Oleh: Mariyani Dwi
Anggota Komunitas Setajam

Bencana pandemi Covid-19 belum cukup untuk menghentak kesadaran hati kita. Kini bencana alam yang menimpa negeri tercinta pun tersuguhkan menambah duka lara. Awal tahun yang seharusnya menjadi awal waktu meniti hidup lebih baik, mesti kandas ditelan bencana yang memilukan.

Diantara rentetan bencana alam yang terjadi, satu di antaranya adalah bencana banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 13/1. Bencana ini mengakibatkan 13 kabupaten di kota terdampak, 15 orang meninggal dan sekitar 112.709 orang mengungsi.

Seperti dikutip dari suara.com (15/1/2021), Wahana Lingkungan Hidup) (Walhi) menegaskan bahwa bencana banjir di Kalimantan Selatan dalam beberapa hari terakhir bukan sekadar disebabkan cuaca ekstrim, tetapi juga rusaknya ekologi di Borneo.

Berdasarkan laporan tahun 2020, sudah terdapat 814 lubang tambang milik 157 perusahaan batu bara yang masih aktif bahkan ditinggal tanpa reklamasi. Belum lagi perkebunan kelapa sawit yang mengurangi daya serap air.

Menurut Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono, daya tampung dan daya dukung lingkungan di Kalsel dalam kondisi darurat ruang dan darurat bencana ekologis. Walhi mengaku sudah sering mengingatkan, dari total luas wilayah 3,7 hektar, hampir 50 persen sudah dibebani izin pertambangan dan perkebunan kelapa sawit.

Eksploitasi hutan mengakibatkan maraknya pertambangan dan perkebunan di Kalsel. Hal ini menjadikan Kalsel yang dulu dibanggakan akan hutan lebatnya, kini berubah menjadi perkebunan monokultur sawit dan pertambangan batu bara.

Akar-akar pohon dari hutan heterogen yang seharusnya dapat membantu tanah untuk mengikat dan menyimpan air hujan, kini sudah tak ada lagi. Sehingga banjir pun tak mampu dielakkan.

Sejatinya, bencana alam akibat kerusakan ekologis adalah buah pembangunan dan eksploitasi sekuler kapitalistik. Bagi sistem kapitalistik, manfaat atau keuntungan adalah harga mati yang harus diraih dalam melaksanakan suatu tindakan. Tak terkecuali eksplorasi pembukaan pertambangan dan perkebunanan. Kendati merusak lingkungan, program ini akan terus dijalankan selama menghasilkan manfaat di dalamnya, tak peduli akan derita pihak lain yang terdampak. Asas sekuler melenyapkan rasa kemanusiaan dari hatinya.

Penguasa pun seolah menutup mata, karena fungsinya tak lebih sebagai legislator pengesahan undang-undang bagi pihak yang kuat. Mereka tak mampu berkutik dan berbuat apa-apa bagi pihak yang berada dalam tanggungannya.

Oleh sebab itu, yang kita butuhkan adalah aturan yang mampu membawa kita pada kemaslahatan sejati. Aturan itu adalah Islam. Islam datang untuk memberi rahmat bagi seluruh alam. Aturannya berasal dari sang pencipta alam, sehingga dipastikan akan mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh pihak.

Penerapan aturan Islam bukan hanya berdimensi dunia (materi) semata, tetapi juga bertujuan untuk meraih nikmat akhirat yang kekal dan ridha Ilahi).

Islam mengajarkan betapa pentingnya menjaga keseimbangan alam. Dalam mengelola lingkungan, Islam tidak akan mengabaikan pelestariannya. Meski tak menutup kemungkinan sumber daya alam akan dieksplorasi untuk memenuhi kebutuhan hajat orang banyak. Terkait pengelolaan lingkungan dalam pembangunan eksplorasi sumber daya alam, Islam mengatur beberapa hal.

Pertama, menata ulang sistem kepemilikan. Kepemilikan dibagi menjadi tiga, yaitu kepemilikan individu, negara, dan umum. Sumber daya alam adalah termasuk kepemilikan umum. Maka Islam mengharamkan kepemilikan umum diserahkan kepada individu, swasta atau asing. Negara harus mengelolanya untuk kepentingan umum. Kendati individu boleh memanfaatkan atau mengambilnya, sebatas untuk memenuhi kebutuhannya, bukan untuk mencari keuntungan dengan mengeksploitasi. Dengan langkah ini, kita akan terhindar dari maraknya eksploitasi besar besaran untuk kepentingan sebagian komunitas semata.

Kedua, Islam mengajarkan kepada kita untuk mencintai alam dan lingkungan Abu Bakar Ra. berpesan ketika mengirim pasukan ke syam, “…Dan janganlah kalian menenggelamkan pohon kurma atau membakarnya. Janganlah kalian memotong binatang ternak atau menebang pohon yang berbuah. Janganlah kalian meruntuhkan tempat ibadah. Janganlah kalian mumbunuh anak anak, orang tua, dan wanita.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya mencintai alam dan melindunginya.

Ketiga, negara akan mengkaji, memetakan dan menyesuaikan pembangunan insfratruktur dengan topografi dan karakter alam di wilayah tersebut. Negara akan memetakan wilayah nama yang pas untuk eksplorasi tambang, pertanian, dan perkebunan tanpa mengabaikan AMDAL di dalamnya. Sebab kekayaan alam ini dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat, bukan diperjualbelikan sebagaimana pandangan kapitalis.

Nah, ini semua hanya akan terealisasi dalam negara yang menerapkan sistem Islam kafah, yakni daulah khilafah ‘ala minhaji nubuwwah.

Wallahu a’lam bishawwab