Oleh : Reni Adelina

Tak berselang lama, lelaki tua itu ingin segera kembali ke kampungnya. Dengan tekad menyadarkan masyarakat sekitar. Berusaha, dan berupayalah dia untuk mencari jalan keluarnya bersama sahabat barunya. Sebuah solusi pun didapat. Dengan bantuan sang harimau kedua makhluk nan pincang ini berhasil keluar dari hutan. Secercah harapan masih bersinar. Sebab ada jalan menuju sebuah perkampungan yang berseberangan dengan Kampung Sei Sekapur.

Perjalanan masih sangat letih. Kedatangan lelaki tua itu bersama sang harimau, ternyata membuat warga ketakutan, tak heran semua pintu rumah dan jendela warga tertutup rapat.

Mereka pun berjalan hening di area perkampungan. Dengan luka yang sudah kering, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke seberang menuju Kampung Sei Sekapur, dengan mengendari kapal pompong yang dibantu nelayan setempat. Untunglah sang nelayan memiliki mental baja. Sehingga berani menatap dan membantu harimau bersama lelaki tua tadi.

Sesampainya di kampung Sei Sekapur, kondisi makin runyam. Bukan saja banyak sesajen, tetapi terdapat patung besar sesembahan sesepuh dan warga pengikutnya. “Sungguh kampung Sei Sekapur adalah kampung jahiliyah yang wajib ada dakwah di dalamya”, begitulah batin yang menghujam di dada lelaki tua itu.

Dengan semangat tekad dakwahnya. Akhirnya lelaki tua itu menuju surau yang menjadi saksi awal perjuangannya. Mak Datok pun kaget karena ia pikir, lelaki tua itu sudah hangus terbakar. Ekspresi Mak Datok pun berubah, dari sosok yang kokoh dan vokal menjadi takut menggigil karena ada harimau di samping lelaki tua itu.
Sontak hal inilah yang menjadi kekuatan baru untuk lelaki tua itu membersihkan surau. Sebab tak ada satu jiwa pun yang berani mendekat. Akhirnya dengan tenang dan perlahan lelaki tua itu membersihkan surau, sang harimau pun menanti setia di depan pintu surau.

Belum usai, lelaki tua itu berhasil mengumandangkan azan dzhur yang pertama kali. Allahuakbar… Allahuakbar….
(Bersambung)