Oleh: Ummu Irul

Dengan bergantinya tahun, sebagai seorang Muslim, sekaligus bagian dari rakyat negeri ini, tentu kita memiliki harapan di tahun 2021. Satu di antara harapan itu adalah terwujudnya keluarga “sakinah ma waddah wa rahmah” (keluarga penuh ketenangan, cinta dan kasih sayang).

Hubungan antar anggota keluarga terjalin erat dengan penuh cinta dan kasih sayang, saling menghormati dan saling menyayangi. Orang tua merawat dan menyayangi anak-anaknya dengan tulus, hanya mengharap pahala dari Allah Swt. Anak-anak juga taat kepada Allah dari kecil hingga dewasa, menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tuanya, dan memiliki berbagai perilaku sholih lainnya.

Namun apa yang terjadi di hadapan kita, seakan memupus harapan tersebut. Betapa tidak! Di awal bulan tahun ini saja, sudah ada seorang anak yang melaporkan ibu kandungnya sendiri, hingga ibunya terancam di penjara. Pasalnya sang ibu telah melakukan tindakan tidak menyenangkan terhadap diri sang anak.

Sementara pada kasus yang lain, ada seorang ibu menganiaya anaknya sendiri yang baru kelas satu SD hingga meninggal dunia, disebabkan sang anak telah membuat ibunya jengkel, tidak bisa belajar daring.

Tentu masih banyak peristiwa serupa yang tersebar di seluruh wilayah negeri Jamrut Katulistiwa ini, sepanjang tahun lalu. Kejadian ini diibaratkan bagaikan gunung es yang tampak baru sebagian puncaknya saja. Bagian dasarnya yang tidak terlihat lebih banyak lagi.

Hal ini menjadikan kita berfikir, mengapa keluarga-keluarga penduduk negeri ini seakan-akan jauh dari ketenangan dan kasih sayang, khususnya antara orang tua dan anaknya?

Jika kita telusuri, ada beberapa hal yang menyebabkan hilangnya kasih sayang antara orang tua dan anak, yaitu :

  1. Hilangnya Fungsi Keluarga
    Tidak bisa dipungkiri, sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) telah berhasil memandulkan fungsi keluarga yang hakiki.

Ada delapan fungsi keluarga:
Pertama, fungsi reproduksi (dari keluarga dihasilkan anak keturunan yang sah). Kedua, fungsi ekonomi (keluarga sebagai kesatuan ekonomi mandiri, anggota keluarga mendapatkan dan membelanjakan harta untuk memenuhi kebutuhan).

Ketiga, fungsi sosialisasi (keluarga memperkenalkan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat). Keempat, fungsi protektif (keluarga melindungi anggota keluarganya dari ancaman fisik, ekonomis dan psiko sosial).

Kelima, fungsi rekreatif (keluarga sebagai pusat rekreasi bagi anggota keluarga). Keenam, fungsi afektif (keluarga memberikan kasih sayang). Ketujuh, fungsi edukatif (keluarga memberikan dan bertanggung jawab atas pendidikan anggota keluarganya). Kedelapan, fungsi religius (keluarga memberikan pengalaman keagamaan kepada para anggota keluarga).

Dari kedelapan fungsi keluarga ini, fungsi yang pengaruh “hilangnya kasih sayang” bisa secara langsung kita rasakan adalah tidak adanya fungsi afektif (kasih sayang) dan fungsi religius (keagamaan) di tengah keluarga. Ketika kasih sayang sudah tidak ada di tengah keluarga, hubungan di antara anggota keluarga akan terasa hampa, “gersang”, dan tidak bahagia.

Terlebih lagi, ketiadaan fungsi afektif ini didukung oleh ketiadaan fungsi relegius di tengah keluarga. Maka hubungan yang ada hanya sebatas hubungan “saling memanfaatkan”. Standar yang ada dalam keluarga tersebut hanya keuntungan secara materi. Kedekatan hubungan hanya dijalin jika dirasa ada keuntungan duniawi di dalamnya.

  1. Pudarnya budaya saling menasehati di tengah masyarakat. Tak bisa dipungkiri, kini masyarakat sudah sangat individualis, baik yang tinggal di pelosok desa maupun perkotaan.
  2. Ketiadaan peran negara, yang mendorong masyarakat untuk saling berkasih sayang di antara anggota keluarga. Hal yang kini terjadi, negara justru memproduksi aturan yang menghilangkan rasa kasih sayang di antara mereka. Ambil contoh, undang-undang KDRT atau RUU PKS. Jika aturan itu benar-benar dipraktikkan, kasih sayang antara orang tua dan anak di negeri ini akan ambyar dan musnah, tak tersisa.

Jika demikian, apa yang harus kita lakukan agar kasih sayang di antara anggota keluarga bisa terwujud kembali? Kaum muslimin dan keluarga mereka harus mengambil Islam secara kafah.

Islam Kaffah Mewujudkan Keluarga Penuh Kasih Sayang

Peran keluarga di dalam Islam menduduki posisi penting. Sebab di keluarga-lah seorang manusia mendapatkan pendidikan dan pengajaran utama dan pertama dalam menjalani kehidupannya sejak kecil hingga dewasa.

Islam memerintahkan orang tua dalam keluarga muslim untuk memenuhi perintah Sang Pencipta,
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Dengan memenuhi perintah Allah tersebut, fungsi afektif (memberikan kasih sayang) dan religius (pendidikan dan pengajaran agama) dalam keluarga telah terwujud.

Anak-anak juga memiliki kewajiban untuk berbakti dan memberikan kasih sayang kepada orang tuanya secara tulus (ikhlas), sebagaimana firman Allah,

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isro‘ : 23)

Allah juga memerintahkan kepada kaum muslimin agar mengambil syariat Islam secara kafah, baik yang mengatur individu, masyarakat maupun negara. Baik di bidang politik, ekonomi, sosial-budaya maupun pertahanan keamanan. Seluruh aspek kehidupan tersebut harus sesuai Islam.

Allah berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syetan.” (QS. Al-Baqarah: 208)

Dari firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 208 tersebut, orang beriman harus memakai syariat Islam dalam menyelesaikan seluruh permasalahan hidupnya.

Dan hal tersebut tidak bisa terwujud tanpa adanya sebuah institusi negara yang menaunginya. Sedangkan negara yang bisa mewujudkan Islam kafah hanya Negara Islam (Daulah Islam), sebagaimana yang telah dicontohkan dan dipraktikkan Rasulullah saw. Dia-lah khilafah.

Hanya khilafah yang mendorong seluruh penduduknya untuk taat kepada Allah, baik dia sebagai anak maupun orang tua, sehingga tercipta keluarga penuh kasih sayang. Khilafah juga membuat dan menerapkan sanksi tegas bagi siapapun yang melanggar syariat Islam.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai tanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari)

Dengan demikian, khalifah akan menerapkan aturan berdasarkan perintah Allah dan Rasul-Nya, dalam menjalankan amanahnya sebagai pemimpin umat.

Wallahu a’lam bishawwab