Oleh: Ummu Salman

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa memajukan kesetaraan perempuan di Asia-Pasifik dapat menambah US$4,5 triliun ke PDB kawasan tersebut pada 2025, atau meningkat 12 persen pertumbuhan rata-ratanya.

Program pemberdayaan perempuan terus mendapat perhatian lembaga dunia. Program pemberdayaan dengan gelontoran dana asing diasumsikan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Perempuan didorong untuk beraktivitas secara ekonomi, dan didukung dengan pemberian dan peminjaman dana terhadap mereka
Kemiskinan masal telah mendorong para perempuan untuk terjun bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Mirisnya, terjunnya mereka dalam bekerja kemudian dimanfaatkan untuk ikut menyelesaikan problem kemiskinan yang tak mampu diselesaikan oleh negara.
Kesetaraan selalu diangkat sebagai isu yang menyebabkan perempuan tidak optimal dalam pemberdayaan ekonomi. Pada faktanya bekerjanya perempuan tak pernah menyelesaikan problem kemiskinan struktural ini.

Sebaliknya, malah memunculkan problem baru. Keluarnya perempuan untuk mengejar materi telah menjauhkan mereka dari fitrahnya sebagai perempuan. Perempuan yang harusnya dilindungi, telah dipaksa menjadi tulang punggung yang menanggung beban berat. Betapa banyak problem yang mereka hadapi ketika mereka harus berjibaku dengan pekerjaan mereka. Mulai dari upah rendah, pelecehan di tempat kerja dan lain-lain. Belum lagi problem anak-anak yang kehilangan perhatian ibunya karena ibu harus bekerja.

Patut dikritisi bahwa pertumbuhan ekonomi yang dimaksud, sejatinya bukan bagi kesejahteraan kaum perempuan itu sendiri. Justru dilibatkannya mereka dalam berbagai kegiatan pemberdayaan ekonomi adalah untuk mendongkrak untung bagi kaum kapitalis, bukan menjadi solusi masalah perempuan.

Begitulah sistem kapitalisme, yang telah menjadikan pemberdayaan ekonomi kaum perempuan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kemiskinan, padahal justru semakin membuat kaum perempuan terpuruk dan tidak menyelesaikan masalah mereka.

Pemberdayaan Perempuan Dalam Islam

Berbanding terbalik dengan sistem Islam, perempuan diberdayakan sesuai dengan fitrahnya. Secara fisik laki-laki dan perempuan jelas berbeda, dan perannya pun berbeda. Perbedaan tersebut bukan untuk merendahkan yang satu dan meninggikan yang lain. Perbedaan tersebut agar baik laki-laki maupun perempuan dapat saling bekerja sama untuk menyelesaikan berbagai problem kehidupan. Masalah justru muncul ketika peran ini saling dipertukarkan atau berusaha untuk disetarakan.

Kemiskinan struktural tak lepas dari tata kelola SDA yang keliru. Dalam Islam SDA adalah milik umum yang harus dikelola oleh negara yang hasilnya akan dikembalikan kepada masyarakat. Ketika SDA dikelola dengan benar, maka problem kemiskinan masal akan dapat terselesaikan. Jadi jelas bahwa problem kemiskinan tidak diselesaikan dengan memberdayakan perempuan secara ekonomi.
Pemberdayaan perempuan dalam Islam adalah sesuai dengan fitrahnya yaitu mencetak generasi unggul. Dalam masa keemasan Islam, banyak generasi unggul yang mana lahirnya mereka tak lepas dari optimalnya fungsi ibu. Bahkan tak jarang mereka dibesarkan hanya oleh seorang ibu. Namun kondisi itu tidak membuat mereka menjadi generasi terpuruk, sebaliknya mereka tumbuh menjadi generasi yang membanggakan. Semua itu tak lepas dari peran negara yang memberikan dukungan penuh bagi terlaksananya peran ibu. Inilah pemberdayaan perempuan yang sesungguhnya.
Wallahu ‘alam bishowwab