangis bila mengingat kehidupan Mush’ab yang berbanding terbalik setelah menjadi Muslim.

Suatu hari Abdurrahman bin Auf sedang makan bersama para budak dan pekerjanya. Makan makanan yang enak dan lembut. Tanpa terasa menetes airmatanya. Gerangan apa sebabnya. Ternyata pikirannya melayang pada Mush’ab yang dia tahu tidak pernah lagi bisa menyantap makanan enak karena ke-papa-an dan tekadnya menjaga izzah.

Beliau yang dulunya selalu berpakaian mewah, pada akhir hayatnya syahid di perang Uhud, hanya memiliki gamis yang dikenakannya, yang lusuh dan bertambal. Gamis yang dijadikan kafan, yang bila ditarik ke atas nampak kakinya, bila ditarik ke bawah nampak kepalanya. Maka ditutupkan kain itu ke kepalanya, dan kakinya diselubungi dengan rerumputan idzkhir.

Demikian kisah indah hadirnya iman Islam pada seorang Sahabat mulia yang rela meninggalkan dunia demi menjaga iman. Kemewahan dunia hanya semu, kesulitan dunia pun bukanlah hal berat untuk dijalani demi tetap tegaknya iman.

Hidup Mush’ab nampak berat dijalani bagi siapapun yang melihatnya, apalagi bagi kita yang hidup di masa kini, saat uang dan harta menjadi tujuan utama. Tapi kebahagiaan selalu menyertainya dalam dakwah maupun kehidupan. Pun torehan dakwahnya yang tak pupus oleh waktu.

Siroh mencatat tegaknya Madinah sebagai Daulah melalui jalan dakwah, bukan kekerasan. Catatan yang menjadi rujukan para pejuang dalam meniti jalan menunaikan bisyarah Rasulullah. Menegakkan janji Allah. Sebagaimana Mush’ab melakukan dengan fasih dan lembut meraih jiwa-jiwa yang dahaga atas ketenangan dan keadilan. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kisah Mush’ab bin Umair, menjadikannya teladan melangkah di masa penuh fitnah.

Lerenglawu170121
Semoga menyusul episode selanjutnya, aamiin