Oleh: Novia Azzahra
Aktivis Kampus

Kehidupan manusia adalah anugerah tak terhingga yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Allah Swt menghargai satu nyawa manusia lebih tinggi dibandingkan langit dan bumi beserta isinya. Dengan anugerah kehidupan, manusia dapat menjalani keinginannya. Namun, di masa pandemi ini betapa banyak nyawa dan kehidupan yang berguguran.

Ketika pandemi Covid-19 merebak sejak Maret hingga akhir Desember 2020, tercatat 504 tenaga kesehatan meninggal akibat Covid-19. Dari jumlah itu, 252 di antaranya adalah dokter, 171 perawat, 64 bidan, 7 apoteker, dan 10 tenaga laboratorium medik. Rincian dari 252 dokter adalah 15 dokter gigi, 101 dokter umum (empat guru besar), 131 dokter spesialis (termasuk tujuh guru besar), serta 5 residen.

“Kenaikan ini merupakan salah satu dampak dari akumulasi peningkatan aktivitas dan mobilitas yang terjadi seperti berlibur, pilkada dan aktivitas berkumpul bersama teman dan keluarga yang tidak serumah,” ucap Adib (kompas.com, 2/1/2021).

Miris sekali. Di tengah wabah Covid-19, banyak tenaga kesehatan yang berguguran. Seharusnya tenaga kesehatan menjadi prioritas utama yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Banyaknya tenaga kesehatan yang meninggal akan membawa dampak kerugian yang besar bagi negeri ini. Beban kerja bagi tenaga kesehatan yang tersisa semakin berat karena kian hari kasus Covid-19 semakin bertambah. Tentunya hal ini akan berpengaruh pada kinerja penanganan wabah itu sendiri.

Berdasarkan fakta di lapangan, kematian tenaga kesehatan bisa diakibatkan karena longgarnya peraturan pemerintah terhadap penanganan Covid-19 dan kebanyakan rakyat abai akan pentingnya melaksanakan protokol kesehatan.

Di saat pandemi belum terkendali, banyak tempat pariwisata yang dibuka. Apalagi saat liburan akhir tahun. Banyak warga berlibur ke tempat pariwisata dan mengunjungi saudara di luar kota. Selain itu, pemerintah mengadakan pilkada (pemilihan kepala daerah) dan aktivitas berkumpul bersama teman dan keluarga yang tidak satu rumah. Jelas hal ini mengakibatkan lonjakan kasus Covid-19.

Pemerintah seharusnya bisa meminimalisir hal tersebut dengan kebijakan-kebijakan yang tepat dan tegas. Seperti melakukan pembatasan aktivitas, karantina wilayah (lockdown). Kondisi yang buruk ini tidak lepas dari paradigma sistem kepemimpinan yang diterapkan saat ini yaitu sekulerisme kapitalisme. Di mana kebijakan yang diambil berorientasi pada untung dan rugi dari suatu materi bukan kemaslahatan rakyat.

Kondisi ini sangat berbeda dengan sistem Islam. Negara bertugas sebagai penanggung jawab dan pengurus kebutuhan umat. Islam membentuk kesadaran “ruhiyyah” yang mendorong pemerintah untuk menyediakan hak-hak rakyat dengan pelayanan yang baik dan hati-hati. Negara menjaga kehormatan, jiwa, harta dan keselamatan rakyat dalam mengambil kebijakan.

Selain itu, negara dalam Islam menganggap bahwa kesehatan adalah kebutuhan primer rakyat yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Sehingga negara memberikan jaminan kesehatan pada seluruh rakyat secara gratis tanpa ada kelas dan perbedaan dalam memberikan layanan kepada rakyat. Seluruh rakyat dapat mengakses fasilitas kesehatan dengan mudah. Pelayanan diberikan mengikuti kebutuhan medis, bukan dibatasi oleh plafon.

Sebagaimana dahulu Rasulullah saw., sebagai kepala negara, beliau menyediakan dokter gratis untuk mengobati Ubay. Ketika Nabi saw. mendapatkan hadiah seorang dokter dari Muqauqis, Raja Mesir, beliau menjadikan dokter itu sebagai dokter umum bagi masyarakat (HR Muslim).

Demikian juga saat menjadi khalifah, sahabat Umar bin Khaththab Ra. juga menyediakan dokter gratis untuk mengobati Aslam (HR Al-Hakim).

Demikian Islam menjaga dan mengurusi rakyat. Hanya dengan kembali menerapkan Islam secara menyeluruh, persoalan wabah Covid-19 dan berbagai masalah bisa diselesaikan seizin Allah Swt. Karena peraturan dalam Islam bukan buatan manusia, melainkan buatan Allah Swt.

Wallahu a’lam bishawwab